Sistem Naga Kekosongan

Sistem Naga Kekosongan
CH.22. Hua Ru Meng


__ADS_3

...Note: Chapter 21-25 hanya berisi cerita saja, yang tidak suka cerita bertele-tele langsung skip ke chapter 26....


...***...


"Ayo pergi, apa yang kau lihat," Qin Shan menyeringai pada Hua Ru Meng lalu memimpin jalan.


"Eh, ah," Hua Ru Meng tampaknya tidak bisa berpikir saat ini, jadi setelah mendengar panggilan Qin Shan, dia hanya mengikutinya masuk ke Kota Teratai Ungu sementara kultivator lain dari Paviliun Cakar Gagak melakukan hal yang sama.


Penjaga gerbang tidak berani menghentikan mereka, semua memandang Qin Shan seolah-olah dia semacam momok yang harus dihindari dengan segala cara.


Para kultivator yang berbaris di luar untuk memasuki kota juga mengambil ini sebagai kesempatan dan menyerbu ke depan.


Gerbang kota mengalami kekacauan karena selusin penjaga tidak berani menghentikan orang-orang ini. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka kembali sadar dan berseru, "Cepat, periksa kondisi Tetua Min!"


Mendengar teriakan ini, penjaga lain terbangun dari linglungnya dan bergegas ke sisi Tetua Min.


"Beri tahu… Tuan Tian Feng!" Tetua Min mengatakan beberapa kata dan batuk darah lalu jatuh ke tanah, pingsan lagi.


Penjaga tergesa-gesa mengeluarkan artefak komunikasi, menuangkan Spritual Sense ke dalamnya, dan menggertakkan giginya dengan keras.


Semua penjaga memasang ekspresi marah, mereka memelototi punggung Qin Shan yang sudah menghilang.


Setelah Qin Shan menimbulkan kekacauan yang tidak dapat dicegah oleh mereka, mereka pasti akan mendapatkan hukuman berat.


Selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani bertindak sombong di Kota Teratai Ungu. Jika masalah ini tidak ditangani dengan baik, Teratai Ungu akan menjadi bahan tertawaan. Jelas, para penjaga ini tidak akan mampu menanggung konsekuensi dari perilaku seperti itu.


__________


Paviliun Cakar Gagak, Ruang rapat.


Hua Ru Meng dan yang lainnya duduk di sana, masing-masing menunjukan ekspresi panik di wajah mereka.


Qin Shan juga duduk di sana, mengamati ruangan, terlihat tenang dan santai, tidak merasa bersalah atas masalah yang dia timbulkan, bahkan terlihat sedang bersenang-senang.


"Bocah kecil, kenapa kau mengikuti kami ke sini?" Setelah hening yang lama, seorang pria berkepala botak kekar tiba-tiba membentak, dia menoleh dan memelototi Qin Shan, matanya penuh permusuhan.


"Itu benar, kenapa kau ada di sini?" Kultivator lain akhirnya pulih dan menatap Qin Shan dengan rasa ingin tahu.


"Oh… Ini pertama kalinya aku di kota ini dan aku belum mengenalnya. Baru saja, Ketua Hua berbaik hati mengundangku, dan karena aku tidak punya alasan untuk menolak, aku dengan rendah hati menerimanya," Qin Shan tersenyum ringan.


"Aku?" Hua Ru Meng menatap Qin Shan dengan tatapan kosong dan berpikir sejenak sebelum dengan lembut mengangguk, "Ya, ya … itu benar."


Dalam perjalanan ke sini dari gerbang kota, orang dari Paviliun Cakar Gagak berperilaku seperti tubuh tanpa jiwa, benar-benar tersesat dan bertindak berdasarkan naluri. Ini tidak mengherankan, karena Paviliun Cakar Gagak hanyalah sebuah organisasi kecil. Bertahan di celah-celah yang ditinggalkan oleh organisasi raksasa yang menguasai Benua Xuan dan selalu bertindak diam-diam dan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah, tapi kali ini, mereka terlibat dalam insiden di mana Tetua Min dipukuli cukup parah hingga batuk darah di gerbang utama kota.

__ADS_1


Untuk Paviliun Cakar Gagak, ini seperti langit runtuh di atas kepala mereka.


Tidak ada yang memperhatikan Qin Shan datang bersama mereka ke Paviliun Cakar Gagak. Hua Ru Meng berhasil mendapatkan kembali akal sehatnya, menarik napas dalam-dalam, dan mengarahkan matanya yang indah ke arah Qin Shan lalu bergumam pelan, "Saudari Ling, tolong atur kamar untuknya sehingga dia bisa beristirahat."


