
Sebagian besar dari sini sampai bagian Akhir Pertemuan masih tahap-tahap awal pengenalan, alasan, penjelasan, dan sedikit komedi ringan. Bagian ini juga penting supaya lebih paham dan terdapat ilustrasinya juga. namun jika kalian ingin langsung masuk ke cerita konflik utamanya, maka kalian bisa memulainya dari Arc Bunga Dan Abu.
Mari untuk saling support dan tinggal like maupun komen walaupun hanya 1 huruf saja (≧▽≦).
Selamat membaca dan menikmati ceritanya 🙏
...----------------...
Di bawah terik matahari di musim panas, kemacetan sudah menjadi hal yang akrab dengan kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi di sekeliling, sekelompok orang yang hendak menyebrang jalan, dan seorang pengemis di pinggir jalan untuk pejalan kaki, dan penjabretan. Semua itu disaksikan langsung oleh pemuda dewasa di lantai tertinggi dalam sebuah perusahaan.
Pemuda tersebut lalu membalikkan badan dan berjalan, ia pun duduk di kursinya dengan gagah.
Tak lama ia mengambil pena dan menuliskan sesuatu disebuah buku diary-nya. Tap ... Penanya pun ditaruh di atas buku yang tepat ditulisan 'Takdir dan keinginan' sambil berkata.
"Mari kita lihat, apakah takdir akan memihak kepada keinginanku atau aku harus merubah takdir sesuai keinginan yang aku dambakan."
Lalu ia melihat ke sebuah jam meja kalender di sampingnya dan tiba-tiba tersenyum kecil.
"Waktu yang tepat." ucapnya.
Ia menutup buku diary-nya dan memasukannya ke dalam saku dalam jasnya. Dilanjutkan dengan mengambil kopinya dan meminum seteguk lalu menaruhnya lagi. itu merupakan tegukan terakhir dari kopinya sebelum habis.
"Akan aku buat keinginanku terwujud bagaimanapun caranya, apapun rintangannya, dan meskipun harus mengorbankan segalanya, aku akan persembahkan hanya demi impian ini!"
Tegasnya seorang diri sambil mengepal kedua tangannya di atas meja di bawah dagunya.
Nada bicara dan ekspresinya saat ini benar-benar menggambarkan seseorang yang memiliki ambisi besar demi pencapaian impiannya sejak lama.
"Sudah waktunya menghubungi mereka semua."
Pemuda dewasa itu merupakan sebuah CEO muda berusia 26 tahun yang belum lama menjabat diposisi tersebut. Ilham Prasetyo, itulah namanya. dikenal dengan skillnya yang sangat profesional dalam editing, illustrator, dan leadership.
Ia juga memiliki aura kewibawaan yang khas hingga banyak yang mengaguminya. Namun ketika dia sendiri, ada fakta mengejutkan tentang dirinya yang sebenarnya.
Ilham mengeluarkan Smartphone miliknya di saku dalam jasnya. dimata orang lain smartphone yang ia pakai bisa dibilang jadul, smartphone lama yang menggunakan tombol ketikan seperti Nokia.
Tapi itu bukanlah smartphone biasa melainkan, Diamond Crypto Smart Phone. Materialnya terdapat balutan 300 berlian dengan desain ekslusifnya yang membuat ponsel ini memiliki harga yang mewah.
Ilham mengetik kontak yang ingin ia hubungi lalu menelponnya.
*Tutt! ... Suara dering telpon.
"Gua udah ngasih kabar mereka lewat pesan kalau jam setengah 1an bakal nelpon dan semuanya memperbolehkan. Harusnya itu berarti mereka luang."
Tak lama telpon pun langsung terangkat dengan cepat.
"Iya, Halo! Dengan Aryo Seto disini."
Pemuda bernama Aryo menjawab sambil merapihkan buku-bukunya.
"Ini gua. Bulan ini tanggal 9 gua tunggu kedatangan lu sobat, lokasinya akan gue kirim." Ilham berkata dengan suaranya yang lebih berat.
Aryo tersenyum kecil, "Gua pikir ada apaan." ia berhenti sejenak.
"Baik. Aryo Seto akan memenuhi panggilan anda, bos."
Nada bicaranya berbeda dari sebelumnya.
Ilham pun tersenyum sebelum mematikan telponnya dan lanjut menelpon yang lain.
