
Hari demi hari pun berlalu, perkara tentang Ilham dan Dinda pun sudah selesai, dan mereka berdua dalam satu Minggu menjadi lebih dekat sekalipun membahas bisnis.
Menghabiskan waktu berdua di ruangan seharian sambil menambah informasi dari berkas-berkas lama dan baru.
Menginap di hotel ternama bintang 6 untuk membahas perihal biodata teman-teman Ilham.
Berkeliling ke beberapa perusahaan berdua sambil menyamar. Identitas Ilham sebagai CEO menjadi alasan mereka menyamar, karena mengunjungi perusahaan lain dengan jabatannya itu tanpa ada janji pertemuan akan menyebabkan kerusuhan dalam penyambutannya.
Sementara itu disisi yang lain. Semua teman-teman lama Ilham yang ia undang sibuk dengan aktivitas pribadi dan pekerjaan mereka masing-masing.
Mulai dari syuting film, lembur memperbaiki bug, live streaming, begadang bermain game, nge-gym, dan bahkan bertarung dengan preman.
Mereka memiliki kesibukan tersendiri, tetapi sudah mempersiapkan diri untuk pertemuan tanggal 9 nanti.
Dan akhirnya hari H pun tiba....
Hari Selasa tanggal 9 Maret 2032, disebuah gedung kantor 10 lantai di daerah Kota Bogor, mereka berkumpul di sana dan lebih tepatnya di lantai ke 7.
Di lantai 7 ada ruangan khusus untuk meeting dengan meja bundar besar di tengah-tengahnya.
Seluruh gorden jendela ditutup, penerangan menggunakan lampu, Ace sudah menyala, dan suasana menjadi dingin.
Meeka semua duduk di bangku masing-masing dan saling bertatapan, melihat wajah teman lama mereka lalu memasang senyuman khas masing-masing.
Ilham begitu terlihat berwibawa dari pembawaan penampilannya dan reaksinya. Ada total 8 orang yang dia undang, mereka semua merupakan teman lama terbaiknya.
Berikut ilustrasi 8 orang tersebut bersama Ilham.
Ketukan meja 2 kali menggunakan jari terdengar dari Ilham, membuatnya menjadi pusat perhatian. kedua tangan mereka rapih di atas meja dengan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya.
Pembicaraan pun dimulai.
"Kalian semua sepertinya terlihat sehat. gua jadi senang lihatnya. Dan akhirnya kita bisa berkumpul bersama lagi setelah sekian lama."
Tegasnya sambil memperhatikan semuanya, dan mereka menjawabnya dengan senyuman kecil.
"Sebelum kita memulai topik utamanya, apa ada pertanyaan?" ia melirik-lirik.
Tio mengangkat tangan dan Ilham pun mempersilahkan berbicara.
"Jumlah kita masih belum lengkap bos. Jalil belum kunjung datang. Apa dia sudah dihubungi?" tanyanya.
Mereka pun menoleh ke bangku Jalil di samping Tio, dan orangnya memang tidak ada ditempat.
"Gua udah hubungi dia tapi tidak ada jawaban. Mungkin dia kena macet atau sebagainya. Kita hiraukan dulu saja." Jawab Ilham.
"Baiklah bos."
"Oh iya. Gak perlu kaku dan formal banget. Sekalipun gua CEO disebuah perusahaan dan pertemuan kali ini mengenai bisnis, namun kita semua teman lama dan bisa dibilang reunian alumni tapi lebih elite."
__ADS_1
Mendengar perkataannya membuat semuanya tertawa-tawa termasuk Ilham.
"Lagian pembukaan lu kesannya dingin dan serius banget, jadinya bikin mikir-mikir kosa kata dulu kan." Ungkap Tio.
"Gua cuman bersikap seperti biasanya sebagai seorang CEO. Terlihat berwibawa itu kan penting. Oke, lanjut. Apa ada pertanyaan lagi?"
Mereka saling melihat satu sama lain dan memberikan kontak tubuh yang artinya, 'ada ga lu?', 'ga ada', 'lu sendiri gimana?', 'sama ga ada'. Kurang lebih begitulah, paham kan?
"Papa, mau lolipop."
Ucap seorang gadis kecil di samping bawah Hady, itu adalah Ulfa anak perempuannya.
"Tunggu sebentar ya."
Hady mengambil permen lolipop dari kantung dalam jasnya. Ia membuka bungkusnya dan memberikannya kepada Ulfa.
"Ini dia lolipop."
"Uwahh-ha-haa!" Ulfa terlihat gembira dan memakannya.
"Huss..! Jangan berisik ya?"
Sambil memberikan kedipan sebelah mata serta isyarat dengan jari telunjuk di bibirnya.
Ulfa membalas kedipannya dengan mengangguk-angguk dan memberikan jempol. Lalu ia meminta gendong dan Hady pun menggendongnya dan Ulfa duduk dipangkuan.
Aryo pun mendapatkan sinyal ide untuk bertanya, ia mengangkat tangannya.