Mendengar ini, seorang wanita cantik dengan gaun merah glamor menanggapi dan melambai ke Qin Shan, "Ikuti aku."


"Aku akan merepotkanmu kalau begitu," Qin Shan mengangguk ringan dan berdiri untuk mengikutinya.


"Ketua …" Pria berkepala botak kekar memanggil dengan cemas ketika dia melihat Qin Shan pergi.


Hua Ru Meng melotot padanya dan seketika dia terdiam, tidak berani bicara lebih jauh, hanya bisa memelototi punggung Qin Shan sambil mengertakkan giginya.


Qin Shan mengikuti wanita cantik bernama Ling sambil mengamati sekelilingnya, setelah beberapa saat, dia terkekeh ringan, "Nyonya, tampaknya Paviliunmu punya bangunan yang mewah."


"Kenapa kau mengatakan itu?" Wanita cantik itu menatap Qin Shan dengan ekspresinya dingin.


"Meskipun ini pertama kalinya aku datang ke Kota Teratai Ungu, aku tahu setiap inci tanah disini akan sebanding dengan ratusan ribu Koin Emas. Jika Paviliunmu punya bangunan sebesar ini, pasti finansial kalian cukup kuat."


Pandangan waspada muncul di mata wanita cantik itu dan dia membentak, "Ini semua hasil dari usaha keras Ketua dan semua orang selama dua puluh tahun. Banyak saudara dan saudari kami mati untuk mendirikan ruang kecil di Kota Teratai Ungu ini, jadi kekuatan finansial besar apa yang kami miliki? Terlebih lagi… kami terjebak masalah besar kali ini sehingga masa depan Paviliun Cakar Gagak sekarang dipertanyakan."


Qin Shan tersenyum meminta maaf, "Maaf, sepertinya aku telah menyebabkan masalah bagi Paviliun Cakar Gagakmu."


"Selama kau mengerti," Ekspresi wanita cantik itu sedikit cerah saat dia berhenti berbicara dan terus memimpin jalan.


Setelah beberapa saat, dia sampai di kamar tamu dan membuka pintu agak kasar, "Kau bisa tinggal disini untuk saat ini."


Wanita cantik itu kemudian berbalik pergi, lalu berhenti setelah beberapa langkah.


"Apa ada yang ingin Nyonya katakan?" Qin Shan menatapnya curiga.


Wanita cantik itu membuka bibir tipisnya, “Ketua tidak suka melihat orang lain diintimidasi. Banyak saudara dan saudari di sini mendukungnya karena mereka telah menerima kebaikan darinya, termasuk aku. Kalau bukan karena bantuan Ketua, aku pasti sudah mati sepuluh tahun lalu. Karena itu, aku tidak akan menyalahkannya berdiri untuk membantumu, tetapi … jika Kota Teratai Ungu ingin meminta pertanggungjawaban seseorang, aku harap kau dapat mengambil inisiatif berdiri dan menyelesaikan masalah ini, jangan biarkan bahaya menimpa Ketua. Dia orang baik, jadi aku tidak peduli seberapa kuat dirimu, jika sesuatu terjadi padanya karena dirimu, bahkan jika aku menjadi hantu pun, aku tidak akan melepaskanmu."


Ekspresi wajah Qin Shan menjadi serius lalu mengangguk, "Aku mengerti."


"Aku harap begitu." Setelah wanita cantik itu menyelesaikan apa yang dia katakan, dia berbalik dan pergi.


Di ruangan sebelumnya, pria kekar berkepala botak mondar-mandir dengan cemas.


"Paman Hao, bisakah kau tenang? Mataku jadi kabur melihat tingkahmu," Di sebelah kanan, seorang wanita yang tampak berusia dua puluhan menatap ke arah pria kekar berkepala botak.


"Bagaimana aku bisa tenang?" Pria kekar berkepala botak berteriak marah, "Kau baru saja melihat apa yang terjadi, kali ini aku khawatir semuanya sudah berakhir untuk kita."


Di kursi ketua, Hua Ru Meng dengan lembut mengusap dahinya dan tersenyum pahit. Dia tidak menyangka akan mendapat masalah seperti itu hari ini. Dia hanya tidak ingin melihat Qin Shan berakhir tragis seperti pria paruh baya itu. Dia tidak menyangka Qin Shan berani memukul penjaga kota dan Tetua Min di depan gerbang Kota Teratai Ungu.

__ADS_1


"Hao Rong, duduklah. Sekarang semuanya sudah sampai pada titik ini, tidak ada gunanya gelisah," Hua Ru Meng juga sedikit pusing melihat Hao Rong yang mondar-mandir.


