
Malam Hari
Didalam hutan kematian suara raungan monster terdengar sesekali menambah kengerian suasana hutan yang begitu gelap dan mencekam.
Disalah satu tempat didalam hutan kematian, ada seorang pemuda yang duduk didepan mulut goa sambil menatap bintang bintang menghiasi langit malam. Selagi asik termenung pemuda itu di kagetkan dengan munculnya wanita yang langsung duduk disampingnya.
"Haaahhh, langit malam ini sangat indah," kata Ji Yao sambil tersenyum melihat ke atas langit.
"Huum," jawab Qin Shan singkat.
Mereka sekarang terlihat akrab setelah saling serang beberapa saat lalu, setelah melihat wujud Naga Merah Ji Yao, mereka mengobrol penuh canda kadang diselingi tawa renyah dari mereka berdua.
"Qin Shan, apa kau suka dengan warna hitam? aku lihat setelah kau mandi, kau memakai baju hitam lagi tapi hanya berbeda model saja," tanya Ji Yao penasaran.
"Apa kau suka warna hitam Yao'er?" Bukan menjawab, tapi Qin Shan malah memberi pertanyaan lain ke Long Ji Yao.
"Aku tidak terlalu suka, karena nanti aku terlihat seperti bandit perempuan haha..." Kata Ji Yao di selingi tawanya.
Mendengar ini, Qin Shan hanya tersenyum dan segera menjawab.
"Hitam tidak selalu jahat dan putih tidak selalu baik. Banyak orang beranggapan hitam melambangkan iblis, putih melambangkan malaikat. Walaupun malaikat itu baik apa orang tahu isi hatinya? begitu juga dengan iblis. Iblis terlihat seram dan menakutkan tapi apa orang tau isi hatinya? hitam diluar namun putih didalam lebih bagus daripada putih diluar namun hitam didalam," jawab Qin Shan panjang lebar sambil tetap melihat ke langit.
Mendengar perkataan Qin Shan, Long Ji Yao hanya diam mencoba merenungi kata kata Qin Shan.
Setelah lama mereka saling diam, Qin Shan mulai bertanya: "Yao'er, kenapa dirimu kabur dari rumah?"
Tapi Ji Yao tetap diam karena dia tidak ingin menceritakan masalahnya yang di jodohkan ayahnya kepada Qin Shan. Long Ji Yao tidak ingin Qin Shan menjauh darinya, jika tahu dia akan di jodohkan. Dia kecewa dengan ayahnya yang tidak memikirkan perasaannya, perlahan air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Melihat ini, Qin Shan hanya mendesah pelan.
"Tidak baik menangis sendirian dan menanggung semuanya sendri. Ada kalanya harus berbagi," kata Qin Shan sambil mengelus rambut merah Long Ji Yao.
Mendapatkan perlakuan ini, Ji Yao melompat ke dalam pelukan Qin Shan. Dia meluapkan semua bebannya selama ini dengan menangis sekencangnya di pelukan Qin Shan. Qin Shan mencoba menenangkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggung Long Ji Yao.
Setelah cukup lama menangis beban yang ada dihati Long Ji Yao agak terasa ringan, dengan kepala yang masih berada di dada Qin Shan, sambil terisak-isak dia mulai bercerita alasan dia kabur dari rumah.
"Apa kau akan meninggalkanku Qin Shan setelah kau tahu aku akan di jodohkan?" tanya Ji Yao yang tetap berada di dada Qin Shan.
"Tidak, aku akan datang ke ayahmu dan aku akan menikahimu," jawab Qin Shan tegas, karena saat pertama bertemu Long Ji Yao, Qin Shan sudah jatuh cinta padanya.
Mendengar ini sontak membuat Ji Yao kaget.
"A-apa kau tidak berbohong?" Long Ji Yao coba meyakinkan perkataan Qin Shan.
Qin Shan memegang tangan Ji Yao, dan mengenggamnya lalu berkata lirih, "Aku tidak berbohong Yao'er, aku akan menikahimu karena aku mencintaimu." Sambil mencium kening Long Ji Yao.
Mendapatkan perlakuan hangat dari Qin Shan, Long Ji Yao mendongakkan kepalanya, dan mencium bibir Qin Shan, sontak perlakuan itu membuat Qin Shan terkejut dan membalas cium itu.
__ADS_1
Mereka berciuman dibawah langit malam yang berbintang.
Ciuman itu sangat menggairahkan terlihat lidah yang saling melilit seakan tidak ada yang mau mengalah.
Sampai akhirnya mereka kehabisan nafas dan melepaskan ciuman panas itu. Jembatan air liur terlihat saat mereka melepaskan ciuman panas tadi.
Nafas Qin Shan dan Long Ji Yao memburu setelahnya serta badan mereka terasa panas.
Qin Shan langsung menggendong Long Ji Yao ala tuan putri masuk ke dalam goa. Qin Shan mengeluarkan kasur king sizenya yang dia dapat dari sistem. Tidak pernah terpikir oleh Qin Shan, kasur king sizenya akan digunakan malam ini.
Qin Shan mulai merebahkan Long Ji Yao ke kasur dan mulai menindih tubuh sintal Long Ji Yao.
Melihat perlakuan ini, Long Ji Yao menutup mukanya, karena dia benar-benar malu untuk memperlihatkan muka merahnya ke arah Qin Shan.
Qin Shan yang melihat tingkah Long Ji Yao saat ini mulai mencium dengan ganasnya. Dari mulai pipi lalu menuju bibir milik Long Ji Yao.
