
"Mana makanannya? Mari kita sudahi pertemuan ini tanpa ada rencana untuk bertemu kembali." ucap Venna mencibir terhadap tingkah yang baru saja diperlihatkan oleh Leon.
"Tidak semudah itu Ferguso!" ucap Leon enteng.
"Kamu harus menemaniku malam ini!" Kakinya menyilang memainkan gelas yang memipih, tetapi panjang.
Vena mendengkus mendengar kata-kata yang terlontar oleh bibir Leon. "Tunggu sebentar! Apa maksudmu dengan menemanimu malam ini?" dua jemari Vena bergerak naik turun.
"Ha ha ha? Apa maksudmu dengan ini?" Leon memperagakan kembali dua jemari yang naik turun.
"Sepertinya kamu di sini hanya untuk membuang-buang waktuku. Sebaiknya aku pulang saja." Vena bangkit dan bersiap menarik tas tangan yang tergeletak di atas meja.
Namun, tas tangan Vena itu, sudah lebih dulu ditarik oleh Leon. Leon memutar-mutar tas kecil tersebut pada jemari telunjuknya, menyunggingkan senyuman.
"Apa yang kamu inginkan? Kita tidak cukup akrab untuk melakukan ini semua!" bentak Vena menyatukan kedua alis.
"Bukan kah kita bertemu untuk bisa saling mengakrabkan diri?" ucap Leon tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku tidak mengenalmu! Jangan sok-sokan memaksakan dirimu!"
Leon beranjak dari posisinya saat ini bergerak menuju bangku yang ada di samping Venna. Bangku kosong itu ditarik mendekat ke samping Vena dan ia duduk di sana menatap wajah lawan kencan butanya malam ini.
"Aku mengenalmu! Semua seluk beluk tentangmu, aku sudah mengetahuinya. Hanya saja kamu tidak menyadari kehadiranku yang akhir-akhir ini terus memperhatikanmu dari kejauhan." bisik Leon tepat di telinga Vena.
"Jadi, selama ini kamu menguntitku?" bentak Vena mendorong kursinya menjauh dari Leon.
"Ah, kenapa kamu benar-benar lucu? Berbeda sekali dengan apa yang dikatakan oleh orang lain." Leon bersidekap dada menahan senyumnya.
Vena melihat tas tangannya masih berada di tangan Leon. "Baik lah! Sebaiknya aku tidak lebih dekat lagi denganmu setelah ini!" Vena bergerak cepat menarik tas miliknya.
"Sial! Pantas saja harga pertemuan ini sebanyak lima puluh juta. Ternyata, Tuan Adam mengenalkanku dengan pria teraneh dari yang aneh lainnya. Ck ..."
Di belakangnya, Leon membuka ponsel dan segera memotret punggung mulus milik Vena. "Rivena Claudya!" panggilnya dengan nama lengkap kepada presiden direktur wanita, itu.
Vena memutar kepalanya dengan kesal. Saat itu juga Leon mengambil potret wajah milik Vena. "Nanti, kamu akan aku hubungi," ucapnya asal sembari menggoyangkan ponselnya.
__ADS_1
"Aku rasa, aku tidak berminat memberikan kontak kepada seseorang sepertimu!"
Sebuah senyum tipis terulas kembali di bibir Leon. Dia menekan-nekan layar datar pada benda pipih itu dan tak beberapa lama, Vena merasakan ada getaran dari dalam tas jinjingnya itu.
Vena membuka cepat panggilan pada ponsel tersebut dan terlihat nomor yang tidak terdaftar dalam urutan daftar nama orang-orang yang terhubung denga ponselnya.
Vena langsung mengangkat wajah mencoba mengartikan senyuman pada bibir Leon. "Dari mana kau mendapatkan kontak milikku ini?"
"Seperti yang aku katakan tadi. Aku sudah mengetahui semua tentang dirimu. Kamu tidak akan bisa lari dariku."
Vena merasa gusar karena sikap Leon yang sudah dirasa sangat mengganggu privasinya. Ia pun pergi setelah melengos kasar meninggalkan hotel tersebut.
Leon, wajahnya yang terlihat hangat kini berubah dingin. Ia mengirimkan foto Vena yang tadinya ia ambil secara diam-diam.
"Siapkan lah uang lima miliar! Aku akan memenangkan ini semua!"
...****************...
__ADS_1