Mendengar ini, Hao Rong menginjak kakinya lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk. Namun, seolah-olah bantalnya terbuat dari ribuan jarum, dia tidak bisa duduk diam, dia terus-menerus bergerak ke depan dan ke belakang, ekspresinya kaku dan jelek.


Hua Ru Meng mengalihkan pandangannya ke arah pria tua yang yang menutup matanya sejak mereka kembali, membuat pikirannya mustahil untuk dibaca.


Berhenti sejenak, Hua Ru Meng akhirnya bertanya, "Paman Xiao, kau adalah orang yang paling berpengalaman dan berpengetahuan luas di Paviliun ini. Aku ingin tahu apa Paman Xiao punya cara untuk menyelesaikan masalah kita saat ini?"


Xiao Wu Jing perlahan membuka matanya dan mengerutkan kening sejenak lalu menghela nafas, "Ini situasi yang sulit."


"Bahkan Paman Xiao tidak punya cara?" Hati Hua Ru Meng tenggelam mendengar ini.


Xiao Wu Jing tersenyum pahit, "Meskipun orang tua ini selalu mengklaim sebagai ahli strategi di Paviliun ini, orang tua ini hanya Saint King Tingkat Ketiga. Dengan kekuatan serendah itu, tidak banyak metode yang bisa di gunakan. Ketua, kau paham siapa yang telah kita sakiti kali ini…"


Mata indah Hua Ru Meng menjadi gelap dan ekspresinya sangat pahit. Paviliun telah mengalami banyak bencana di masa lalu, tetapi mereka melewati semuanya berkat pengaturan dan nasihat yang cermat dari Xiao Wu Jing, tetapi kali ini, bahkan Xiao Wu Jing pun tidak berdaya.


"Ketua, kali ini kau terlalu sembrono," Xiao Wu Jing menggelengkan kepalanya perlahan.


"Paman Xiao, jangan katakan itu pada Ketua. Ketua hanya bertindak berdasarkan hati nuraninya, dia tidak ingin mencari masalah dengan sengaja," Wanita berusia dua puluhan itu berbisik pelan, sepertinya tidak tahan melihat Hua Ru Meng ditegur.


"Orang tua ini tidak bermaksud untuk menegur Ketua. Siapa di antara kita yang duduk di sini yang belum menerima kebaikan darinya? Jika Ketua tidak punya kode moral yang begitu tinggi, tidak akan ada Paviliun Cakar Gagak hari ini. Sebenarnya, tidak ada dari kita yang akan duduk di sini," kata Xia Wu Jing perlahan.


Semua orang mengangguk lembut dan setuju. Karena berkat kebaikan Hua Ru Meng lah mereka bertahan sampai hari ini.


"Hanya saja, kali ini… haa…" Xiao Wu Jing menghela nafas berat. Setelah beberapa saat, dia menatap Hua Ru Meng dan berkata, "Ketua, hanya ada dua pilihan sekarang."


Mata indah Hua Ru Meng berbinar dan tersenyum, "Aku tahu Paman Xiao pasti punya jalan. Tolong jelaskan."


Hao Rong dan wanita berusia dua puluhan juga buru-buru menatap Xiao Wu Jing dengan harapan besar.


"Ketua terlalu memikirkan orang tua ini. Dua rencana ini mungkin tidak menyelesaikan krisis, tapi… kita harus mencoba sesuatu," Xiao Wu Jing mengulurkan tangan dan mengelus jenggotnya lalu berkata, "Pilihan pertama adalah… menangkap anak itu dan menyerahkannya ke Kota Teratai Ungu!"


Hua Ru Meng segera mengerutkan kening.


"Masalah ini disebabkan oleh bocah itu, jadi harus diselesaikan olehnya juga. Selama kita menyerahkan anak itu, kita mungkin bisa menghindari Paviliun Cakar Gagak mengambil tanggung jawab penuh. Tentu saja, beberapa hukuman kemungkinan masih akan diberikan, tetapi selama Ketua ada di sini, Paviliun Cakar Gagak dapat bangkit kembali."


"Ya, seperti yang dikatakan Paman Xiao. Aku akan pergi menangkap anak itu sekarang dan menyerahkannya ke Kota Teratai Ungu," Hao Rong tidak menunggu Hua Ru Meng bicara dan segera melompat berdiri.


Hua Ru Meng hanya menatapnya dengan tajam dan dengan tegas berteriak, "Duduk!"


Leher Hao Rong segera menciut dan dia dengan cepat duduk dengan patuh. Dapat dilihat bahwa perkataan Hua Ru Meng memiliki otoritas yang besar baginya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2