
08.45 detik kemudian....
*Tok tok tok!
Suara ketukan pintu terdengar.
"Ini Dinda, bos."
Ucap Dinda di depan pintu sambil membawa kopi di atas nampan. Ia terlihat sedang membalemkan bibirnya, wajahnya terlihat masih agak tersipu.
"Silahkan masuk!" jawab Ilham.
Pintu pun dibuka, dan Dinda kembali menutupnya. ia mengubah ekspresinya menjadi lebih ramah seperti biasanya, dengan senyuman tipis hangatnya.
"Sepertinya ada yang sedikit berbeda darinya."
Pikir Ilham sambil menatap Dinda dengan kedua tangannya di atas meja.
Dinda berjalan menghampiri hingga sampai di depan meja Ilham barulah ia berkata.
"Saya memohon maaf untuk tindakan kurang sopan saya sebelumnya, bos." Ia sedikit menundukkan kepala.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Saya tidak mempermasalahkannya. Selain itu, bagaimana kopinya?"
"Saya sudah membuatnya bos."
Dinda menaruh kopi tersebut di atas meja.
"Kopi susu spesial." lanjut bicaranya sambil memegang nampan dengan kedua tangannya.
Ilham langsung menatap kaget kopi tersebut dengan serius lalu menoleh kepada Dinda, ia memasang senyumannya.
"Tunggu-tunggu-tunggu. Kenapa bentuk di atasnya berbentuk burung Phoenix!?"
Tanya Ilham kepada dirinya sendiri sambil berpikir. Dinda sedikit menelengkan kepalanya karena kebingungan mengapa ia terus ditatap.
"Apa ada sesuatu yang menggangu diwajah...ku!" ucapnya.
Dinda pun baru sadar perihal gambar dikopi yang ia buat, ia pun kaget dari sorotan mata dan alisnya.
"Phoenix!! ... kenapa aku bisa membuatnya? Aku baru sadar."
...***...
Beberapa saat lalu ketika di dapur....
"Aku telah melakukan kesalahan. Selanjutnya aku harus meminta maaf dan bersikap seperti biasanya. Apapun yang terjadi aku harus profesional untuk tetap diam di tempat! bisa, aku pasti bisa."
Gumamnya seorang diri saat mengukir gambar tersebut diatas kopi. Sangking fokusnya ia menguatkan diri membuatnya tak sadar dengan apa yang dia buat. dipandangnya ia sedang membuat gambar seperti biasa, tapi aslinya tidak.
"Waktu di dapur tadi kah?" Ucap dalam hati Dinda yang sudah mengingatnya.
"Tidak ada apa-apa di wajahmu. maaf untuk hal itu dan terima kasih untuk kopi."
__ADS_1
Ilham menjawab pertanyaan Dinda yang sebelum dan tersenyum tipis.
"Sepertinya bos tidak mempermasalahkannya. lega jika begitu. Aku harus tetap tenang."
pikirnya sebelum menjawab.
"Sama-sama, bos." sambil mengangguk pelan.
"Duduklah Dinda, mau sampai kapan kau berdiri?"
"I-iya. Permisi..."
Dinda pun menggeser bangkunya dan duduk, nampan kopi tadi ia taruh di atas pahanya.
Tak lama Ilham pun bertanya.
"Kalau boleh tau, kenapa kau membuat motif seperti ini? Tidak seperti biasanya."
Tubuh Dinda pun seperti tersengat sekilas.
"Ehmm...itu karena. Karena ... saya kira terlihat cocok dengan sosok bos." Dinda beralasan.
"Hoh! Begitu ya." mata Ilham terlihat tajam dan percaya diri.
"Maaf jika ternyata bos kurang suka." Dinda menundukkan kepalanya.
"Tidak, saya justru suka." jawabnya.
Dinda reflek langsung melihat ke arah bos lagi dan mereka bertatapan sejenak.
"Syukurlah." Dinda tersenyum terbuka.
"Tentu bos. Silahkan dinikmati!"
Ilham pun mengangkat kopi tersebut, ketika sudah di penghujung bibir dan hendak meminumnya, ia terhenti tiba-tiba karena melihat Dinda yang menutup mata dengan senyuman tipis.
"Tunggu. Kenapa dia tiba-tiba memasang ekspresi seperti itu?" ucap dalam pikirannya.
Akibatnya membuat ia kembali menaruh kopi itu dan sedang berpikir tentang kopi dan Dinda.
