
Dengan tenang, Elsa membawakan minuman, dan Cindy membawakan sedikit cemilan untuk teman menunggu di ruangan pimpinan utama perusahaan ini.
Saat memasuki ruangan tersebut, semua mata pria yang berada di sana fokus menatap Elsa begitu juga dengan Leon.
"Aaah, ini Nona yang selalu dibawa oleh Presdir Vena ke mana-mana?" sorak salah satu kru dalam tim mereka.
Tuan Jouras melirik ke kiri dan kanan Elsa. "Di mana Nona Muda itu?"
"Wah, Bu Vena belum kembali ya, Pak. Mohon bersabar menunggu yaaa?" bujuk Elsa kembali.
"Lhoh? Saya pikir Nona Vena pergi bersamamu," timpal Tuan Jouras.
"Biasanya memang begitu, Tuan. Hanya saja, tadi saya memiliki pekerjaan yang diperintahkan Bu Vena. Saat saya kembali, Bu Vena sudah tidak ada di tempat," terang Elsa dengan sanggat panjang.
Leon memutar wajahnya kembali memandangi segala bagian yang menarik di dalam ruang kerja Vena ini.
"Kami akan keluar dari ruangan ini. Bapak semua bisa menikmati suguhan yang sudah tersedia di atas meja. Jika membutuhkan sesuatu, boleh memanggil keluar, karena kami duduk di bagian depan pintu."
Semua pria yang berada dalam satu tim yang sama tersebut, mengangguk mempersilakan mereka berdua keluar. Setelah Elsan dan Cindy berada di luar dan menutup pintu, Cindy terlihat sumringah melirik ke arah pintu. Cindy tersenyum gemas melihat gaya Leon tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa Kak?" tanya Elsa.
"Gak kebayang dengan cerita Bu Venna tadi pagi." Cindy menahan diri untuk tidak tertawa terbahak.
"Emang, Bu Vena cerita tentang apa dengan siapa?"
"Di sana, ada pria tampan yang sok cool kan? Ketika membayangkan dia menari ala India. Awalnya aku menyangka pria yang diceritakan Bu Vena memiliki tampang b*doh dan menyebalkan. Ternyata ini random banget dari kenyataan yang aku lihat." ujar Cindy tak berhenti menahan tawa.
"Maksudnya sama orang yang ada di dalam?" tanya Elsa kembali.
"Iya, yang itu lho? Yang muda dan ganteng itu."
Cindy menahan gelagat Elsa. "Jangan! Nanti ketahuan sama mereka malah menuai masalah yang lain."
"Emang ada cerita apa sih? Kenapa Bu Vena tidak mengatakan apa-apa kepadaku?" Elsa terdengar sedikit kecewa.
"Bukan apa-apa sih. Tadi kebetulan Bu Vena menceritakan tentang kencan butanya dengan seorang pria. Terus, Tuan Adam menyampaikan bahwa pria yang akan bekerja sama dengan kita pada proyek berikutnya adalah Tuan Muda dari perusahaan Multiguna Plus."
Elsa menganggukan kepala tanda memahami apa yang disampaikan oleh Cindy. "Aku denger juga sepintas tentang itu sih. Tapi lucu juga ya ngebayangin Bu Vena yang kita kenal orangnya seperti apa, tiba-tiba didekatkan dengan seorang pria."
__ADS_1
Cindy menjentikkan jemarinya. "Nah, itu yang ingin aku sampaikan."
"Tapi kok aku jadi sedih ya, Bu Vena dengan seorang pria?" Elsa terlihat sedih dan raut wajahnya pun menjadi sendu.
"Lalu kamu maunya Bu Venna dekat sama siapa? Sama kamu aja gitu?"
Elsa menggelengkan kepala. "Bu-bukan. Hanya saja, aku ...."
"Yuhuuu ... Kenapa ramai sekali?" Vena telah hadir dan wajahnya terlihay sangat cerah.
"Waaag, sepertinya akan ada berita gembira nih?" canda Cindy.
Vena hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Cindy. Raut waja Vena berubah saat mendengar suara tawa banyak pria dari dalam ruang kerjanya.
"Loooh? Ada siapa di dalam? Kenapa aku tidak diberi kabar kalau ada tamu yang sedang menunggu?"
Cindy dan Elsa tersentak mendengar pertanyaan sang Big Boss. "Oh ... Soalnya—"
Belum selesai Cindy menjelaskan, Vena telah menarik gagang pintu. Beberapa detik waktu berlalu Venna dan pria-pria yang berada di dalam sana terdiam.
__ADS_1
"Loh, kamu? Pria India?" Vena melepaskan alas kakinya.