Sistem Takdir & Keinginan

Sistem Takdir & Keinginan
[Perusahaan] Sosok pendatang baru


__ADS_3

Setelah Ilham menoleh ke arah pintu dan mempersilahkan masuk, pintu perlahan-lahan terbuka, dan cahaya lampu di matikan olehnya menggunakan tombol di bawah mejanya.


Sorotan pandangan hanya mengarah ke arah pintu dan terdengarlah suara langkahan kaki. Ia mendekat membuat mereka ingin segera melihatnya. lampu pun kembali dinyalakan dan terlihatlah sosok yang Ilham maksud.


"JALIL!!?" Seru serontak kaget mereka semua.


"Yoo! Apa lu semua sehat?"


Katanya dengan ekspresi percaya diri dengan memakai kacamata hitam. ia berjalan menuju kursinya yang sudah disiapkan di samping Tio.


"Jadi alasan lu telat ternyata sengaja karena jadi tangan kanan Ilham?" tanya Tio.


"Heh?!" Jalil bingung dan masih berdiri di belakang kursinya.


"Setau gua lu jadi artis dah, kenapa tiba-tiba jadi tangan kanan." Ucap Aryo.


Tangan kanan bisa dibilang adalah orang kepercayaan dan juga sekaligus sekertaris pendampingnya.


"Diem-diem lu multitalent, ya?" Alif ikut nimbrung.


"Siapa sangka. Sosok Jalil ternyata...."


Hady merasa terkesan. Sementara itu Jalil hanya planga-plongo kebingungan, ia benar-benar baru datang dan tidak tau apa yang mereka maksud.


"Lu semua bahas apaan sih? Gua baru dateng tiba-tiba dibilang tangan kanan."


Jalil jujur dengan ucapannya, ia tidak berniat melebih-lebihkan.


"Lah!" Tanggapan dari Aryo, Tio, dan Hady.


Ilham sendiri mengusap rambut belakangnya, berpikir kenapa malah jadi begini tidak seperti yang ia rencanakan.


"Kacau! Kenapa lu malah masuk disaat-saat begitu!?" Tegas penasaran Ilham.


Jalil menoleh dan menjawabnya.


"Bukannya lu mempersilahkan masuk?"


"Iya, sih. Tapi yang gua maksud orang yang nunggu di luar, ada kan?"


"Ehh! Dia? Serius!"


Jalil tidak percaya, dan Ilham hanya mengangguk pelan dengan menyangga dagunya.


"Pantes waktu gua baru dateng ada seseorang nunggu diluar. Ga lama lu mempersilahkan masuk, gua pun dengan PD langsung masuk dong."


Tiba-tiba saja mereka pada tertawa kecil. Jalil pun baru duduk di kursinya dan membuka kacamata, menaruhnya di saku baju.


"Iya, masuk akal juga sih." Ucap Tio.


"Udah ga heran." Aryo ikut menyambungnya.


"Itu baru Jalil yang gua tau."


Kata Hady sambil mengelus kepala anaknya dan baru ingat ia membawa penutup telinga. Ia pun memakaikannya kepada anaknya.


"Opening yang bagus!" Puji Alif.

__ADS_1


"Lil! Lil!" Seru jahil Rakeen.


"Sialan! Baru juga dateng udah merasa direndahkan Gua." Ia menatap mereka.


Lalu diwaktu itu juga sosok perempuan datang menghampiri, ia berjalan hingga di belakang samping kursi Ilham. Itu adalah Dinda, ia memberikan salam hormat sambil memeluk sebuah tablet yang dibawanya.


"Dinda!!?" Hanya Aryo dan Hady yang kaget.


"Salam kenal. Saya direktur pemasaran sekaligus sekertaris pendamping diperusahaan yang bos saya pimpin." jelasnya.


Aryo memperhatikan gerak-geriknya dan ekspresi wajahnya sambil dengan pemikiran yang janggal.


"Ini bener-bener bikin gua kaget. Ga gua sangka ternyata Dinda tangan kanan Ilham? What the hell man!" pikirnya.


"Baik. Mungkin sebagian sudah ada yang tau dengan sosok Dinda. Dan dialah yang akan menjelaskan seluruh sistem mekanisme dan pertanyaan-pertanyaan kalian."


Ia kemudian menoleh kepadanya.


"Silahkan dimulai, Dinda."


Memberikan senyuman percaya, Dinda pun tersenyum.


"Baik, bos."


Ia melangkah sedikit lebih depan dari Ilham dan mulai membuka tabletnya. Menekan sebuah tombol di dalamnya yang membuat ruangan menjadi gelap, lampu-lampu dimatikan. Lalu lingkaran tengah di meja bundar tersebut mengeluarkan sebuah cahaya hologram yang menjadi penerangan juga.


"Woahh!" reflek takjub kecil mereka.


Ilham hanya tersenyum tipis dengan wajah yang seakan-akan ingin berkata, 'ini belum seberapa.'


 Tanya Ulfa yang memandang papanya Hady. wajahnya terlihat terpesona dan senang. Hady tersenyum, ia membuka penutup sebelah kanannya saja dan menjawab.


"Bukan film sayang. Tapi lihat dulu aja ya, pasti menarik."


ucapnya dan mengelus kepala Ulfa, iapun kembali menutup telinganya.


"Umm!" Ulfa mengangguk paham.


Hologram itu memberikan ilustrasi gambar gedung ini dari luar dan dalamnya. Dinda mencoba menjelaskannya.


