
Hembusan angin terasa sejuk menari-nari hingga membuat tengkuk leher Emily terasa begidik. Karena rambut panjang nya yang disanggul dengan model side low bun, membuat leher jenjangnya terlihat jelas hingga angin pun bebas menyentuhnya berkali-kali.
Wanita cantik itu beberapa kali mencoba menyentuh leher nya dengan tetap tersenyum kesemua tamu yang menyapanya di hari istimewanya. Emily terlihat sangat anggun, ditambah gaun pengantin klasik yang digunakannya, mengikuti lekuk tubuh nya yang terbentuk sangat sempurnah.
Beberapa kali Emily mengalihkan pandangan matanya ke arah kincir angin besar yang terus berputar dengan suara khas nya. Di tengah-tengah hamparan ladang gandum hitam milik keluarga besar dirk van zee, yang saat ini sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Tidak jauh dari tempat Emily berdiri pun mengalir sungai kecil yang membelah rumah utama keladang gandum tersebut hingga ke ladang peternakan sapi dan domba milik mereka.
Pantas saja opa betah tinggal di mildam, akupun dapat merasakan kedamaian yang tercipta alami di desa ini. Ucap Emily dalam hatinya.
Berkali-kali Emily memuji keindahan alam di salah satu desa yang berada di Friesland Heerenveen, Belanda. Desa kecil yang dipilih oppa Haghen dirk van zee untuk menghabiskan masa tuanya. Udara dingin yang terus bertiup pun tidak terasa karena kehangatan tatapan, senyuman dan canda tawa antara keluarga besarnya dan keluarga besar pemilik hampir dua puluh lima persen lahan di Frisian Island tersebut.
“Waar is Rei? , ik zie het niet!” (Dimana Rei, saya tidak melihatnya!” Tanya Oppa Haghen kepada Emily.
“Kak Rei,..Hmm, Opa maaf. Aku pun tidak menyadari kalau Kak Rei pergi.” Jawab Emily sambil memegang lembut tangan Opa Haghen. Opa yang sudah dianggap nya seperti Opa kandung sendiri.
“Die jongen, pas maar op als gih weer in de problemen komt!” (Anak itu, awas saja kalau buat masalah lagi!) Desis Oppa Haghen,matanya berusaha mencari cucu kandung satu-satunya itu.
Emily tersenyum lebar, sudah lama sekali dia memang tidak bertemu dengan Reichard sampai akhirnya tiba-tiba Opa Haghen datang kerumahnya bersama cucunya itu untuk meminangnya. Padahal Reichard tetap berada di Indonesia ketika Opa Haghen memilih tinggal di Mildam. Terakhir mereka bertemu saat sama-sama merawat Opa menjalani operasi pemasangan ring jantung di Singapura dua tahun lalu, dan saat Opa Haghen pergi ke Belanda, saat itu juga Reichard dan Emily tidak pernah bertemu lagi walau sekedar menyapa di whatsapp.
Reichard yang terlalu sibuk dengan dunia bisnisnya, dan Emily yang juga sedang naik daunnya di dunia entertain yang dipilihnya hingga membuat keduanya seakan lupa akan pesan sang Opa saat itu.
“Jaga hati kalian, dua atau tiga tahun lagi kalian harus sudah menjadi pasangan suami isteri!”
Hingga tiba hari ini, saat keinginan sang Opa sudah terwujud.
“Emily!!!” Panggil Opa Haghen memecahkan lamunan Emily.
__ADS_1
“Ya Opa, maaf. Aku akan segera mencari kak Rei.” Emily pun segera beranjak dari tempatnya berdiri.
Dia terus melangkah mencari sosok pria yang baru saja menjadi suaminya itu, sosok pria yang dari kecil sangat di kagumi dan dicintainya, satu-satunya pangeran hati yang menguasai seluruh ruang di hati Emily.
Hingga akhirnya langkah kaki Emily berhenti di depan sebuah kamar dengan design pintu yang sangat unik. Seekor harimau putih yang menatapnya tajam seolah akan menerkam dari design yang di buat seorang arsitek asal Indonesia yang didatangkan sendiri oleh Reichard. Kamar milik Reichard, yang kinipun menjadi kamarnya juga, kamar pengantin mereka.
Saat itu jantung Emily berdegup kencang, kedua telapak tangannya terasa dingin. Bibir mungilnya spontan tersenyum tipis, saat pikirannya melayang ke sosok Reichard dan hal apa saja yang akan mereka lakukan didalam kamar itu nanti.
