
Mendengar masukan dari Jawir membuat Ilham pun berpikir sejenak, dan ia tiba-tiba tersenyum.
"Gua udah berpikir matang untuk hal ini. Yaa, memang benar kita semua udah punya karir masing-masing dan ga bisa di abaikan gitu aja. Dan perihal ikut bergabung atau tidak dalam ajakan gua kali ini itu hak kalian secara individu."
Ilham tiba-tiba berdiri dan menyalakan proyektor besar untuk di lihat semuanya.
"Apa kita mau nonton film bareng papa?" tanya polos Ulfa.
Hady tersenyum dan mengelus kepala Ulfa, "Bukan film sayang, ini pekerjaan."
"Ummm! Ulfa kira film." ia sedikit cemberut.
Kemudian terlihatlah sebuah gambar besar yang di hasilkan dari proyektor, ada sebuah diagram di dalamnya.
"Mari kita lihat! ... maksud 2 minggu yang gua maksud adalah awal kita start. dalam seminggu gua bersama sebagai disini akan menyiapkan berkas-berkas dan dokumen pengajuan PT dan merekap rancangan apa yang di butuhkan."
"Pasti gua nih." Ucap percaya diri Aryo.
"Benar. Lu pasti ikut gua."
"Tuh kan. Oke lah."
__ADS_1
"Lalu di minggu berikutnya adalah tahap penerapan dan menyempunaan agar di hari H awal minggu berikutnya semuanya sudah siap pakai. Untuk lebih detailnya bakal gua nyerahin ini ke sekertaris pimpinan di perusahaan yang gua pimpin saat ini. Silahkan!" Ilham menyodorkan tangannya ke arah pintu dan pintu pun terbuka.
"Hmm! Orang yang tadi di depan pintu sekertaris pimpinan?" gumam Jawir sendiri.
Sekertaris itu pun berjalan mendekat, ia adalah Dinda yang di waktu sebelumnya menjatuhkan kopi ke jas Ilham.
Hady dan Aryo terlihat kaget melihat kehadiran Dinda.
"Loh! Dinda?!!" kaget mereka bersamaan.
Dinda berjalan hingga akhirnya berada di depan mereka bersama Ilham di sampingnya. Ia menunduk memberikan salam dan memperkenalkan diri.
"Ohh!! Jadi lu kerja disini bareng Ilham, Din?" Tanya Hady dan Dinda hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Gimana ceritanya Ham, diem-diem ga ngasih tau gua?" Gumam Aryo.
"Buat apa gua ceritain hal kayak ginian. Lupain aja, itu masa lalu." jawab Ilham.
"Jangan bilang gitu di depan Dindanya langsung lah cokk!" Aryo tak habis pikir kepadanya.
"Tidak apa-apa. Ucapan tuan memang benar, dan biarkan Dinda yang menjelaskan secara detail terkait pembahasan pertemuan kali ini."
__ADS_1
"TUAN!!?" Jawab kaget semuanya.
"Lu semua kenapa? Gua kan CEO!"
Setelah itu Dinda pun menjelaskan semuanya dengan lengkap dari awal sampai akhir teknik kerja dan sebagainya. Mereka semua menyimak dengan baik dan beberapa saat merasa terkesan, kaget, dan mengangguk-angguk pelan, juga melihat satu sama lain.
Sesekali mereka berdiskusi mengenai beberapa hal dan memberikan gagasan dari masing-masing untuk keperluan PT.
Waktu pun terus berjalan dan berjalan dengan lancar, mereka semua paham dengan maksud yang di sampai kan oleh Dinda. Visi Misi maupun sistem kerjanya sudah lebih di perjelas oleh Dinda, hal itu membuat pemikiran mereka terbuka.
"Kurang lebih hanya itu yang bisa saya sampaikan. Terimakasih."
Dinda memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya. Ia kemudian sedikit mundur ke belakang Ilham.
"Sampai disini sudah paham kan? Terlebih lagi lu Jawir." Ilham menatap ke arahnya.
"Iya-iya, gua paham."
"Bagus. Dan sekarang gua minta lu semua untuk mengangkat tangan jika ingin ikut berpartisipasi dalam membangun PT Fond-Tech?"
Ilham menunggu jawaban mereka dan memastikan semuanya tanpa ada paksaan tapi keinginan mereka masing-masing.
__ADS_1