
“Yang mereka ketahui testpack itu milikmu...Emily.” Ucap Reichard menghentikan langkah Emily, saat wanita yang sedang hancur hatinya itu memutuskan akan keluar dari kamar.
Emily teringat akan sikap dan perkataan mama nya tadi, pantas saja mamanya mengelus perutnya dan berkata tentang janin.
Jadi karena itu...Batin Emily.
Tanpa pikir panjang lagi Emily melanjutkan langkah nya dan hendak membuka gagang pintu agar segera keluar dari kamar yang terasa sangat panas baginya, walau cuaca disekitar sangatlah dingin.
“Emily...” Panggil Reichard lagi, namun Emily tidak memperdulikannya.
Emily tetap membuka gagang pintu itu dan keluar dari kamar meninggalkan Reichard yang masih beridiri lemas menatap kepergian Emily.
Apa yang akan terjadi jika Emily membantah kehamilannya kepada opa nya. Hanya itu yang Reichard takuti, kepergian opa akan menjadi luka yang mendalam untuk Reichard.
Reichard pun mengambil langkah panjang, dia berlari menyusul Emily yang masih berjalan pelan menurunin satu persatu anak tangga yang akan membawa nya ke ruang makan.
“Hati-hati sayang!” Seru Reichard, dia langsung merangkul pinggang Emily saat dia melihat opa Haghen dan kedua orang tua Emily yang sedang menatap mereka secara bersamaan.
“Kamu harus tahu, aku bukanlah artis dalam dunia nyataku!” Bisik Emily cukup membuat jantung Reichard berdesir hingga membuat tubuhnya seakan melemah.
“Kamu juga harus tahu, jika terjadi sesuatu kepada opa. Maka kedua orang tuamu pun tidak layak untuk hidup lagi!” Balasan bisikan Reichard bagaikan serangan balik yang mampu membobol gawang Emily.
Seketika Emily membalas tatapan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan senyuman. Juga opa Haghen yang sudah dianggapnya seperti kakek kandung sendiri.
“Seandainya aku harus mengambil karakter yang kamu mau, bayarannya sangatlah mahal!” Bisik Emily lagi saat langkah mereka hampir saja mendekati ruang makan keluarga itu.
“Berapapun bayarannya, aku bayar!” Balas Reichard. Pria itu pun langsung tersenyum manis kearah Emily dan mempersilahkan wanita itu duduk di kursi yang sudah di siapkan untuknya.
“Makan yang banyak ya sayang, baby kita pasti lapar sekali.” Ucap Reichard, pria itu terlebih dahulu membelai perut Emily dan mengecup kepalanya sebelum akhirnya duduk di samping kursi Emily.
__ADS_1
Aiden yang tidak sengaja masuk kedalam ruangan itu pun tersentak kaget, saat melihat reaksi Emily yang seolah sangat menghayati perannya sebagai seorang calon ibu muda yang sedang mengandung.
Reichard yang tersadar akan kehadiran Aiden malah menjadi semakin berakting sangat memperdulikan Emily, dia mengambilkan nasi dan lauk pauk yang cukup banyak hingga memenuhi piring makan Emily.
“Cukup kak...Kamu ingin buat aku chubby ya!” Protes Emily.
“Emily, kamu ini sudah menjadi isteri dan akan menjadi ibu juga. Tidak seharusnya kamu memanggil suamimu seperti itu!” Protes mama Luna kepada Emily.
“Hmm lalu aku harus memanggil apa mah?” Tanya Emily dengan lugunya.
“Papi...Darling atau apa panggilan suami tersayang dalam bahasa belanda?” Tanya balik mama Luna kepada semua orang yang berada disana
“Lieverd!” Jawab Aiden cukup mengejutkan, karena pria itu tiba-tiba saja masuk dan ikut duduk bersama dengan mereka.
“Ja, het is waar wat Aiden zei, je telefoontje had veranderd moeten worden. jullie zijn geen broers” (Benar kata Aiden, panggilan sayang kalian sudah seharusnya di rubah karena kalian bukan kakak adik) Ucap opa Haghen sambil terkekeh riang.