"Pasti ada maksud lain yang dia harapkan dari kopi ini."
Dinda yang baru membuka mata kebingungan ketika melihat Ilham sedang menatap kopi.
"Bos! Apa ada masalah dengan kopinya?"
Dinda mengedip-ngedipkan matanya berulang kali sambil menatap Ilham.
"Udah gua duga pasti ada maksudnya. kedipan matanya merupakan sebuah kode."l
Ilham tidak menjawab pertanyaan dari Dinda, dirinya sedang berpikir keras dan dalam kondisi ini, memungkinkan untuk terjadinya peningkatan saraf otak yang melewati batas waktu dengan kepintarannya hingga terbuatlah jawaban.
"Kopi berbentuk burung phoenix. Jika diartikan secara filosofis berarti bentuk keindahan atau estetika."
Ia kembali menatap Dinda sekilas yang kembali mengedip-mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Bos!?" seru Dinda.
Ilham terlihat tak acuhkannya dikarenakan pikirannya sedang fokus di untuk mencari kesimpulan dan jawaban.
"Jabatan seorang CEO sendiri pasti memiliki pesona yang menawan. itu berarti jika di simpulkan...dia ingin melihat cara gua meminum dengan estetik!!"
Ia kembali lagi menatap Dinda yang diam dan sudah tidak mengedip-mengedipkan matanya.
"Jadi begitu ya. dia mengharapkan hal tersebut terjadi. baiklah, akan gua penuhi!"
Ekspresi percaya dirinya kembali terlihat dengan senyuman khasnya.
"Sejak tadi mataku tiba-tiba kelilipan, dan aku tidak bisa mengucek mataku dengan tangan dihadapan bos. namun sepertinya mengedipkan mata bukan suatu ide yang bagus. ekspresi bos sejak tadi jadi sedikit aneh dan ia tak acuhkan pertanyaanku. apa aku membuatnya tidak nyaman?"
Begitulah yang Dinda pikirkan dari dalam hati dan pikirannya, dari luar ia terlihat biasa saja sambil memberikan senyuman tipis.
Ilham sendiri malah langsung mengeluarkan smartphonenya.
"Eh!? Apa bos ingin menghubungi seseorang?" Dinda menduga-duga dalam pikirannya.
"Jika dilihat dari perkembangan zaman sekarang, mempoto hidangan merupakan salah satu ungkapan tentang sesuatu hal yang estetik."
Setelah berpikir seperti itu Ilham pun memfotonya hingga terdengar suaranya.
"Hehh! Bos mempoto kopi buatanku? kenapaa?!!" Dinda terlihat kaget.
"M-maaf, bos. untuk apa memfoto kopinya tiba-tiba?"
"Untuk apa? ... aku hanya ingin mengabadikan kopi terindah yang pernah aku lihat." tegasnya dengan mata penuh keyakinan.
*DEG!
Detak jantung Dinda tiba-tiba berdebar-debar dan wajahnya tersipu-sipu.
"Ahh! begitu ya. senang mendengarnya, ha-ha-ha."
Ia tertawa kecil yang di paksakan perlahan, kemudian menunduk pandangannya sesaat lalu tiba-tiba tersenyum kepada Ilham.
"Udah gua duga, dia pasti senang dengan cara apa yang telah gua lakuin." Ilham pun semakin yakin.
Maksud 'senang' yang Dinda rasakan sebenarnya bukan dari caranya memfoto melainkan perkataan dari Ilham.
"Jangan-jangan bos sebenarnya masih memiliki rasa kepadaku?"
Dinda mulai berpikir berlebihan. ia memikirkan bermacam-macam hal sambil menatap mata Ilham. tak lama ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak. pasti hanya salah paham. berkhayal itu boleh, tapi jangan terlalu jauh." ucapnya.
Di pandangan yang Ilham lihat kepada Dinda, itu adalah kilatan kode untuknya.
"Apa! ... jangan bilang hal yang tadi masih tidak cukup dan ia pun reflek menggelengkan kepalanya. baiklah, ga ada pilihan lain selain mengakhirinya dengan cepat."
Dengan sigap dan cekatan iapun mengangkat kopi itu dan meminumnya sampai habis secara langsung.
"Langsung habis!!?" Dinda terkejut.
__ADS_1
Tapi untungnya dia tidak mengatakan itu secara lisan melainkan dengan hati dan pikiran.
...*****...