Aryo Seto, Seorang Jurnalis sekaligus Arsitek terkenal yang sudah banyak orang mengenalnya secara global, karena berita dan penemuannya yang selalu menggemparkan media sosial.
*Tut! Tut!!
Telpon kedua pun terangkat.
"Ini gua."
"Jadi, ... ada apa kawan?"
"Minggu depan tanggal 9 gua tunggu kedatangan lu, lokasinya udah gua tentuin." ucapnya.
__ADS_1
"Oke dehh. nanti gua reschedule streaming dulu." jawabnya.
"Papa lagi telpon sama siapa?" ucap seorang gadis yang terdengar masih anak-anak.
"Teman lama papa, sayang."
Gadis kecil itu terdengar meminta gendong, Ilham pun hanya tersenyum dan mematikan telponnya.
"Lah, udah dimatiin aja? kampret bener dah. Nelpon buat gituan doang, serius?"
Ia bernama Abdul Hady, Seorang Streaming YouTube terkenal yang fokus pada game mobile legend, top global dari seluruh assassin.
" 'Kampret' itu apa papa?" tanya anaknya.
"Bukan apa-apa sayang, dilupain aja yaa." Hady tersenyum ragu-ragu.
Anak gadisnya mengedip-mengedipkan matanya dengan ekspresi lugu.
"Kenapa? Apa kampret itu nama teman lama papa tadi?"
Hady menatap mata anaknya yang terlihat penuh rasa penasaran sehingga membuatnya tidak bisa berkutik, ia pun memutuskan untuk berbohong.
"Bukan sayang. Umm...begini sayang. Ahh! papa ada permen lolipop, Ulfa mau?"
Ulfa mengangguk-angguk dan terlihat senang, Hady pun merasa lega karena topik pembicaraan berhasil dialihkan tanpa harus melakukan kebohongan yang sebelumnya ingin ia lakukan.
"Sepertinya semua akan berjalan dengan lancar. gua akan lanjut menelpon semuanya satu persatu, dengan begitu rasanya seperti lebih keren dan misterius."
Pikirnya seorang diri dengan senyuman percaya diri. Dia pun kembali mencari kontak selanjutnya.
"Baiklah, kalau begitu selanjutnya adalah dia ...."
Ilham pun kembali menelpon dengan ekspresi wajahnya yang menggambarkan perasaannya sedang dalam percaya diri yang tinggi. Namun, telponnya tidak diangkat.
"Loh! Ga diangkat? apa dia sedang ada cara dadakan?"
Ia melihat layar ponselnya dan membaca pesan sebelumnya.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia pun kembali berkata.
Ilham kembali tersenyum percaya diri.
"Iya, begitu saja." ucapnya.
*Tuttt!
Telpon kedua pun tidak ada jawaban.
"Sudah gua duga, dia pasti sedang tidur. kalau begitu tidak ada cara lain selain, ... menunggu sepuluh menit lalu menelponnya lagi."
Ia memegang dagunya dengan senyuman tipis dan mengangguk-angguk pelan sebentar.
10 menit pun berlalu....
"Kali ini gua yakin dia akan angkat. Laki-laki cenderung butuh beberapa menit untuk bisa di telpon."
Telpon pun berdering untuk ke-3 kalinya panggilan tersebut. Dan sesuai prediksinya, telpon pun terangkat.
"Halo!" Ucap Ilham.
"Haiiyoo! kenapa nihh?" Jawabnya dengan penuh semangat.
"Apa tadi lu lagi tidur?" Ilham mencoba memastikannya.
"Aaa...ehmm...bisa dibilang gitu. Maaf gua kelupaan, hehee." Ia menyengir kecil.
"Hmm! Dugaan gua memang tepat." Ucapnya di dalam hati dengan merasa bangga.
Ilham kemudian menjawabnya.
"Oke, santai. Gua hanya ingin ngasih undangan buat lu untuk-...." perkataannya tiba-tiba dipotong.
"AAHH!! EUNNGH!" Suara Rintihan dari seorang perempuan yang terdengar sangat jelas.
__ADS_1
"Huss..! husss!! jangan kenceng-kenceng teriaknya bodoh!"
Ucap bisik-bisik pemuda ditelpon, ia menjatuhkan ponselnya.
