
“Kita harus segera come back ke Indonesia Emily…Mister Erick sudah calling-calling eike
terus you know!” Rengek Layla kepada Emily.
“Ya, hari ini kita kembali ke Indonesia. Urus semuanya!” Tukas Emily.
Layla pun mulai sibuk merapihkan barang-barang Emily dari dalam kamarnya, sedangkan Emily berdiri di balkon kamarnya sambil mencoba menikmati hembusan dingin udara di negeri kincir angin itu yang seharusnya terasa menyejukkan untuk Emily.
Namun dia sudah tidak sanggup berlama-lama disana. Tidur satu kamar dengan seorang pria yang sangat dicintainya namun bukan suami nya lagi dan menatap pancaran kebahagiaan setiap tatapan mata opa Haghen yang sangat bahagia atas pernikahan dan kehamilan palsunya. Belum lagi Emily juga harus berbohong kepada kedua orang. Berbohong atas kebahagiaan yang diimpikannya namun nyatanya sangat menyakitkan baginya.
Perlahan Emily melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu tanpa diketahui Layla, dia menuruni satu persatu anak tangga rumah yang terasa sepi itu.
Reichard baru saja pergi dengan opa Haghen untuk menghadiri rapat penting di perusahaan mereka. Sedangkan kedua orang tua Emily sudah terlebih dahulu kembali ke Indonesia tiga hari yang lalu.
Sejenak Emily menatap salah satu bingkai besar yang berisi foto pernikahannya dengan Reichard di tengah ruang utama dalam rumah besar itu. Saat itu hatinya masih sangat sumringah, Reichard merangkul erat pinggang Emily dari belakang dan mengecup lembut kening sebelah kirinya. Saat itu dia merasa sebagai satu-satunya wanita paling beruntung dan bahagia di dunia ini.
Namun ingatannya atas perbuatan Reichard dan Moyna di atas ranjang kamar pengantinnya kembali mencambik perasaannya, juga ingatannya atas ciuman pertamanya dengan Reichard sesaat sebelum Emily mengetahui kehamilan Moyna.
Tanpa sadar bibir mungil Emily yang awalnya tersenyum menjadi bergetar, air matanya pun mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Emily segera berlari keluar rumah menuju luasnya ladang gandum yang menguning. Berharap angin dapat mengeringkan air matanya dan menyejukkan pikirannya kembali. Emily pun bernyanyi di tengah ladang dengan suara merdu nya.
“Kupu-kupu yang lucu…Kemana engkau terbang…Hilir mudik mencari…Bunga-bunga yang kembang…Berayun-ayun pada tangkai lemah…Tidaklah sayapmu…Merasa…Lelah….” Nyanyi Emily dengan suara yang bergetar.
“Kupu-kupu yang lucu…”
Baru saja Emily akan melanjutkan nyanyiannya namun dia langsung merasakan telapak tangan kanannya yang dingin terasa hangat karena genggaman sebuah tangan yang sudah sangat dikenalinya. Tangan yang selalu menggenggam nya saat Emily kecil dahulu menyanyikan lagu yang sama.
“Kenapa tidak ada kupu-kupu disini, Aiden…?” tanya Emily lirih. Kedua matanya menatap jauh kearah hamparan ladang gandum yang berayun-ayun mengikuti irama angin.
“Siapa bilang…”
Emily langsung melihat dua kupu-kupu cantik terbang dihadapannya, sesaat setelah dia mendengar jawaban Aiden barusan.
Kesedihannya pun sirnah, getir bibir kepedihannya kembali menjadi senyuman manisnya.
“Ah…Aiden, dari mana kamu bisa mendapatkan kupu-kupu ini?” Tanya Emily kembali. dia langsung melepas genggaman tangan Aiden dan berlari mengejar kupu-kupu cantik yang berusaha tetap terbang melawan kencangnya hembusan angin.
__ADS_1
Aiden tidak menjawab pertanyaan Emily, dia hanya terdiam sambil tersenyum menatap Emily yang sedang tertawa kegirangan mengejar kupu-kupu itu.
Kamu tidak bisa berbohong dariku Emily, sekuat apapun kamu menutup kesedihanmu. Sekuat itu juga aku dapat merasakannya…Batin Aiden.
Emily tidak pernah berubah, disaat hatinya sedang sedih dia akan berlari keluar rumah dan mencari kupu-kupu. Disaat itu pula Aiden menemaninya dan berusaha mendapatkan kupu-kupu yang dicarinya.
