
"Awas aja kalau sampai lu bohong!"
Setelah mendengar ucapan itu dari Ikhwan, tubuh Hady berkeringat dingin.
Rencananya untuk mencari alasan dari kebenaran menjadi kebohongan kecil terancam, membuatnya menjadi harus berpikir kembali.
Ia pun akhirnya buka mulut untuk bicara.
"Ya udah. Singkatnya begini. ... Kebetulan istri gua lagi ada panggilan jadi model ke luar negeri, dan dia ga boleh bawa anak jadinya gua yang jaga. Karena itulah, gua sebagai orang tua dan seorang lelaki sejati ga bisa ninggalin anak gua sendirian di rumah, kasian, kan?"
Mendengar jawaban tersebut dari Hady membuat yang lainnya merasa perihatin sambil menatap anak gadisnya yang terlihat polos sambil memakan lolipopnya dengan mata yang agak berkaca-kaca.
Karenanya membuat imajinasi mereka terbayang-bayang tentang anak gadisnya Ulfa yang di tinggal pergi oleh Hady.
Tapi di sisi lain, ada yang membuat mereka penasaran.
"Jadi begitu ya. Gua sebagai model paham sama aturan tersebut dan memang ga boleh." ucap Ikhwan.
"Nah, bener kan?" jawab Hady, Ikhwan mengangguk pelan.
Lalu Aryo pun bertanya, "Kenapa ga nyewa pembantu aja?" sambil menatap Hady.
Seketika Hady memalingkan pandangan matanya.
"Iyaa juga. itu cara alternatif yang lebih mudah." gumam Rakeen.
Hady diam sesaat untuk memandang Ulfa dipangkuannya, lalu memberikan senyuman tipis.
Ia kembali menatap kepada mereka satu persatu sambil menjawab pertanyaan tadi.
"Gua ga mau ada pembantu di rumah. ga ada yang boleh masuk ke dalam keluarga cemara gua kali ini. Seberat apapun akan gua jalani. walaupun gua sendiri yang jadi babu di rumah itu lebih baik. Senyuman Ulfa sudah lebih dari cukup untuk membayarnya. Keharmonisan keluarga harus gua jaga!"
Sorotan mata Hady terlihat tajam dan membara, namun penuh dengan kesedihan di dalamnya.
Semuanya pun menjadi diam sesaat dan sebagian merasa tidak enak karena sudah membahasnya. Tatapan mata Hady pun berubah menjadi sayu.
Ilham berniat merubah suasana yang sunyi dengan perasaan tak senang. Tapi ia tidak jadi melakukannya dan memberikan sedikit waktu.
__ADS_1
Sementara itu suasana di luar begitu ramai, salah satunya di persimpangan lampu merah. baru saja sedetik lampu hijau menyala, klakson-klakson dibunyikan bagaikan saling mengadu.
Hingga ada yang berteriak kencang di kaca mobil ke belakang karena kesal mendengarnya.
"Bacot, sattt!! Telinga lu budek atau congean sialan!!" ungkapan perasaannya meluap.
Lalu ada juga para pedagang kaki yang mempromosikan barang jualan mereka.
"Dodongkal dongkal!"
"Casing murahnya Bu, Pak!"
"Anak ayam langka, banyak varian warnanya. Ayam ayam langka, cuma 8 ribu saja."
Teriak mereka masing-masing untuk menarik pelanggan. Banyak sekali yang melakukan hal serupa, tapi hanya ada satu pedagang yang tidak. Ia hanya duduk di antara batu-batu akik dengan wajah yang terlihat murung.
"Gua ga ikut-ikutan dagang anjengg!! gua cuman di minta paksa buat jagain sebentar. Noh! yang punya di belakang lagi buang air seni."
Tak jauh di belakangnya memang ada bapak-bapak yang baru selesai pipis, dan ia tersenyum nyengir. Ternyata pemuda itu adalah pelanggannya.
...***...
"Syukurlah mereka semua pada percaya. Ga sia-sia punya masa lalu kelam."