...
“Haiii, bukannya ini adalah kamar pengantinmu. Kenapa kamu membawaku kesini?” Tanya Moyna sambil membelai lembut rahang bawah wajah Rei.
“Bukannya ini yang kamu harapkan honey? Walaupun aku menikah dengannya, tapi kamulah satu-satunya wanita yang berhak menikmatinya.” Jawab Rei dengan senyuman tipis dan tatapan liarnya yang mulai menjalar keseluruh tubuh seksi Moyna.
“Bahkan kamu sengaja menggunakan gaun itu dihari pernikahanku!” Desah Rei. Gaun Moyna memang sangat terbuka, baik di bagian atas dada dan bawah paha mulusnya. Bibir Rei semakin mendekat di telinga Moyna, lalu mulai menjalar hingga beradu dengan bibir seksi milik Moyna. Rei mengecup sekretarisnya itu, sekali, dua kali...hingga kecupan berulang yang membuat keduanya sama-sama terhanyut gejolak asmara dan nafsu didalam kamar yang tercium sangat wangi oleh berbagai macam aroma bunga yang berada didalamnya.
“Rei,...Rei...” Panggil Moyna.
“Ya honey, enakkan” Desah Reichard.
“Em...Emily!” Ucap Moyna sambil berusaha mendorong tubuh kekar Reichard dari atas tubuhnya.
Tubuh Emily seketika terasa sangat panas, lidahnya keluh. Seluruh badannya bergetar hebat dan jantungnya bergemuruh seperti kilat yang menyambar.
Reichard langsung bangun dan meraih pakaian dalamnya. Dengan cepat dia berlari kearah Emily dan meraih tangan isterinya yang akan memilih keluar dari dalam kamarnya.
“Arrrggghhh jahannam kalian!” Teriak Emily. Namun Reichard langsung membekap mulutnya dengan keras.
__ADS_1
“Diam!!! Sekali lagi kamu teriak aku tidak segan-segan membunuhmu saat ini juga!” Bentak Reichard.
Bunuh saja aku sekarang juga!!! Setidaknya itulah yang diinginkan Emily saat itu, namun lidahnya pun tak mampu berucap karena tangan Reichard sangat erat membekap mulutnya.
Emily hanya mampu meneteskan air mata yang kini mengalir deras di atas kedua pipinya. Sekuat tenaga dia berusa melepas cengkraman Reichard, namun hanya sia-sia saja. Reichard terlalu kuat untuk dilawan olehnya.
“Honey, lepaskan tangamu. Emily bisa mati kehabisan nafas!” Pinta Moyna.
Reichard pun melepaskan Emily
“Cepat atau lambat kamu memang harus mengetahuinya Emily, satu-satunya wanita didunia ini yang aku inginkan hanyalah Moyna!” Tukas Reichard bagaikan sayatan tajam yang menikam jantung Emily sangat dalam. Hingga membuatnya yakin tidak akan mampu mempertahankan hidupnya lagi.
“Aku mencintainya, hanya dia yang aku inginkan! Bukan kamu!” Lanjut Reichard.
“Lalu kenapa kamu menikahiku? Kamu pikir pernikahan suci itu sepadan dengan perbuatan kotor dan bejad kalian!” Ucap Emily dengan suara paraunya.
“Kamu pikir aku mau menikahimu jika bukan karena Opa yang memintanya?”
“Opa tidak akan sudi memintamu menikahiku, seandainya dia tahu sebejad apa kamu! Dan aku pun tidak akan pernah mau menikah dengan mu jika saja kamu jujur kepadaku sebelumnya!”
“Emily maafkan aku...” Moyna berusaha menggapai tangan Emily yang mengeras dari balik gaun pengantinnya.
Plak!!! Tamparan keras Emily pun mendarat diwajah cantik Moyna.
Plak!!! Reichard membalas tamparan Emily hingga membuat isterinya itu jatuh tersungkur diatas lantai.
“Jahat kamu Kak Rei!! Aku tidak sudi melanjutkan pernikahan ini! Aku benci sama kamu!!!” Isak Emily.
__ADS_1
“Yaaa oke jika itu maumu, aku menceraikanmu. Aku menjatuhkan cerai untukmu. Talak tiga untukmu saat ini juga!” Tegas Reichard.