
Dinda Carmila, Jabatannya adalah Direktur Pemasaran (CMO) yang berperan penting dalam merumuskan strategi pemasaran, merancang kampanye branding, meneliti pasar, memanajemen tim, menganalisis hasil kampanye dan menyusun laporan kinerja pemasaran.
Tapi selain itu, Dinda juga menjadi Sekretaris kepercayaan Ilham di perusahaan yang ia pimpin saat ini dalam bidang investasi.
Suasana menjadi lebih serius dari sebelumnya. Bagaikan pergantian musim, kepribadian Ilham berubah dan terlihat menawan serta berwibawa.
Ilham mengambil berkas yang diberikan kepadanya.
"Biar saya cek terlebih dahulu." ucapnya.
"Tentu bos. Jika ada yang harus diperbaiki lagi akan saya selesaikan secepatnya."
Dinda tersenyum ramah yang meyakinkan, Ilham mengangguk paham.
"Sejauh ini, ini sudah lebih dari cepat. duduk lah di kursi selagi aku mengeceknya!"
"Baik." jawabnya.
Dinda mengangguk dan duduk di kursi yang ada di sampingnya, mereka berhadapan.
Ilham terlihat fokus untuk mengecek berkas tersebut secara detail. Beberapa hal ada yang Ilham pertanyaan dari dalam berkas kepada Dinda, dan ia menjawabnya dengan baik.
Setelah selesai mengecek semuanya, Ilham pun merapikan dan menutup berkas tersebut.
"Kerja bagus Dinda. Semuanya terlihat sangat diperhitungkan dari besar kecilnya apa yang kita butuhkan, bagaimana dampaknya, seperti apa cara penanganannya hanya dalam satu berkas ini saja. Kau memang seseorang yang sangat saya andalkan untuk tugas-tugas seperti ini." pujinya.
__ADS_1
Dinda terlihat senang dari ekspresi dan senyumannya, ia pun sedikit menunduk untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih banyak, bos. Menjadi seseorang yang dapat diandalkan oleh sosok bos yang menawan membuat saya senang!"
Pipinya sedikit memerah dengan senyuman penuh.
Ilham memandangi senyumannya dan membalas dengan senyuman tipis.
"Saya ikut senang mendengarnya."
Ia lalu melihat ke arah cangkir kopinya yang sudah habis dan berkata.
"Apa setelah ini kau masih sibuk Dinda?"
Hal tersebut merupakan isyarat tubuh melalui kontak mata dan Dinda pun melihatnya.
"Luar biasa. kecantikan dan ketelitianmu bukan hanya dari penampilan saja, tetapi caramu berkerja juga Dinda."
Ilham mengatakannya dengan sejujurnya, tetapi hal itu justru membuat dada Dinda berdetak lebih cepat dan pipinya merah merona hingga iapun reflek langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Apa ada sesuatu?" Ilham bertanya bingung.
"Te-...." Dinda langsung diam menunduk sambil berdiri tanpa melanjutkan perkataannya.
"Te? ... ada apa dengan te?" tanya ia kembali.
__ADS_1
Te(u) kalau dalam Basa Sunda sendiri artinya tidak, tapi ini bukan te(u) yang seperti itu.
"Te...te...Terima kasih atas pujiannya b-bos."
Ia sekilas melirik cangkir kopi dan langsung mengambilnya dengan dirinya yang masih menundukkan kepala.
"S-saya akan membuatkan kopi yang baru. Mohon ditunggu, permisi!"
Ia sedikit membungkuk dan membalikkan badan, berjalan pergi meninggalkan Ilham sendirian di ruangannya.
"O-okee." jawab Ilham yang agak kebingungan.
Dia hanya diam duduk di tempatnya sambil memperhatikan gerak gerik Dinda yang berjalan keluar, dan pintu pun tertutup.
"Dia kenapa ya? ...." ia memegang dagunya, "Apa jangan-jangan dia tersipu malu? ... Seorang Dinda baru saja tersipu malu?" pikirnya dengan alisnya yang naik ke atas.
Ilham kemudian memutar kursi rodanya hingga berbalik menghadap belakang, melihat pesawat yang terbang.
Tak lama ia menggelengkan kepala dan berkata.
"Mungkin gua cuman salahpaham." ucapnya.
Sementara itu di depan pintu, Dinda tiba-tiba sedang duduk di bawah.
"Tadi itu senam jantung yang berbahaya. Hatiku tiba-tiba berdebar-debar. Ini tidak baik."
__ADS_1
Ucapnya dalam hati sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya, wajahnya benar-benar terlihat merah merona dengan matanya yang ia tutup. sedangkan cangkir kopi beserta piring kecilnya ada di sampingnya.
...****************...