“Oh natuurlijk, ik zal mijn geliefde vrouw bellen die zal bevallen van ons eerste kind met een heel speciale naam.” (Oh tentu saja, aku akan memanggil isteri tercintaku yang akan melahirkan anak pertama kami ini dengan sebutan istimewa) Ucap Reichard, sambil tersenyum dan melirik kearah mata Aiden yang terus saja menatap Emily dengan penuh curiga.
Apakah kamu juga mengetahui tentang kehamilan palsuku? Ah Aiden...Ingin rasanya aku langsung memelukmu dan memintamu membawaku pergi jauh dari rumah ini sekarang juga. Batin Emily.
Kamu mungkin bisa membohongi mereka, tapi tidak denganku. Aku sangat yakin kamu tidak sedang hamil, apalagi hamil sebelum menikah dengan Reichard! Batin Aiden dalam batinnya, seolah berkata dengan tegas kepada batin Emily.
Aiden bodoh! Tidak bisa kamu bersikap biasa saja, kenapa menatap Emily seperti itu! Protes Reichard dalam batinnya juga.
“Aduh aku lapar sekali, aku harus mengisi lambungku secepatnya!” Ucap Emily sambil melahap makanannya dengan cepat.
“Pelan-pelan mijn liefje, aku suapin saja ya.” Reichard memegang tangan Emily dengan sangat lembut dan mengambil sendok dari tangan itu yang juga hampir saja membuat Emily tersedak.
“Uhuk...uhuk!” Kini Aiden yang tersedak air putih yang baru saja di teguknya.
__ADS_1
Reichard tersenyum puas, dia menyendok makanan itu dan meyuapi Emily dengan perlahan. Matanya menatap lembut kearah kedua mata Emily yang mulai terasa panas.
Ahh...Jika saja benar aku mengandung anakmu...Sayangnya, anak itu tidak berada didalam rahimku. Batin Emily
Emily mengikuti alur yang diciptakan Reichard saat itu, dia benar-benar menjalankan perannya dengan sangat sempurnah. Membuat opa Haghen dan kedua orang tuanya semakin yakin dengan kebahagiaan atas berita kehamilan itu.
Aiden yang tidak sanggup lagi akhirnya memilih pergi dari ruang makan itu. Dengan langkah beratnya dia berjalan keluar rumah dan menghampiri Layla yang sedang sibuk dengan notebook miliknya.
“Sedang apa kamu?!” Tanya Aiden penasaran, karena secara tidak sengaja dia melihat foto Emily bersama dengan Daffa Marinho dalam sebuah poster film.
“Film ini harus tayang di hari valentine, My Emily harus segera syuting secepatnya ai ai sebelum perutnya belendung jadi balon huhuhu...Dan you know, adengan dalam film ini mengharuskan Emily membuka pakaiannya...”Jawab Layla sambil sesegukan sedih.
“What...Membuka pakaian?!” Tanya Aiden lagi dengan keras.
“Yess, Maksud eike Emily harus menunjukkan perut rampingnya di film ini, karena dese harus perperan sebagai seorang atlete renang.” Jawab Layla.
“Atlete renang?...Kenapa kamu ambil peran seburuk itu untuk Emily?!” Protes Aiden.
“Emily sudah menyetujuinya ai ai...bukan eike saja yang ambil keputusan, tapi bagaimana ini kalau perut Emily belendung nantinya.”
“Belendung-belendung...Apa sih kamu, Emily tidak hamil!” Raung Aiden.
“What...are yoy sure ai ai...My Emily tidak hamil?” Tanya Layla kegirangan.
“Yaaa, setidaknya itulah yang aku harapkan saat ini.” Jawab Aiden pelan.
Sudah banyak harapannya bersama dengan Emily yang tidak terkabul, Aiden selalu menerimanya dengan lapang dada. Namun harapannya saat ini sangat lah kuat penuh pengharapan.
Aiden sudah sangat mengenal Emily dan Reichard dengan baik, mereka tumbuh bersama.
__ADS_1
Tidak ada sedikitpun kebohongan yang mampu di sembunyikan Emily dari Aiden. Oleh sebab itu, dengan satu tatapan saja Aiden yakin, Emily tidak hamil.