Long Ji Yao hanya mengikuti alur permainan dari Qin Shan sampai akhirnya Qin Shan menyudahi ciuman panas itu.
Qin Shan dan Long Ji Yao merasakan hawa panas berada di sekeliling mereka, wajah mereka berdua memerah sambil mengatur nafas yang terengah-engah.
Qin Shan yang sudah tidak tahan langsung mencoba membuka baju milik Long Ji Yao dengan kasar.
Qin Shan merobek baju Long Ji Yao dan membuat dirinya melihat tubuh sintal dengan dada ukuran besar terpampang jelas di hadapannya.
Wajah Long Ji Yao memerah sambil menutupi bagian dada serta bawahnya.
Qin Shan yang melihat ini meneguk air liurnya, Qin shan kembali mencium Long Ji Yao dengan panas, begitu pula dengan Long Ji Yao yang memegang kepala belakang Qin Shan saat sedang berciuman. Qin Shan mulai mencium leher Long Ji Yao lalu membuat tanda merah di leher Long Ji Yao sebagai tanda kepemilikannya.
Tangan Qin Shan mulai meraba setiap inci tubuh Long Ji Yao yang membuatnya mendesah pelan, mendapatkan perlakuan itu Long Ji Yao menyisipkan tangannya kedalam baju Qin Shan dan mulai meraba perut kotak-kotak milik Qin Shan.
Perlahan Long Ji Yao membuka baju milik Qin Shan dan saat dia melihat badan atletis Qin Shan, dengan cepat Long Ji Yao meraba junior milik Qin Shan.
Merasakan ini, tangan Qin Shan tidak tinggal diam, dan mulai menjelajahi gunung kembar milik Long Ji Yao yang membuat Long Ji Yao mengerang.
Ciuman Qin Shan sekarang beralih dari leher turun ke arah gunung kembar Long Ji Yao dan menghisap ujung yang berwarna merah muda dengan liar.
"Aahhh ... uhmmm." Long Ji Yao mengerang nikmat saat Qin Shan memainkan gunung kembarnya.
Long Ji Yao tidak tinggal diam, dia melepaskan celana milik Qin Shan, dan membuat Qin Shan tidak menggunakan sehelai kain pun, sama sepertinya.
Ciuman Qin Shan turun menuju pusar dan memainkan lidahnya disana.
Long Ji Yao merasa geli dengan apa yang di lakukan Qin Shan, namun sesaat kemudian dia merasakan lidah Qin Shan di goa merah muda miliknya.
Qin Shan yang sudah berada di lobang surgawi milik Long Ji Yao, tanpa basa-basi langsung menekan lidahnya kedalam dan menjelajah lebih dalam ke dalam milik Long Ji Yao.
"Aaahhh ... lebih dalam lagi," erang Long Ji Yao yang menekan kepala Qin Shan lebih dalam di mulut goa miliknya.
__ADS_1
Qin Shan terus menjelajah di dalam gua merah muda milik Long Ji Yao dengan lidahnya, dan sesaat kemudian cairan surgawi milik Long Ji Yao mulai merembes keluar dari goa miliknya, dan Qin Shan menikmati cairan itu tanpa menyisakan setetespun.
Qin Shan melihat ke arah wajah Long Ji Yao yang terlihat mengatur nafasnya dengan wajah merah merona.
Long Ji Yao merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Long Ji Yao melihat ke arah junior milik Qin Shan yang sudah berdiri kokoh dan besar. Long Ji Yao menelan ludahnya dengan kasar.
Dia berpikir, apa benda sebesar itu akan muat di dalam goa kecil miliknya, tapi disatu sisi dia juga ingin merasakan lebih dari sebelumnya.
"Boleh aku masukan?" tanya Qin Shan pada Long Ji Yao.
Long Ji Yao hanya mengangguk malu, dan Qin Shan yang sudah mendapatkan lampu hijau lalu menggesekan juniornya di depan mulut goa milik Long Ji Yao.
Qin Shan dengan perlahan memasukan juniornya kedalam goa milik Long Ji Yao hingga mencapai ujungnya.
"Aahhh ... sakit," kata Long Ji Yao ketika Qin Shan memasukan juniornya lebih dalam.
Darah keluar dari dalam mulut goa Long Ji Yao.
"Apa kita berhenti saja?" tanya Qin Shan yang tidak ingin Long Ji Yao merasa kesakitan.
"Uhmmm," jawab Long Ji Yao menggeleng.
"Teruskan saja, aku baik baik saja," lanjut Long Ji Yao.
Qin Shan pun memaju mundurkan juniornya didalam goa milik Long Ji Yao. Setiap kali dia melakukan itu, erangan keluar dari bibir mungilnya dan itu membuat Qin Shan menjadi lebih terangsang.
Suara tamparan daging dan di iringi suara erangan memenuhi ruangan setiap saat.
.
.
.
Pergulatan Qin Shan dan Long Ji Yao terus berlanjut sampai 15 ronde dan berhenti ketika mereka berdua benar-benar kelelahan, serta waktu sudah beranjak pagi.
Qin Shan dan Long Ji Yao tertidur sambil berpelukan. Long Ji Yao membenamkam wajahnya di dada Qin Shan sambil tertidur pulas.
Qin Shan menjadikan tangan kirinya sebagai bantal untuk Long Ji Yao dan tangan kanannya merangkul tubuh Long Ji Yao.
Mereka tertidur hingga siang hari, karena mereka berada jauh didalam goa jadi mereka tidak tahu waktu di luar sana.
.
.
__ADS_1
.