
Leon menyeringai mengusap kedua tangannya masuk ke dalam genggaman. "Selamat malam, Nona sombong. Aku sudah beberapa kali mendengar cerita tentangmu. Namun, aku tidak menyangka kamu lebih dari yang aku duga," ucapnya dengan sangat ceria.
Vena memandang Leon dengan wajah heran. Peringatan dari Sistem, di luar dugaannya. "Sudah lah! Jangan berpura-pura di hadapanku. Meski kamu berdramatisasi seperti apa pun, aku tahu bagaimana watakmu sebenarnya." ucapnya dingin.
"Ha ha ha, Nona Vena. Kamu terlihat semakin menggemaskan saat marah." Leon berjalan mendekat pada Vena.
Beberapa kali Leon menepukkan tangan dan alunan musik klasik terdengar mengalun dengan syahdu.
Dia menundukkan kepala menengadahkan tangan kanannya tepat di samping Vena. "Ayo, menari lah denganku!"
'Sistem, bagaimana ini? Dia mengajakku menari? Aku tidak bisa menari,' ucapnya di dalam hati.
[ Kenapa tidak mencoba. Bukan kah kamu akan menjahatinya? ]
"Hmmmff ..." Vena mendengkus mendengar ucapan Sistem yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Vena kembali melirik tangan yang masih terbuka menunggu ia menyambutnya. Vena mendorong tangan itu. "Apaan sih? Aku ini tidak bisa menari sama sekali!" bentak Vena.
Leon mengerucutkan wajah, terlihat jenaka. "Aku tahu, kamu pasti sedang merendah diri?" Leon mulai berlaku lebih agresif lagi.
Kali ini ia tak lagi menunggu Vena untuk menyambut tangannya. Ia langsung berdiri di belakang Vena mengangkat kedua lengannya dan wanita cantik itu berdiri dengan mudahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Mia mulai protes karena tingkah pria yang baru ditemuinya ini.
"Aku tahu kamu itu adalah orang yang sangat pandai berdansa." Leon menarik tangan Vena menuju pada lantai yang disiapkan khusus untuk berdansa.
"Kamu sungguh sangat suka memaksa orang ternyata?" Vena mencoba melepaskan dirinya dari genggaman tangan Leon.
"Ya, aku sudah mengenal bermacam-macam tipe wanita di dunia ini. Setidaknya aku menyimpulkan bahwa kamu adalah tipikal yang mau melakukan sesuatu dengan cara dipaksa dulu. Kalau menunggu hingga kamu bersedia, maka ... Mungkin hingga kiamat datang, aku tidak akan mendapat kesempatan itu."
Leon berpindah posisi berdiri di depan Vena. Dia menggerakkan kedua tangan Vena ke kiri dan ke kanan. Vena hanya berdiri mematung meski Leon terus mempermainkan tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan.
Musik yang tadinya hanya berupa musik klasik, tiba-tiba berubah menjadi musik India. Suara gendang bertalu-talu membuat Leon berjoget ala tarian India. Ia melompat-lompat sambil menggerakkan tangan naik turun bergantian kiri dan kanan.
Vena memutar bola matanya melihat tarian konyol yang dimainkan Leon. Suara lengosan terdengar panjang dengan mata terbelalak menggelengkan kepala. Suara gendang terdengar semakin semarak, membuat semua tamu restauran yang ada di dalam hotel itu mengintip pada bagian VIP yang sengaja disewa khusus oleh Leon.
Vena menyadari semakin lama orang-orang semakin ramai mengintip apa yang terjadi di ruangan ini dari luar. Vena membuang mukanya membelakangi bagian pintu kaca bening itu. Di sana ada beberapa rekan kerja dari beberapa perusahaan perfileman dan periklanan sedang melakukan ritual makan malam di tempat itu.
Vena yang merasa malu akan aksi jogat joget yang dilakukan Leon, memilih menutupi wajahnya dan kembali pada meja yang mereka duduki tadi.
Leon tidak menyadari bahwa tarian yang sengaja dikhususkan sebagai tanda perkenalannya kepada Vena, tidak dinikmati dengan baik oleh yang bersangkutan.
Vena memilih kursi yang membelakangi posisi pintu yang diintip banyak penonton kalangan elite. Suara musik terdengar semakin lambat, dan gerakan tarian Leon semakin pelan, lalu terhenti.
__ADS_1
Saat itu lah ia baru menyadari Vena sudah tidak ada di tempat. Dari luar pintu VIP terdengar suara tepukan tangan dan sorakan para penonton gelap.
"Suuuiiitt ... Suuiiittt ...."
Siulan pun terdengar membuat Leon dan ia merubah posisinya untuk kembali memasang wajah berwibawa. Leon menganggukkan kepala kepada para penonton dan kembali duduk di hadapan Vena.
"Kenapa meninggalkanku sendirian?" tanyanya.
"Coba kamu pikirkan sendiri. Kamu mengajakku bertemu di sini itu, untuk menari atau untuk makan sih? Memalukan tau nggak?"
Leon tidak mengubris apa yang diucapkan Vena. Dari segala informasi yang ia dapat, Leon bertekad untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa ia akan bisa menakhlukkan wanita tegas tak tersentuh itu.
"Sebenarnya kamu ini sudah memiliki kekasih atau belum?" tanya Leon kembali.
"Apa urusanmu menanyakan kekasihku?" Vena memasang wajah datar tidak tertarik dengan apa pun yang ada di restaurant mewah ini.
"Mana makanannya? Mari kita sudahi pertemuan ini tanpa ada rencana untuk bertemu kembali."
...****************...
__ADS_1