
"Sepertinya gua berhasil memenuhi harapannya. Ekspresinya itu tidak bisa di abaikan. Humm!" Ilham merasa bangga dan PD.
"Kenapa bos tiba-tiba melakukan hal seperti itu? Tidak seperti biasanya, ini aneh." Pikirnya.
Dan tiba-tiba saja Dinda pun bertanya secara blak-blakan, entah angin apa yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Mungkinkah bos merasakan... pe-perasaan seperti dulu?"
Ia mencuri-curi pandangan sambil pelan-pelan berkedip.
"Perasaan seperti dulu?" Ilham menaikan alisnya.
"Tidak-tidak. lupakan saja, ha-ha-ha."
Dinda menggelengkan kepalanya dan menundukkan pandangannya, pipinya menjadi memerah karena tersipu.
"Ahhh!! memalukan sekali. kenapa aku tiba-tiba bertanya senekat ini?" pikirnya yang sedang tersipu.
Ilham pun memikirkan perkataan tadi. kapasitas otaknya bekerja secara ekstra lagi dan dominan dipakai untuk mencari jawaban sambil memegang dagunya dengan tangan kanan.
"Perasaan seperti dulu, kah? ... itu berarti maksudnya, 'apa terasa nostalgia saat meminumnya?' pasti itu!"
Ilham memasang senyum miring dengan matanya yang penuh keyakinan. karena jawaban sudah Ilham dapatkan, ia pun menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Jika kau ingin tau jawaban dari pertanyaan tadi. ... Ya, tentu saya merasakannya. bahkan terasa begitu utuh kenangannya dari setiap tegukan. karena itulah saya langsung menghabiskannya."
Dinda menoleh dan menatap Ilham dengan senyuman bibir melebar tapi tetap tertutup, pipi yang memerah, matanya yang mencuri-curi pandangan.
"B-begitu yaaaa!! Ahahaha, senangnya, syukurlah!"
Dia kembali menundukkan pandangannya kebawah.
__ADS_1
"Saya juga senang karena kau yang membuatnya." jawab Ilham secara blak-blakan.
*Deg! Deg!
Suara detak jantung Dinda sebelum berdetak 83 kali permenit. itu merupakan angka yang sudah melebihi batas normalnya jantung berdetak yaitu 60-70 kali per menitnya.
Karena hal tersebut juga membuat nafas Dinda lebih tergesa-gesa.
"Bahaya, ini benar-benar bahaya! Asmaku tiba-tiba saja kambuh. aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini." pikirnya, perlahan keringat dingin keluar di wajahnya.
"Kau terlihat agak pucat Dinda. apa kau sedang sakit?" tanya Ilham.
Dinda langsung berdiri dan memberikan salam membungkuk.
"Saya lupa meminum obat, bolehkah saya izin istirahat sebentar bos." ucapnya meminta izin.
"O-oh iyaa! silahkan. beristirahatlah hingga lebih baikan, tidak perlu terburu-buru." jawab Ilham dengan perhatian.
"Permisi bos."
"Iya-iya. minumlah obatnya dan tenangkan dirimu. jika kau kenapa-napa saya akan kesulitan, karena hanya kau seorang yang dapat memenuhi kualifikasi saya."
Bagi Dinda, itu adalah tamparan langsung ke hatinya yang artinya ia dibuat salting brutal. tapi bagi Ilham, ia tidak bermaksud demikian dan 'kualifikasi saya' yang dia maksud adalah soal bisnis minggu depan dalam acara pertemuan bersama teman-teman lamanya.
Dinda langsung membalikkan badan, ia sudah tidak kuat lagi untuk berada di depannya, memandang wajahnya, dan menatap matanya. hati, pikiran, dan wajahnya sedang tersipu-sipu.
Ia berjalan cepat untuk keluar sambil membawa nampan kopi. Namun, ketika sudah di depan pintu saat ia memegang gagang pintu, Ilham pun memanggilnya yang membuat Dinda terhenti, tapi ia tidak membalikkan badan (diam ditempat).
"Dinda! ... jika kau sudah lebih baikan segera hubungi saya. ada hal penting yang masih ingin saya bahas bersamamu. Dan dalam seminggu ke depan, kita berdua akan lebih dekat dari biasanya!" ucapnya secara blak-blakan lagi.
Meskipun yang Ilham maksud adalah tentang bisnis, dikondisi Dinda saat ini ia menanggapi dan menyimpulkannya sebagai pendekatan asmara yang lebih serius.
__ADS_1
"Y-y-yaa!! s-saya mengerti! permisi!"
Jawabnya dengan cukup gagap, lalu membuka pintu dan keluar. Dan faktanya, dia sebenarnya tidak mengerti apa yang Ilham maksud. Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih selain tentang asmara cinta yang bergejolak.
"Mhmm....Meskipun Dinda berkata ingin meminum obat tapi rasanya ada yang aneh. Dari ekspresi dan tingkahnya, pasti ada penyebab lain. apa pujian gua terlalu berlebihan? atau karena kata-kata gua yang mungkin sensitif dan kurang estetik...?"
Ilham pun berpikir kebingungan, penuh dengan tanda tanya.
"Apapun itu ya sudahlah. sebaiknya tidak perlu di bahas lagi. gua juga ingin istirahat buat tidur sejenak. Capek mikirin masalah dunia mulu mah, mending tidur dulu."
Ia menaruh wajahnya di atas tangannya di meja dan mulai tidur. Dalam beberapa bulan terakhir waktu istirahatnya memang kurang cukup sekalipun ia seorang CEO.
Ingat yaa! Memikirkan masalah dunia itu hal yang manusiawi, tapi jangan lupa istirahat. Minimal beribadah dan sholat untuk menenangkan diri. Kalian juga manusia dan bukan robot, tidak ada salahnya untuk sejenak melupakannya.
Sementara itu, setelah Dinda berhasil keluar dari ruangan yang menyiksanya. diapun langsung berlari ke kamar mandi dan menaruh nampan yang ia bawa di atas wastafel. pintunya ia kunci dan duduk di atas ****** duduk yang mewah (masih di lantai 30 paling atas).
Keringat dingin membasahi wajahnya, ia mengelapnya dengan sapu tangan. Detak jantungnya pun meningkat lagi menjadi 90 kali per menit. Dia mengeluarkan Inhaler Dosis Terukur dari saku jasnya, itu adalah alat untuk meredakan asma.
Dinda mengambil nafas pelan-pelan sedalam mungkin dan menahannya selama 10 detik. lalu ia menyemprotkan inhaler tersebut sebanyak 4 kali dalam 4 menit, setiap menit 1 kali semprotan.
Beberapa menit pun berlalu, Dinda sudah lebih baikan dari sebelumnya. ia memegang dan mengelus-elus pelan bagian dadanya sambil dilihat olehnya dan berkata dalam hati.
"Apa dia berniat ingin membunuhku?! aku hampir saja masuk rumah sakit karena asmaku kambuh dan dibuat malu olehnya." Keluhnya.
Dinda lalu terbayang-bayang sekilas wajah Ilham dan perkataan-perkataannya tadi.
"Yang benar saja, Ilhammm!! aku salting brutalll!!"
Ia memegang kedua pipinya sambil menggelengkan kepalanya.
Jarang-jarang sekali Dinda menyebut nama 'Ilham' sekalipun tidak secara lisan. terakhir kali dirinya menyebut nama 'Ilham' sudah lebih dari 2 tahun 4 bulan yang lalu. saat ini dia pasti benar-benar sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi.
__ADS_1
...*******...