
Hari Selasa tanggal 9 Maret 2032, disebuah gedung kantor 10 lantai di daerah Kota Bogor, mereka berkumpul di sana di lantai ke 7.
8 Orang pemuda dewasa dengan seorang anak gadis yang dibawa dipangkuan Hady. 1 orang lagi masih belum datang, tepat di sebelah Tio merupakan kursi orang tersebut yaitu Jalil Ayubi.
Tidak ada hembusan angin yang masuk, seluruh jendela dikunci dan menggunakan AC. Terik matahari tidak mempengaruhi mereka yang berada di ruangan.
"Baiklah. Gua bakal bahas singkat tentang mengapa kita berkumpul disini? Untuk apa, keuntungannya apa, dan bagaimana langkah selanjutnya?" Ucap Ilham.
Dengan sikap duduk sempurna dan kharismatiknya sebagai CEO, ia mulai menjelaskan detail yang disimak oleh yang lain.
"Tapi sebelum gua memulainya. Di bawah kolong meja kalian ada sebuah berkas map, masing-masing udah gua kasih satu."
Mereka pun melihat dan meraba kolong meja masing-masing dan menemukan berkas map tersebut yang berbeda-beda warnanya.
"Silahkan dilihat dan bacalah sambil mendengarkan penjelasan dari gua."
Mereka mengangguk paham. Ilham pun memulainya sambil melihat berkas miliknya juga.
"Pada tahun 2017 gedung ini pertama kali di dirikan 2 tingkat. Sekelompok orang menjadikan gedung ini sebagai kantor utama dalam bisnis online shop mereka di bidang aksesoris. Tahun-tahun pun berlalu dengan cepat, bisnis mereka meningkat dan berpuncak di tahun 2024."
Ada beberapa poto mulai dari gambar gedung saat dulu yang sekarang mereka tempati, Poto beberapa karyawan, Poto momen-momen tertentu, dan Poto barang-barang produksi mereka, lengkap semuanya di dalam berkas map.
"Namun di tahun itu juga pesaing terberat mereka muncul. Dengan strategi pemasaran yang lebih akurat dan menarik serta kualitas yang lebih baik dengan harga ekonomis, membuat pelanggan-pelanggan perlahan berpaling. Hal tersebut membuat penurunan drastis di tahun berikutnya."
Sambil mendengarkan penjelasan tersebut, sebagian dari mereka ada yang menulis sesuatu (Aryo), memainkan rambut poninya sambil memperhatikan Poto diberkas (Tio), memegang bibirnya dengan dua jari (Rakeen), dan tentunya sambil menyimak paham.
"Karena Pemilik bisnis merasa sudah kalah saing sekalipun berbagai cara sebelumnya dilakukan. Pada tahun 2026 pun gedung ini resmi di tutup berdasarkan keputusan pemiliknya. Dan gua membelinya di tahun 2030, 4 tahun setelah penutupan. Dan butuh 2 tahun sampai sekarang untuk mengupgrade nya seperti keliatannya saat ini."
__ADS_1
Mereka pun saling memandang kepada Ilham.
"Apa ada pertanyaan?"
Ucapnya, Tio pun mengangkat tangan.
"Silahkan!" ia mempersilakannya.
"Itu berarti, tujuan kita semuanya disini bermaksud ingin membuat usaha dalam satu bidang di gedung ini?" Tanya Tio secara terang-terangan.
Ilham langsung tersenyum dengan ekspresi percaya diri.
"Benar sekali. Tapi usaha yang aku maksud adalah ... Menjadikan gedung ini sebagai kantor PT di bidang costumer service."
Ia mengatakan, membuat yang lainnya terkaget dari sorotan mata dan ekspresi mereka. Hanya Aryo dan Alif yang terlihat tenang biasa saja.
"Jadi membuat PT costumer service?" Tanya Rakeen.
"Ya. Kurang lebihnya seperti itu."
"Oy-Oy! sebentar. ... Gua model iklan loh! Mau service apaan coba dengan kelebihan gua yang cuman dipopularitas sama akting?"
Ikhwan terlihat kebingungan dan penuh pertanyaan, Ilham hanya tersenyum dan tidak menjawab.
"Lagian juga karir kita semuanya beda-beda." Reval menyambungnya.
"Itu dia. Gua aja paling bisanya joki akun sama streaming." tegas Hady.
"Kalau dijadiin PT costumer service semuanya bisa dibilang banyak menyimpang nih." ungkap Tio.
"Lu semua masih belum paham juga?" gumam Aryo yang terlihat paham.
__ADS_1
"Hahh! ... Emangnya lu udah paham?" Hady meminta penjelasan.
Tatapan mata Aryo terlihat kosong namun serius, tidak ada senyuman sedikitpun diwajahnya. Dan ia sempat menutup mata sebentar sebelum menjawabnya.
"Ilham bermaksud membuat sistem costumer service yang berbeda dari biasanya. dimana ia berniat menggabungkan seluruh kemampuan kita masing-masing menjadi satu kesatuan dalam service yang universal."
"Huh!?" Mereka yang baru paham terkejut.
"Jadi begitu ya." Gumam Rakeen sambil memegang bibirnya.
"Spektakuler! Tapi gua masih bingung." Tio sedang berpikir.
Ilham yang terkagum dengan jawaban Aryo pun tiba-tiba bertepuk tangan pelan sebanyak 3 kali.
"Hebat! Seperti yang gua harapkan. Memang benar, gua mau bikin sistem dunia costumer service dimana hampir meliputi seluruhnya dalam pelayanan dapat ditemukan disatu PT. seperti halnya gua bikin sistem pialang yang berbeda dimana broker tetep dapet gaji minimal 1,5 juta sekalipun tidak mendapatkan nasabah." tatapannya penuh ambisi.
Bak bunga-bunga yang berterbangan, mereka saling memandang dan memberikan pemikiran melalui kontak mata.
"Kapasitas otak gua terbatas dan gua masih belum paham." Hady blak-blakan.
"Karena itulah gua membawa tangan kanan gua yang bakal menjelaskan dengan lebih mudah dipahami dan dicerna."
Ia sekilas menoleh ke arah pintu dibelakang dirinya.
"Silahkan masuk!" Serunya.
Seluruh sorotan mata pun menuju ke arah pintu untuk melihat sosok yang Ilham maksud.
Pintu perlahan terbuka dan terdengarlah suara langkahan kaki yang menggetarkan ekspetasi.
...*******...
__ADS_1