
"Aku tidak butuh rasa kasihan darimu. Ke mana saja kamu selama ini? Dari mana kamu mengetahui aku tinggal di sini?"
Elsa hanya menyunggingkan senyum tipis menaruh semua makanan yang dibawakannya untuk Fernando Jose. "Apa kamu lupa, aku bekerja dengan siapa?"
Pria yang mengalami hal yang besar hingga ia jatuh dalam ke dasar itu, kini tak bergeming. Ia sudah bisa membayangkan siapa yang berada di balik ini semua.
"Wanita itu, dan dia lah yang membuatmu menjauh dari—"
"Kita tidak dalam posisi untuk saling menyalahkan. Semua itu telah berakhir!" sela Elsa, tidak memberikan ruang kepada Fernando Jose membuat seorang junjungannya menjadi tercela.
"Ya ... Aku sampai lupa bahwa kamu sudah lebih dari sekedar saudara dengannya. Bagaimana pun mengatakan segala kenyataan, kamu akan tetap membelanya." Fernando Jose masih merasakan buncahan amarah atas segala yang terjadi padanya.
"Sepertinya, kamu menyalahkan segala yang menimpamu adalah karena kesalahannya." Elsa terdiam memandangi Fernando Jose dengan sejenak. "Ubah lah pola pikirmu itu."
"Lalu mau kamu aku ini harus bagaimana?" bentaknya.
__ADS_1
"Yaaa, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ke sini karena permintaannya."
Fernando Jose kembali hening. Ia teringat akan segala perselisihan-perselisihan yang dialaminya dengan Vena. Semua itu berawal karena ia ingin membela Elsa, yang baru saja mendapat jebakan dari Vena.
Kecurigaannya terhadap Vena telah membayar orang untuk melakukan tindak kejahatan pun kini benar-benar telah terkubur. Namun, rasa bencinya terhadap Vena belum juga padam.
Dia hanya berpura-pura baik untuk menutupi kebusukannya selama ini. Aku harus memperingatkan Elsa untuk selalu waspada terhadapnya. Namun, aku takut ... Elsa akan membenciku gara-gara dianggap memf*tnah orang yang telah dijunjungnya akhir-akhir ini.
"Dari pada aku menunggu jawaban tanpa kepastian darimu begini, lebih baik aku pergi. Yang penting, aku sudah mengutarakan maksud Bu Vena untuk mengajakmu bekerja sama kembali dengannya." Elsa bangkit dan menarik tas yang dibawanya tadi.
Fernando Jose masih merenung dalam diamnya menatap kepergian Elsa, sudah hampir sampai pada pintu yang masih terbuka lebar.
Elsa mematung menunggu tanggapan pria yang pernah menjadi kekasihnya dulu. Dia masih menunggu jawabannya, tanpa memutar tubuhnya.
"Apa kamu yakin, Elsa benar-benar menginginkanku kembali?"
__ADS_1
Elsa masih dalam diamnnya Kali ini dia benar-benar memilih agar Fernando Jose sendiri yang mengutarakan keinginannya tanpa ada ungsur paksaan.
"Ah ..." Pria yang berdiri di belakangnya ini ragu, memutar otak untuk menyampaikannya dengan cara elegan.
"Mau nggak? Jangan lama-lama! Aku masih ada pekerjaan penting di kantor." ucap Elsa gusar.
"Baik lah. Aku akan kembali bekerja sama dengan perusahaan perfileman yang dipimpin oleh Vena itu."
Elsa mengembangkan senyumannya. Dia memutar tubuhnya kembali dan ternyata Fernando Jose berada tepat di belakangnya. Elsa meletakkan tangannya di bahu pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Baik lah, sampai berjumpa lagi keesokan hari. Kami akan menunggumu di sana. Jangan sungkan untuk kembali."
Fernando Jose menghela sedikit napasnya. Ia merasa sangat kwahatir dengan reaksi Vena saat bertemu dengannya nanti. Lalu bagaimana tanggapan semua karyawan di sana? Jelas dalam ingatannya bahwa semua orang melihat surat yang ditulis sendiri dilemparkan langsung kepada wanita itu.
"Kamu tak usah khawatir. Bu Vena sudah berbicara langsung kepada seluruh karyawan, untuk menyambut kamu dengan baik. Beliau bukan orang yang perlu ditakutkan seperti dulu-dulunya. Saat ini, dia adalah orang yang sangat pantas kita kagumi."
__ADS_1
Pujian yang tak pernah habis terus dilontarkan oleh Elsa. Hingga membuatnya merasa ada sesuatu yang aneh dengan Elsa.
"Kamu menyukai dia?"