Aiden tidak pernah bertanya kenapa Emily sedih, dia hanya mampu menemani gadis kecil itu sampai Emily lelah mengejar kupu-kupu dan tertidur dipangkuan atau pundaknya.
Rumah Emily dan rumah opa Haghen di Indonesia berdekatan. Di tengah bukit pegunungan hanya ada dua rumah saat itu, opa Haghen sengaja membangun rumah Emily karena Ayahnya Emily adalah sekretaris opa Haghen dan sudah menjadi orang kepercayaan opa Haghen.
Sejak orang tua Reichard dan Aiden meninggal dunia, opa Haghen dibantu kedua orang tua Emily mengurus dan membesarkan secara bersama Reichard dan Aiden.
Aiden kecil lebih sering tidur di rumah Emily dibanding dikamarnya sendiri dalan rumah opa Haghen. Karena Aiden tidak nyaman dengan tatapan kebencian dan ucapan ketus Reichard saat itu.
"Kamu bukan cucu opa, pergi kamu...pecundang!" Maki Reichard kepada Aiden saat itu.
Reichard kecil sangat membenci Aiden, karena dia merasa mama Aiden yang menyebabkan ibu kandung Reichard meninggal dunia lalu ayahnya malah menikahi mamanya Aiden.
"Ah...Aiden, aku lelah...." Ucap Emily yang langsung menarik tangan Aiden agar terduduk disampingnya.
Tanpa berkata-kata lagi Emily langsung meletakkan kepalanya di pundak Aiden.
"Reichard juga?" Tanya Aiden.
"Hmmm, entahlah. Opa mintanya kami tetap tinggal di sini untuk waktu yang lama lagi, tapi aku harus segera mulai syuting lagi." Jawab Emily.
"Apa mereka tahu kamu akan kembali ke Indonesia hari ini?" Tanya Aiden lagi.
"Kak Rei tahu...Harusnya kak Rei juga sudah memberitahu opa " Jawab Emily pelan.
Sejenak mereka saling terdiam.
"Kamu bagaimana...?" Tanya Emily.
"Bagaimana apanya?" Tanya balik Aiden.
__ADS_1
"Tetap stay disini atau kembali ke Indonesia?" Tanya Emily lagi.
"Aku juga akan kembali ke Indonesia, mungkin besok atau lusa." Jawab Aiden.
"Oh...Kenapa besok atau lusa?" Tanya Emily lagi.
"Hmm, kenapa? Apa kamu mau aku menemanimh balik hari ini ?" Tanya Aiden sambil tersenyum.
"Ih, ya enggak lah. Maksud aku, kenapa kamu tidak menemani opa Haghen dulu disini? Kamu tahukan kondisi kesehatan opa, kasihan opa jika sampai kamu dan juga kak Rei sama-sama kembali ke Indonesia." Elak Emily, Aiden pun tertawa.
"Opa Haghen akan ikut ke Indonesia." Ucap Aiden sangat mengejutkan Emily.
"What...?!" Emily terperanjat hingga menarik kepalanya dari punggung Aiden dan menatap Aiden tajam.
"Why?" Tanya Aiden sambil mengangkat sebelah alis tebalnya.
"Kenapa opa malah ke Indonesia? Bukannya setahu aku opa mau menikmati masa tuanya disini...Kampung halamannya sendiri?"
"Karena kehamilanmu..." Jawab Aiden pelan.
"Kehamilanku?" Emily masih terkejut.
"Opa mau melihat sendiri dan memastikan perkembangan cucunya dari dalam kandunganmu baik-baik saja." Lanjut Aiden.
"Tapi..."
"Tapi kenapa Ily? Kenapa wajahmu jadi pucat seperti itu?" Aiden berharap Emily menjawab pertanyaannya dengan kejujuran atas kehamilannya.
"Tapi..bagaimana jika opa melarangku syuting?" Lanjut Emily cukup mengecewakan harapan Aiden.
"Rei belum memberitahu mu?" Tanya Aiden.
"Tentang apa..."
"Opa mengijinkanmu menyelesaikan kontrakmu sekali ini. Layla bilang kamu hanya cukup syuting satu bulan untuk project film barumu." Info Aiden.
__ADS_1
Emily menarik nafasnya dalam-dalam. Dadanya masih berdebar tidak karuan.
Jika opa Haghen ikut kembali ke Indonesia, lalu apakah aku juga harus kembali tidur satu kamar dengan kak Rei...Ya Tuhan. Batin Emily penuh kepedihan.