"Di lantai satu adalah tempat pre-order dan ruang tunggu. Di lantai ini para staff pelayan umum akan menghubungi staff atasan sesuai pemesanan costumer. lantai 2 dan 3, bergerak dalam pelayanan marketing umum bahkan penerjemahan dan tempat menaruh barang-barang. lantai 4 dan 5, bergerak dalam industri internet dalam perkembangan game. Contohnya seperti masalah bug, hacking, up rank dan sejenisnya."


Setiap penjelasan Dinda menyesuaikan dengan hologram yang ditampilkan. Terlihatlah perbedaan diantara ruangan-ruangan tersebut dengan jelas.


"Lalu lantai 6 dan 7 yang kita tempati saat ini, bergerak dalam bidang teknologi digital. Mengutamakan permasalahan software dan hardware, seperti jasa membuat website dan perbaikan komputer."


Rakeen mengangguk paham dan Alif sedang mempertimbangkan sesuatu di dalam pikirannya.


"Kemudian untuk lantai 8 bergerak dalam bidang seni rupa baik digital maupun non-digital. Dan lantai 9 bergerak dalam bidang kreatifitas, tim kreatif. Dan lantai 10 paling atas adalah tempat rehat. Ada kantin pribadi, ruangan karaoke, ruangan pemandian air panas dan kolam berenang, ruangan gym, ruangan olahraga tenis, juga ruangan pijit. Hampir semuanya sudah difasilitasi di dalam satu gedung ini."


Dinda baru saja menjelaskannya, ia terlihat serius awal hingga akhir secara detail.


Mereka yang melihat dan mendengarnya pun merasa tertarik.


"Keren banget dong!" Puji Jalil.


"Sampai ada ruang gym?" Rakeen tersenyum sambil mengepal tangannya.

__ADS_1


"Ini mah udah paket all in one." Ucap Aryo.


"Seberapa jauh lu mempertimbangkan dan membuat seperti ini?" tanya Ikhwan.


"Secara konsep bisa dibilang 6 tahun yang lalu. Tapi gua baru merealisasikannya 2 tahun lalu dibantu oleh Dinda."


"Begitu ya."


"Pantes aja nih gedung luas banget tapi cuman 10 lantai." Ungkap Reval.


"Semakin tinggi semakin dekat dengan matahari. lebih baik diperluas saja, agar tidak seperti perusahaan gua yang satunya."


Jawab Ilham. yang lain pun mulai paham dan sejalur dengan pembahasannya.


"Gua jadi lebih paham dari sebelumnya. Sekarang yang jadi pertanyaan, apa yang harus kita semua disini lakukan. Maksud gua, apa kita diharuskan berhenti dalam karir yang sudah dicapai saat ini untuk bergabung dan memulai bisnis bersama dari awal, dari nol!?"


Pertanyaan Tio mewakili semuanya. Bagaimanapun fasilitas yang sudah disediakan, karir mereka masing-masing yang sudah diraih dengan susah payah tentu tidak bisa begitu saja ditinggalkan.


Mereka harus memutuskan pilihan yang tepat agar tidak ada penyesalan.


Ilham dan Dinda saling memandang dan berkomunikasi melalui kontak mata dan tubuh.


Dinda lalu menatap mereka dari arah kiri ke kanan seraya berkata.


"Izinkan saya yang menjawab semuanya."


"Oke. Silahkan." ucap Tio.


"Terima kasih atas kesempatannya!" Ia memberikan salam hormat.


Hologram kembali berubah menyesuaikan dengan topik yang Dinda bahas. Ia mulai membahasnya dari visi dan misi, dilanjut tentang sistem kerja dan tanggungjawab yang dimana mereka yang berada di ruangan akan ditunjuk satu-satu menjadi kepala ketua di bidang dan di lantai masing-masing.


Kemudian barulah Dinda menjawab pertanyaan Tio yang dimana, mereka masih dapat melanjutkan karir masing-masing selagi tidak menghambat kewajiban dan tugas yang nanti ditanggungkan.


Dan juga sudah ada kurang lebih 9 karyawan profesional disetiap bidang yang sudah dikontrak.


Hal tersebut membuat kepuasan kepada mereka bahkan ketika Dinda mengatakan bahwa tidak ada pemungutan biaya, semuanya ditanggung Ilham. Mereka kaget dan memberikan tepuk tangan kepada Ilham.


Dinda melanjutkannya lagi ke dalam sesi diskusi tentang masukan saran atau gagasan, kendala, dan juga beberapa pertanyaan lainnya.


Waktu pun berjalan dan mereka semua akhirnya sudah paham 99% yang membuat Dinda menyudahi kesempatannya sebagai moderator.


Ia memberikan salam hormat dan mundur ke belakang samping Ilham, hologram pun dimatikan dan seluruh lampu kembali dinyalakan.


"Yahh! Filmnya udahan."


ucap polos Ulfa dengan ekspresi agak cemberut. Hady memberikan lolipop yang baru kepadanya dan Ulfa kembali ceria lalu memakannya.


Posisi Ilham saat ini sedang mengepal kedua tangannya menjadi satu, sejajar dengan dada atasnya sambil memandang tajam mereka.


"Jadi, bagaimana? Apa kalian tertarik untuk bergabung?" Gumamnya.



Mereka pun langsung berpikir-pikir matang untuk memberikan jawaban masing-masing.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2