"Gua mau nanya!"
"Gua mau tau alasan Hady kenapa membawa anak di acara pertemuan ini."
Tatapan tajam sekali kepada Hady, yang lain pun menoleh kepadanya sambil menatapnya, Hady menelan ludah karena was-was.
"Kalau perihal itu gua juga jadi penasaran, ya!?" Tegas Ilham yang bertanya.
Hady mulai merasakan aura perasaan aneh dari tatapan sekitarnya. Ia diam sejenak sambil menatap balik mereka satu persatu hingga suasana pun menjadi hening beberapa saat.
...----------------...
Dalam pertemuan yang sudah dinanti-nanti, suasana yang sebelumnya masih familiar sekejap berubah menjadi hening mencengkeram setelah Aryo mempertanyakan perihal anak gadis Hady yang ia bawa.
Hal itu tentu melanggar aturan pertemuan bab 7 halaman 7 yang berbunyi, "Setiap pertemuan tertutup hanya berisikan orang-orang yang ikut andil dalam pembahasannya, dan dilarang membawa orang yang tidak ada sangkut-pautnya."
Dalam heningan tersebut, Aryo pun memulai pembicaraan pertama.
"Yang bener aja lu, anak sekecil itu lu bawa ke tempat ginian?" Tegas Aryo yang terheran.
"Apa lu cuman mau pamer punya anak segemesin itu? karena dari semuanya disini, cuman lu doang yang udah nikah." Reval ikut menambahkan.
"Istri lu emangnya kemana?" tanya Rakeen.
Tio sendiri tiba-tiba tersenyum tawa kecil lalu berkata.
"Jangan-jangan lu susis, suami takut istri?"
__ADS_1
"Biasain liat acaranya dulu bang. ini kan kita lagi pertemuan penting sekalipun reunian alumni." Alif pun ikut nimbrung.
Reuni dan pertemuan sebenarnya memiliki arti yang sama.
Hady memberikan isyarat tangannya, "Wo-wo-wo! Tenang-tenang, gua bisa jelasin pelan-pelan kok."
Ia sampai berkeringat dingin dan menelan ludahnya sambil mengumpulkan keberanian untuk menjelaskannya.
Sementara itu Ulfa, anak gadisnya terlihat santai dan tenang sambil memakan permen lolipop, tatapan matanya begitu polos nan lucu.
"Gua tebak, ... istri lu lagi arisan kan?" tanya Reval dengan blak-blakan.
"Ya enggaklah. ngapain juga arisan, kebutuhan udah gua cukupi banget. sehari 400 ribu mah ada, bahkan lebih."
"Kirain kan, siapa tau aja." Reval tersenyum.
Hady menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
Ilham menghela nafas, "Baik. semuanya tenang, pelan-pelan. kita berikan Hady kesempatan bicara untuk menjelaskan alasannya." saran Ilham.
Yang lain pun mengangguk setuju dan mempersilahkan Hady untuk memberikan jawabannya sambil memperhatikan gerak-geriknya.
Dalam semenit mereka menunggu, Hady masih diam tidak membuka mulut, yang lain masih mentoleransi. 5 menit pun berlalu dalam keheningan sambil bertatapan, keringat dinginnya masih terus keluar perlahan. lalu 10 menit pun berlalu tanpa melakukan apa-apa, tanpa ada pembicaraan apa-apa membuat mereka sudah tidak bisa mentoleransi lagi.
"Woy!! cepet jelasinlah, udah 10 menit nih!"
Teriak dengan suara berat dari keluhan kesal Aryo, Hady menoleh kepadanya di samping pojok.
"Sabarlah. gua jadi malu dan grogi karena tatapan lu semua ke gua yang terkesan sinis."
"Hah! Seorang streamer masih punya rasa malu dan grogi?!" Ucap kaget Aryo dengan blak-blakan.
"Lu pikir streamer itu apaan!?" jawab Hady.
"Orang yang ga ada rasa malu bertindak bodoh untuk viewer dengan humor absurd kan?"
"Itu beda sekte lagi Aryo Seto!! gua streamer game ML doang."
"Oh, beda ya. tapi tetep sama-sama streamer, kan?"
Aryo seperti tidak ingin kalah dalam berargumen sekalipun yang dia katakan, dikatakan salah juga tidak benar.
"Terserah deh." Hady pasrah dengan keadaan.
*Psht
Suara kode dari mulut seseorang, itu ternyata dari Ikhwan di depan hadapannya. Hady langsung menatapnya dan Ikhwan pun langsung berkata.
"Awas aja kalau sampai lu bohong!"
Sambil menggenggam sebuah kertas ditangannya lalu ia hancurkan dengan mengepalkan hingga gepeng kecil.
"Ugh!" Dadanya bergetar sesaat.
Dia langsung paham dengan keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja. Meskipun perkara utamanya hanya karena membawa anak, hal tersebut justru menjadi efek butterfly.
__ADS_1