Sistem Takdir & Keinginan

Sistem Takdir & Keinginan
[Pertemuan #3] Kebenaran dari kebohongan


__ADS_3

Akibat dari kepolosan anaknya, Hady berada dalam situasi yang serius. Ia melirik-lirik Aryo yang sejak tadi fokus menulis sesuatu.


"A-...Aryo." serunya dengan perasaan gugup, mereka pun sesaat bertatapan.


"Hum!" ia terlihat acuh.


"Kertas ini lu yang ngirim, kan?" sambil menunjuk kertas tersebut.


"Bukan."


"Tapi tadi yang lagi nulis cuman lu doang."


"Ohh, itu. ... gua lagi bikin berita baru tentang, 'Kebohongan teman lama yang menghancurkan kepercayaan'. nih!" Aryo menunjukkannya dari kejauhan.


"OYY!! Janganlah!" Hady mencoba menghentikannya.


"Oke, nanti gua publikasikan setelah nulis semua bukti-bukti dan faktanya." Aryo lanjut menulis.


"Lu denger gua ga, Aryo! janganlah!"


Hady mulai panik karena, jika Aryo sudah berkata begitu ia pasti serius serius terlebih lagi ia memang seorang jurnalis.


"Waduh! rungkad banget dah kalau gini terus." pikir Hady.


Ilham pun batuk kecil dengan sengaja lalu memanggil anaknya Hady.


"Ulfa!" Serunya dengan nada suara berbeda, lebih lembut dari biasanya.


Ulfa menoleh dan menatapnya, lolipopnya ia pegang.


"Iya. ... om tadi manggil Ulfa, kah?"


Ulfa menelengkan kepalanya sedikit ke kiri, Ilham mengangguk kecil dan tersenyum hangat.


"Iya, benar. ada yang mau om tanyain sama Ulfa."


Kemudian ia langsung menoleh untuk menatap Hady.


"Dan buat lu, Hady. ... diam lah ditempat agar permasalahan ini segera selesai."


Hady pun mengangguk paham dan terdiam, Ulfa melirik mereka berdua.


"Apa om lagi marahan sama papa?" ia mengedipkan matanya.


Ilham menggelengkan kepalanya, "Tidak kok, kami tidak marahan. Ulfa bisa mendekat kesini sama om sebentar?"


Ulfa menoleh dulu kepada Hady, ia pun mengangguk memperbolehkan.


"Permennya papa pegang dulu ya."

__ADS_1


"Umm!" Ia mengangguk.


Hady mengambil permennya dan menurunkan Ulfa dari pangkuannya. perlahan-lahan ia berjalan ke tempat Ilham.


"Sini om pangku."


Ulfa nurut dan Ilham mengangkatnya lalu memangkunya di paha.


"Kenapa Om?"


Dilihat-lihat dari dekat secara seksama Ulfa lucu dan imut sekali, dengan ekspresi polosnya dan matanya yang indah.


"Om Ilham mau bertanya tentang mama Ulfa nih. Boleh, ga?"


"Boleh kok om."


"Baguslah kalau boleh. Sebenarnya mama lagi di rumah atau memang lagi di luar negeri?"


"Mama ada di rumah kok, lagi istirahat. semalam belum bobo dan capek kerja."


"Ouhh! begitu ya."


Ilham sekilas memandang Hady dengan tatapan tajam dan melanjutkan pertanyaannya.


"Kenapa Ulfa bisa tau mama belum bobo? Bisa tolong Ulfa ceritain ke om?"


Ilham tersenyum familiar sehingga Ulfa pun merasa nyaman dan tidak sungkan untuk bercerita.


"Perasaan jadi ga enak nih." Ucap dalam hatinya.


Ulfa pun mulai bercerita pelan-pelan, semuanya menyimak dengan baik.


"Semalam tuh Ulfa kebangun, tapi waktu bangun papa sama mama ga ada di kasur, terus Ulfa cari. Waktu di ruang kerja papa lampunya masih nyala, sama kedengeran musik besar banget dari dalem. Ulfa juga sempet denger suara mama teriak kenceng gitu om, tapi ga terlalu jelas, teriakannya juga aneh."


