
"Ya ... Dia pantas disukai. Dia baik, berwibawa, tegas, cekatan, pemimpin yang baik—"
"Aaaaaggh! Aku bosan kamu selalu saja memujinya! Seandainya orang kamu puji itu adalah aku?"
Elsa pun menatap Fernando Jose dengan dalam. Setelah itu ia mengangguk dan melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi. "Aku sudah meninggalkan sejumlah uang untukmu. Kami akan menunggumu di kantor esok pada waktu yang sudah ditentukan oleh Bu Vena."
Kali ini Elsa benar-benar melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Fernando Jose memperhatikan langkah panjang yang terus bergerak menjauh itu dan tak terniat lagi untuk menghentikannya.
"Elsa, kamu bukan orang yang aku kenal dulu."
*
*
*
"Bagaimana jadwal hari ini? Home produksi mana lagi yang akan menjalin kerja sama dengan kita?" Vena duduk di tengah kursi kerja kesayangan yang bisa berputar.
Cindy, sang asisten pribadinya membuka catatan yang memang selalu disiapkannya untuk menghadapi pertanyaan sang atasannya ini.
"Hari ini producer Multiguna Plus akan datang ke sini, Bu. Mereka ingin mengajak perusahaan kita bekerja sama dalam penggarapan Film Horor yang diangkat dari sebuah novel. Seperti karya-karya yang Anda beli beberapa waktu lalu."
"Karena hasil penayangan dan ratingnya bagus, membuat mereka tertarik bekerja sama dengan kita dalam pembuatan film horor."
__ADS_1
Vena menyilangkan kaki, memainkan pulpen mahal digaruk pada pelipisnya. "Siapa yang menjadi producer-nya?"
"Orangnya masih sangat muda, Bu. Usianya tidak jauh beda dengan Anda.," terang Cindy. Cindy membuka kembali catatannya mencari sebuah nama yang yang katanya tidak asing di dunia produksi film di tanah air ini.
"Nama producernya adalah—"
"Tunggu! Ada panggilan masuk!" sanggah Vena langsung menjawab panggilan tersebut.
"Oh ... Sekarang juga? ... Baik lah, aku akan segera ke sana." Setelah panggilan ditutup, Vena langsung menarik tas nya.
"Bu, bagaimana dengan Multiguna Plus?" tanya Cindy melihat punggung sang pimpinan semakin menjauh meninggalkan ruang kerja yang luas ini.
"Nanti kita bicarakan lagi!" teriaknya dari arah luar ruangan.
"Ekheeem ...."
Sebuah deheman datang mengejutkan wanita yang bekerja untuk Vena. Cindy langsung tegap menundukkan kepala saat melihat kehadiran seseorang yang kehormatannya melebih Vena, sang presiden direktur.
"Di mana anak itu?"
"Maaf Tuan Adam, Bu Vena baru saja keluar dari kantor ini," jelas Cindy dengan sangat hormat.
"Hmmmmff, dia sengaja menghindariku ternyata." sungut Tuan Adam.
__ADS_1
Cindy membukakan pintu ruang kerja milik Vena. "Kalau Anda mau menunggu, bisa menunggu di dalam saja. Saya akan meminta OG untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan." tawar Cindy.
"Hmmm ... Tidak usah. Nanti saya akan kembali lagi. Tadinya saya mau memberitahukan bahwa Leon akan datang ke sini bersama ayahnya membicarakan masalah bisnis."
Kedua alis mata Cindy naik. "Leon? Producer Multiguna Plus?"
"Iyak, tepat sekali. Ayahnya adalah teman saya yang bernama Jouras."
Cindy mengangguk mendengar penjelasan Tuan Adam.
"Jadi, dia lah orang yang berkencan tadi malam dengan Vena," terang Tuan Adam kembali.
"Apa? Jadi dia?"
Cindy teringat kembali akan tanggapan Vena saat baru sampai di kantor tadi pagi. "Sumpah, aku tidak mau lagi menemui orang itu," ucapnya tadi pagi.
"Kenapa, Bu?"
"Pria bernama Leon itu terlalu aneh bin ajaib dan sangat mencurigakan."
...****************...
__ADS_1