Sistem: Antagonis Kejam

Sistem: Antagonis Kejam
28. Kedatangan Leon


__ADS_3

"Nona Cindy, kenapa kamu malah merenung begitu?" tanya Tuan Adam menjentik jemari tepat di depan wajah Cindy.


"Oh, eeh ... Maaf, Tuan Adam. Saya hanya terpikir sesuatu saja."


Tuan Adam memutar badan, melirik Cindy dengan sejenak. "Semoga saja Vena sudah sampai sebelum Leon dan Jouras datang." Tuan Adam mulai melangkah. Setelah beberapa langkah, dia kembali lagi menuju meja Cindy.


"Kalau Leon dan Jouras sampai lebih cepat, kamu layani mereka dengan sebaik mungkin hingga Vena kembali ke sini."


Cindy menundukkan kepalanya dengan hormat. "Baik, Pak. Akan saya laksanakan jika mereka lebih duluan sampai ke sini. Jika Bu Vena yang duluan sampai, maka saya akan memberitahukan beliau."


"Ck!" Tuan Adam memberikan kode pada jemari jempol dan telunjuk yang mengarah padanya, tepat sasaran.


"Bagus ... Kalau begitu, saya akan pergi dan tidak akan khawatir lagi."


Tuan Adam benar-benar beranjak keluar. Saat berada di lobi kantor, ia bertemu denga Elsa. Elsa langsung berhenti membungkukkan kepala tanda penghormatannya kepada ayah sang atasan.


Tuan Adam berlalu, menyisakan heran pada wajah Elsa. "Tumben sekali Pak Boss datang ke sini. Dalam rangka apa kira-kira?" Elsa segera memuju ruangan kerja Vena.


Saat melewati meja Cindy, sang asisten mencegatnya untuk masuk. "Nanti saja! Bu Vena sedang berada di luar," terang Cindy.


Elsa mengerti dan memutar tubuhnya. "Kalau begitu, saya kembali ke ruangan kerja. Biar saya tunggu beliau sembari melakukan pekerjaan yang harus selesai siang ini," ucap Elsa menuju ruang kerjaanya.

__ADS_1


Cindy memandangi punggung Elsa menghilang berbelok pada sebuah ruangan. Cindy mengggelengkan kepala melanjutkan menyusun laporan dan data yang akan disampaikan kepada Vena.


Beberapa waktu suasana terdengar sunyi karena tidak ada orang yang mencari Vena seperti biasa. Tepat dua jam setelah itu, terdengar langkah kaki dari beberapa orang mendekat pada ruang kerja Vena.


Cindy melirik beberapa orang yang kini tepat berasa di hadapannya. Cindy bangkit lalu menyambut orang-orang tersebut.


"Selamat siang, bapak-bapak? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Cindy dengan sopan.


"Kami semua ingin bertemu dengan Presdir Vena. Apakah dia ada di dalam?" tanya salah satu dari mereka yang terlihat paling tua dibanding yang lain.


"Maaf, Pak. Apakah sudah membuat janji?" tanya Cindy dengan hati-hati.


"Oh, tentu. Tadi pagi saya sudah menghubungi sekretarisnya. Apakah itu kamu?" tanya pria yang paling tua dibanding yang lain.


"Yah, saya Jouras, dan ...." Pria yang bernama Jouras itu merangkul pundak pria yang terlihat sangat tampan. "Ini anak saya, Leon, dan mereka adalah tim dari multiguna plus. Kami di sini ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan kalian ini." terang Jouras panjang lebar.


Tatapan Cindy tak beralih sedikitpun dari seseorang bernama Leon. 'Gila? Setampan itu dibilang aneh bin ajaib? Jadi, Bu Vena itu sukanya sama yang kayak apa lagi?'


"Ekheeemm ...." Tuan Jouras memecahkan lamunan Cindy.


"Apa ada yang menarik pada wajah Leon?" goda pria berumur itu hingga membuat Cindy salah tingkah.

__ADS_1


"Oh tidak, Pak. Saya hanya kagum saja dengan kesolidan anggota kru yang kalian bawa." Cindy membukakan pintu ruang kerja Vena.


"Presdir Vena sedang keluar karena ada urusan pekerjaan. Jika Anda bersedia, kalian boleh menunggu di ruang kerja beliau. Dia sudah berpesan kepada saya mempersilakan kalian menunggu di dalam."


Leon berjalan masuk ke dalam ruang kerja Vena begitu saja. Wajahnya sumringah memandangi segala bagian yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Silakan duduk dengan senyaman mungkin hingga Presdir Vena datang. Saya akam menyiapkan minuman untuk kalian semua." Cindy mohon diri segera menuju dapur.


Elsa pun turu membantu menyiapkan minuman tersebut merasa heran dengan sikap Cindy. "Bukan kah biasanya ini adalah pekerjaan OG?"


"Ekheem ... Sekali-kali aku yang menyiapkan, tidak apa-apa bukan?" sela Cindy.


"Wah, wajahmu terlihat merah bagaikan tomat yang sudah ranum. Apakah ada pria yang menarik di dalam sana?" Leher Elsa memanjang mencoba meneroka hingga ke dalam ruangan tersebut.


Setelah menyelesaikan menyiapkan beberapa cangkir minuman hangat, Cindy menyerahkan wadah yang membawa itu semua kepada Elsa.


"Loh? Kok aku?" tanyanya heran.


"Iya ... Kamu aja. Aku tidak bisa. Tanganku tremor jika terlalu gugup seperti ini." ucap Cindy.


Reaksi Cindy yang dianggap terlalu berlebihan membuat Elsa turut penasaran. Seperti apa pria yang membuat karyawan kepercayaan Presdir Vena ini bisa beraksi seaneh ini.

__ADS_1


Dengan tenang, Elsa membawakan minuman, dan Cindy membawakan sedikit cemilan untuk teman menunggu di ruangan pimpinan utama perusahaan ini.


Saat memasuki ruangan tersebut, semua mata pria yang berada di sana fokus menatap Elsa begitu juga dengan Leon.


__ADS_2