Sepanjang Ulfa bercerita Hady berdoa untuk keselamatannya sambil menunduk.


"Teruskan Ulfa langsung teriak-teriak manggil papa sama mama tapi ga ada yang jawab. akhirnya Ulfa tungguin deh sampe keboboan lagi. waktu udah pagi papa sama mama masih belum keluar, Ulfa coba teriak manggil lagi dan papa keluar. papa kaget dan langsung peluk Ulfa."


"Jadi Ulfa bobo di ubin sambil nunggu papa sama mama keluar?"


"Nda di ubin, ada karpet begitu warna merah."


"Syukurlah. Om kira bobo di ubin."


Ilham mengelus kepala Ulfa yang membuatnya senang.


"Abis itu kelanjutannya gimana? Om jadi penasaran." tanyanya.


"Abis itu Ulfa langsung tanya lagi apa di dalem. kata papa, 'Ada kerjaan lembur bareng mama'. Ulfa ngintip sedikit ke dalem, ada kayak balon gitu jadi Ulfa kira abis ngerayain sesuatu. terus perut Ulfa bunyi dan papa buatin masakan, kami makan berdua. sedangkan mama, kata papa, 'baru bobo, biarin aja', jadinya papa ga mau bangunin. begitu ceritanya om."

__ADS_1


Ulfa benar-benar menceritakan semuanya yang ia alami semalam. Hal tersebut membuat papanya kaget sekaligus semakin pasrah dengan keadaan.


"Anak gua jujur banget sih! ga nyangka gua berhasil didik begini meskipun jadi bumerang sendiri."


Keluh kesah Hady di dalam hatinya, ia seperti terharu tapi juga was-was.


"Jadi cerita sebenarnya begitu yaa."


Ilham terlihat puas setelah mendengar cerita dari Ulfa dan ia mengelus-elus kepala Ulfa dengan lembut.


"Ulfa ternyata anak yang penurut dan jujur. pinterrr!"


"Mmhm!!"


Ulfa terlihat senang sekali mendapatkan pujian sambil di manjakan.


Sementara itu yang lainnya mulai menyindir Hady.


"Sebenarnya istri gua lagi ada panggilan keluar negeri." Sindir Aryo.


"Dia ga bisa bawa anak jadinya gua yang jaga." Tio pun ikut menyindir.


"Faktanya ternyata abis usluk-usluk sampai pagi hari tiba."


Sindir Reval sambil memainkan jari jemarinya untuk memberikan ilustrasi.


"Pfftt!!" Mereka semua menahan rasa ingin ketawa, pipi Hady menjadi memerah dan menundukkan kepalanya.


Perasaan khawatir dan was-wasnya kini berubah menjadi rasa malu.


"Tahan dulu semuanya. mari kita dengarkan penjelasan detail secara langsung dari yang bersangkutan. silahkan terdakwa Hady." Ilham mempersilahkan.


ia kemudian memandang Ulfa, "Om izin tutup telinga Ulfa dulu ya?" dengan senyuman hangat.


"Kenapa Ulfa ga boleh denger?" Tanya herannya.


"Begini Ulfa cantik... pembahasan om sama yang yang lain bisa bikin Ulfa pusing. Ulfa pasti ga mau pusing dan sakit kepala, kan?" Ia menaikkan alisnya.


Ulfa menggelengkan kepala, "Engga mau, engga mau. Ulfa mau baik-baik aja, ga mau pusing."


Ia memegang kepalanya dengan ekspresi cemas yang menggemaskan.


"Nah, maka dari itu om izin tutupin telinga Ulfa dulu ya, okee cantik?" Ilham memberikan kedipan mata kanannya sambil tersenyum.


"Iya om." Ia sangat penurut.


"Brengsek! dia jago memanipulasi anak gua, suatu tanda bahaya nih." Hady menatap mereka berdua.


"Baik. Sekarang coba lu jelasin yang sebenar-benarnya!" tegas Ilham.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2