Ucapnya di dalam hati dengan perasaan lebih lega dari sebelumnya.
Kemudian tiba-tiba saja Ulfa anak gadisnya mengeluarkan lolipop di mulutnya yang tinggal sedikit dan memegang gagangnya di tangan.
Ia pun berkata, "Tapi tadi pagi mama ada di rumah lagi bobo. papa bohong, ya?"
Ia menatap Papanya di pangkuannya, mengedip-mengedipkan mata beberapa kali dengan tatapan polos.
Semuanya yang mendengar seketika menatap Hady dengan tatapan serius yang membuatnya kembali berkeringat dingin.
Hady menunduk menatap balik Ulfa lalu tersenyum paksa. Perasaan leganya tadi kini sekejap berubah menjadi kengerian.
Ulfa mengusap keringatnya, "Kenapa papa tiba-tiba berkeringat banyak? papa haus kah? Atau kepanasan? ... Ulfa malah merasa dingin."
__ADS_1
Bagaimana dia tidak keringatan ketika kebohongannya terbongkar oleh anak gadis sendirinya, terlebih lagi ia sudah diancam tapi tetap gegabah.
Hady merasakan hawa panas hasrat membunuh dari tatapan mereka. Sedangkan Ulfa merasakan hawa dingin dari AC yang tidak berpengaruh untuk Hady saat ini.
"U-Ulfa. ... jangan membuat mereka jadi salah paham. Maksudmu tadi pagi mama masih bobo dan agak terlambat, terus berangkat ke bandara kan?"
Hady menatap Ulfa dan mengedipkan sebelah matanya berulang-ulang kali. Ulfa tidak paham, ia kebingungan dan menelengkan kepalanya, ia pun ikut mengedipkan matanya.
"Mata papa kelilipan, ya? berkedip-kedip mulu dari tadi. Senyum papa juga jadi aneh. mau Ulfa tiupin? ... huuhh!"
Ulfa benar-benar meniup mata Hady agar debunya keluar. Hady membalemkan bibirnya dan sekilas menoleh pada mereka yang sorotan matanya menjadi sinis.
"Udah lebih baik papa?" tanya Ulfa.
Hady mengangguk-angguk dan menjawab.
"Jadi lebih baik banget sayang sampai-sampai membuat papamu ini tidak bisa berkutik."
"Syukurlah!" Ulfa tersenyum senang.
"Aha ha ha. Syukurlah ya."
Tawanya sangat di paksakan, balasan senyumannya terlihat grogi. Ulfa kembali memakan lolipopnya sedangkan Hady menatapi bagian mejanya seraya berpikir.
"Mati gua. anak gua selalu diajarin buat jujur. satu-satunya cara cuman bisa pasrah, selebihnya bagaimana sang penguasa berkehendak."
Hady kembali tersenyum yang terlihat agak sedih sambil memberanikan diri untuk menatap mereka.
Ekspresi mereka terlihat serius dengan tatapan sinis sambil melakukan beberapa hal.
Ilham mengetuk meja dengan pelan menggunakan telunjuk kanannya. Tio mengetuk meja juga tapi dengan semua jari tangan kanannya. Rakeen membunyikan jarinya satu persatu. Aryo tiba-tiba menulis dengan cepat di sebuah buku dengan pena. Dan yang lainnya menatap Hady sambil menyangga dagu mereka.
"T-Teman-teman. gua bisa jelasin lagi!"
Mereka tidak merespon dan suatu lesatan menghampirinya. Itu ternyata sebuah lesatan dari kertas, tapi anehnya bisa menancap di depan mejanya dengan pena di atasnya.
Di kertas itu tertuliskan, 'K/D/A 0/8/0'. itu merupakan sebuah isyarat kode ML yang artinya, 'Mau pulang jalan mana lu? Kita berdelapan disini siap menumbuk lu sampai masalah ini selesai'.
__ADS_1
Hady pun menelan ludah dengan ekspresi was-was. Ia tidak bisa lagi berbohong, kejujuran harus diungkapkan.