"Habisnya kamu masukinnya dalem bangettt tauu! sama, AHHH! KELUARR! KELUARRR! EENNHH!"
"BODOH! Tutup mulutmu!"
Pemuda itu pun menutup mulut perempuan tersebut sambil mengeluarkan benih-benih cintanya di dalam tubuh perempuan itu.
Ilham pun terdiam sejenak, ponselnya pun ia taruh di atas meja lalu memegang keningnya dan mendengarkan mereka yang berbisik-bisik sekaligus berteriak ditelpon.
"Hoh! Begitu ya. Lagi tidur?"
Nada bicara Ilham sangat berbeda. perasaan kesal dan kekecewaan yang ia rasakan harus tetap dikontrol untuk tetap bersikap tenang.
"Tiba-tiba saja gua merasakan aura hasrat membunuh." ucap dalam hati pemuda ditelpon.
"Bajingan! ternyata lu lagi meniduri cewek, sialan." Ucapnya, lalu mengakhiri telpon.
"Waduhh!" reaksinya yang melihat layar HP-nya.
Dia pun kemudian melepaskan tangan dari mulut perempuan tersebut.
"Eumm...ahh! aku minta maaf, karena aku..." Ia memasang ekspresi dengan mata berkaca-kaca.
Jalil menempelkan telunjuknya ke bibir perempuan itu dan berkata.
"Huss..! Tidak apa-apa, biarkan yang sudah terjadi untuk terjadi. Kita lupakan saja dulu. ayo lanjut ronde ke 4!" ia memasang senyuman manis.
Perempuan itu pun ikut tersenyum manis dan menempelkan kening mereka satu sama lain.
"Kamu nafsu banget hari ini, aku akan puasin kamu sampe sepuasnya. Buat aku merasakan kenikmatan yang lebih dari sebelumnya ya!"
"Itu sudah pasti." tegasnya.
"Bodo amatlah tentang tadi. Gua bisa urus nanti. Yang penting sekarang gua enak-enak dulu." Pikirnya.
Mereka pun berciuman dan menutupi diri dengan selimut. ronde selanjutnya pun berlangsung dengan lebih brutal dan lebih panas.
Jalil Ayubi, namun lebih akrab dipanggil Jawir saat SMK, seorang artis papan atas yang memainkan peran karakter utama diberbagai sinetron maupun film layar lebar tema romansa yang sedang hit, ramai di media sosial.
Raut wajah Ilham terlihat serius dengan tatapan sinis yang tajam. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang tadi terjadi.
Dengan kedua tangannya yang saat ini dikepal di bawah dagunya, ia pun berkata.
"Sialan-sialan. Gua nelpon orang yang lagi bercocok tanam. Mulai sekarang gua ga akan nelpon orang lebih dari 2 kali."
Ia menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.
"Tapi jika dipikir-pikir lagi...salah gua juga. buat apa gua merepotkan diri untuk menelpon mereka satu persatu? tinggal chat langsung aja." ia berkata kepada dirinya sendiri lalu tersenyum tipis.
"Merepotkan sekali untuk mengikuti keinginan pribadi. gua harus lebih hati-hati dan menurunkan over thinking yang gua punya."
Ia menggaruk pelan sedikit rambut bagian samping kanannya dengan satu jari kanan. Ponselnya pun ia masukan lagi ke dalam saku jasnya. Dan tak lama suara ketukan pintu pun terdengar.
*Tok Tok Tok!
"Permisi, bos. ini Dinda."
Ilham merapihkan dirinya dan menegakkan badan (membusungkan dada), membuat dirinya terlihat tenang berwibawa karena bagaimanapun juga ia sekarang merupakan seorang CEO, 'harus memberikan kesan yang elegan' begitulah yang dirinya pikirkan.
Setelah persiapannya selesai barulah ia mempersilahkan masuk.
"Silahkan masuk!"
*Krekk
Pintu pun terbuka, terlihatlah seorang perempuan cantik bernama Dinda Carmila. Ia berjalan menghampiri Ilham dengan membawa sebuah berkas di tangannya.
"Saya ingin memberikan berkas yang bos minta sebelumnya. Saya sudah menyelesaikan semuanya, bos."
Tegasnya dengan memasang senyuman tipis yang menawan.
__ADS_1
...*****...