
"Aaagghh!" Vena meringis sesah berada di bawah Leon.
Sementara Leon dihadapi oleh pemandangan luar biasa dari tubuh yang selalu tertutup oleh jas dengan rapi itu.
"Pergi!" rutuk Vena mengusap kepalanya yang kesakitan luar biasa terbentur pada lantai yang telah menghitam.
Leon menyadari itu, ia segera membantu Vena, tetapi tiada henti memandangi bagian-bagian indah yang terpampang di depan matanya.
Vena menutupi bagian dada dengan blezer yang tadinya melorot. "Apa yang kau lihat, hah? Pergi sanah!" rutuk Vena meski sekujur tubuhnya saat ini merasakan kesakitan yang luar biasa.
Leon tidak mengubris ucapan Vena, dia segera menarik Vena hingga berhasil duduk dengan sempurna. "Apa kamu baik-baik saja Nona Galak?"
Vena kembali menutupi bagian tubuhnya dengan blezer yang tidak dikancingkannya. Hingga menampilkan dalaman yang ketat, membuat semua mata pria menjadi nyalang.
Vena masih memasang muka masam. Ia tak menjawab pertanyaan Leon, tetapi matanya mulai liar melirik ke segala arah. Mulutnya masih terdengar ringisan pada setiap gerakan.
__ADS_1
[ Penyembuhan pada tubuhmu diaktifkan. ]
Beberapa detik kemudian, rasa sakit yang ia rasakan pada sekujur tubuhnya, kini mulai menghilang. Ia bangkit dengan gerakan ringan, sehingga membuat Leon menganga.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Vena menepuk kedua tangan yang terasa penuh oleh debu. Kepalanya liar berputar melirik ke segala bagian gelap pada rumah yang tampak sangat mengerikan itu.
"Vena, apa kamu tidak mendengar pertanyaanku?" Leon yang merasa tidak digubris, masih cukup percaya diri dalam menanyakan keadaan sang kekasih.
"Menurutmu, aku bagaimana?"
"Sepertinya kamu perlu berlindung di bawah tubuhku lagi," ucap Leon bersiap mendekap tubuh Vena.
Vena refleks menyambut Leon dengan siku yang telah membentuk sudut lancip.
__ADS_1
"Aaaghhtt ...." Kali ini terdengar ringisan dari mulut Leon, karena ia baru saja mendapat serangan perlindungan diri dari seorang gadis, meski sudah tidak bisa dikatakan belia, lagi.
'Ini cerita dari mana juga? Kenapa malah ada pria semacam ini dari cerita yang aku tulis? Padahal, fokus ceritaku pada protagonis wanita bernama Elsa, protagonis pria bernama Fernando Jose, dan antagonis yang aku perankan ini bernama Rivena Claudya.'
[ Cerita yang saat ini kamu mainkan sudah berubah. Tak ada lagi Vena sebagai antagonis! Yang ada hanyalah Vena, yang dielukan semua orang. ]
[ Nah, sistem akan memandumu untuk kembali menjadikan Rivena Claudya sebagai antagonis! Makanya diberi peran baru, agar kamu bisa mencoba menjadi antagonis dalam cerita yang kamu tulis. ]
'Terserah lah, Sist. Kau membuatku pusing lama-lama ya? Jangan salahkan aku jika rencanamu tidak sesuai ekspektasi!'
Vena mulai memasang aktingnya menyusuri lokasi yang akan ia fokuskan sebagai latar rumah hantu yang akan mereka garap bersama. Ia berjalan dalam gelapnya malam, diikuti oleh Leon yang mengawasi tindakannya dari belakang.
Jiwa Laura yang sebenarnya seorang penakut, terpaksa kali ini dilemparnya jauh-jauh demi menjadi seorang Rivena Claudya.
Meski takut, ia menyembunyikan itu semua, supaya tidak dicerca oleh target misi berikutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Vena tersentak merasa ada gelagat aneh dari orang yang berada di belakangnya. Tangan pria itu, ditautkan pada genggamannya, hingga membuat Vena salah tingkah.
"A-apa yang kamu lakukan?"