
Suasana yang menegangkan kini telah berubah menjadi lebih familiar, meskipun pusat pandangan tertuju kepada Hady.
Ia hendak mulai mengatakan fakta alasan mengapa dia membawa anaknya Ulfa. Dirinya sempat ragu hingga mengigit bibirnya sesaat sebelum membuka mulut.
"Yaudah gua jujur deh."
"Dari awal aja harusnya, pemuda nafsuan!" sindir Aryo.
"Bacot! Gua mau cerita nih." Hady membantah.
"Yaudah, lama banget sih cerita doang juga." lanjut sindir Aryo yang memancing emosinya.
Hady menarik nafas dan menenangkan diri. Ketika sudah baikan ia pun kembali berbicara.
"Jadi ceritanya semalem tug gua lagi ada dorongan syahwat, dan istri gua juga sama. udah tiga hari gua tahan rasanya berat banget."
"Hahh! nahan tiga hari doang berat?" Tanya kaget Aryo.
Hady menoleh dan menatapnya, "Jangan ngegampangin lu perjaka lapuk!"
"Brengsek! nyerangnya ke hal sensitif gua." ia sampai mematahkan pulpennya.
"Mau gua bantah tapi emang fakta. Bocah jancok!" Pikir Aryo setelahnya.
"Heh! Lu kalo ngeliat istri selalu cantik sambil pakai baju seksi tiap hari juga bakal kegoda. Contoh, bayangin lu nikah sama Intan dan dia pakai celemek."
"Ga usah bawa-bawa nama Intan, jancokk!"
Aryo sampai beranjak dari tempat duduknya dengan menatap tajam Hady. entah kenapa ia tiba-tiba menjadi lebih emosional karena nama tersebut.
Padahal harusnya dialah yang memancing emosi Hady, namun menjadi senjata makan tuan.
"Yaudah, jangan motong cerita gua terus! maaf kalau bikin lu tersinggung." Jawab Hady dan Aryo kembali duduk.
"Gapapa. Maaf juga, kelepasan." ucapnya.
"Gua lanjut ya."
Ia menatap ke yang lainnya juga yang sedang menyimak dengan seksama.
"... Saat udah bikin Ulfa tidur jam setengah 9, gua bareng istri pindah ke ruang kerja yang biasa buat streaming. di gas lah di situ sambil gua minum obat dulu. terus-"
Cerita Hady kepotong lagi dan kali ini karena Ikhwan yang bertanya.
__ADS_1
"Infokan obatnya!"
Hady menoleh padanya dan menjawab.
"Boleh. tapi 850 ribu per kapsulnya, isi 12." Hady menaikan alisnya, isyarat tubuh.
"Satu juta perbutir pun gua bayar!"
Tegasnya dengan berani dan melemparkan kertas yang tertancap di meja seperti saat-saat sebelum. tertulis di kertas itu, 'Deal! 3 kapsul!'.
"Jadi elu yang ngasih ginian waktu tadi?" menatap Ikhwan sambil memastikannya.
"Huh!" ia mengibaskan rambutnya dan memalingkan wajahnya dengan cool.
"Ga perlu sok jual mahal juga kali!" Hady sedikit kesal.
"Udah-udah. lanjutin Dy."
Ucap Rakeen yang terlihat serius menyimak sambil menyangga pipinya.
"O-oke. nah, terus abis itu di gas sambil gua bikin tantangan yang isinya, siapa yang kalah/tidur/lemes duluan maka harus menuhin 1 permintaan apapun itu. awalnya gua PD banget nih, tapi gua kalah di ronde ke 8 dan lemes banget gila. Sedangkan istri gua, dia malah makin girang. gua pun ketiduran dan dia main sendirian. waktu gua bangun dia baru tidur, dan ga lama gua denger suara Ulfa. Ketauan lah gua di tempat, dan mulai berpikir nyari alasan kayak waktu gua ngasih alasan pas tadi."
Seketika seisi ruangan di penuhi oleh tawa yang terbahak-bahak dari semuanya, terkecuali Hady sebagai korban dan anaknya yang kebingungan sekaligus merasa heran kenapa semuanya malah jadi tertawa.
...*****...
"Jadi lu bohong karena takut ketauan kalah taruhan sama istri lu. LMAO!" Aryo tertawa lagi.
"PDnya bersifat trial." Ucap Ikhwan.
"Ada-ada aja lu bang." gumam Alif.
"Gak habis pikir gua." ucap Reval.
Rakeen masih ketawa bisu sambil menutupi matanya dengan tangan.
"Lu yang nantangin, lu yang kalah." Ucap Tio.
Mereka semua tertawa lagi sebentar.
"Udah bang, udah! Enak ya lu semua bisa jadiin gua bahan tawa." Hady berniat menghentikan sindirannya.
Ulfa yang bingung menatap Ilham, ia menarik pelan jasnya hingga menoleh kepada Ulfa dan bertanya penasaran.
__ADS_1
"Om sama yang lain juga papa lagi ngobrol apa? kenapa tiba-tiba ketawa?"
Ilham tersenyum, ia berhenti menutup telinga Ulfa dengan tangannya lalu menjawabnya.
"Tadi papa Ulfa cerita sedikit yang bikin om-om semua ketawa."
Ulfa menaikan alisnya, "Memangnya papa cerita hal lucu apa om?"
Ilham mengelus-elus kepala Ulfa lagi dengan lembut, "Tentang pisang yang kalah sama kue serabi."
Ia mengedipkan matanya, "Pisang dan kue serabi?"
Ulfa terlihat bingung sambil membayangkan kedua makanan tersebut.
"Selucu itu kah buat om sama yang lain?" tanya Ulfa kembali.
"Bener sekali. tapi bagi Ulfa pasti engga karena beda usia. lupain aja yaa. sekarang Ulfa boleh kembali ke tempat papa lagi."
"Umm!" ia mengangguk.
Ilham menurunkannya dan ia berjalan ke papanya.
"Jadi gimana sayang? Apa om Ilham kasar?"
Hady mengangkatnya dan bertanya meskipun ia sudah mengetahuinya.
"Om Ilham baik pa, Ulfa suka."
Ia tersenyum sambil menoleh pada Ilham yang ikut tersenyum dan melambaikan dikit tangannya.
Hady juga ikut tersenyum tapi senyuman waspada.
"Syukurlah kalau gitu. sekarang di pangkuan papa lagi yaa dan jangan berisik yaa sayang? ini permen lolipop nya."
"Oteee!" Jawab Ulfa dengan ceria dan memakan permennya lagi, ia pun diam dengan tenang.
"Baik. Akhirnya permasalahan selesai juga. Kita kembali ke topik utama."
Nada bicara Ilham kembali seperti biasanya, terdengar gagah, yang lainnya pun menuruti perkataannya.
Suasana familiar pun kembali berubah menjadi suasana serius.
"Kita akan mulai dari sejarah tempat ini terlebih dahulu."
__ADS_1
Semuanya mengangguk paham.
...*****...