Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Dua Garis


__ADS_3

Reichard mengambil kantong berisi koffie verkeerd yang di genggam Emily dengan tangan kanannya, lalu meraih telapak tangan Emily dengan menggunakan tangan kirinya. Ada rasa bangga dan terharu saat Emily merasakan genggaman erat tangan Reichard dan melihat tatapan kedua mata pria yang dicintainya itu.


Hati Emily berbunga penuh keharuman walaupun secara sadar Emily tahu, Reichard hanya berpura-pura saja karena di depan pintu opa Haghen sudah berdiri sambil memegang erat tongkat miliknya dan menatap kearah mereka penuh curiga.


“Waar kom je vandaan?” (Dari mana saja kalian?) Tanya opa Haghen.


“Ik en Emily genoten van de ochtendzon aan de waddanzee.” (Aku dan Emily habis menikmati sunrise di Wadden Sea.) Jawab Reichard dengan tenangnya, sekilas dia menatap Emily dan memberikan senyuman penuh pesona kepada wanita yang sangat mencintainya itu.


“Ja opa, ik dwong kak Reichard om me mee te nemen om de vogels en zeehonden daar te zien.” (Ya opa, aku yang memaksa kak Reichard untuk menemaniku melihat burung-burung dan anjing laut disana.) Sambung Emily.


“Ok, jullie hebben ons ongerust gemaakt. Kom binnen, laten we samen ontbijten!” (Kalian sudah membuat kami khawatir saja, yasudah ayo masuk kita sarapan bersama!) Ajak Opa Haghen.


Opa Haghen mempersilahkan cucu dan cucu menantu kesayangannya untuk masuk terlebih dahulu kedalam rumah nya. Dia menatap penuh keharuan dari belakang ke arah pundah Reichard dan juga Emily.


Yulia, aku rasa sudah tugasku sudah selesai. Melihat mereka bahagia seperti itu, jika malaikat mau menjemputku sekarang pun aku rasa aku sudah ikhlas. Setidaknya, aku sudah tidak memiliki hutang lagi kepadamu. Ucap opa Haghen kepada hatinya sendiri.


Di meja makan kedua orang tua Emily sudah menunggu, mereka menyambut kedatangan Reichard dan Emily dengan senyuman hangat lalu mempersilahkan Emily dan Reichard untuk duduk di kursi nya masing-masing.


“Mama, papa ini koffie verkeerd. Tadi kita mampir sebentar ke cafe.” Reichard menyerahkan dua botol koffie verkeerd ke kedua orang tua Emily. Dan meletakkan satu botol di atas meja opa Haghen.


“Terima kasih Rei, oh iya apa Aiden juga bersama kalian? Tadi mama coba panggil kekamar Aiden tapi tidak ada jawaban.” Tanya mama Luna cukup mengejutkan Reichard dan juga Emily.


“Hmm, Aiden...” Emily mencoba menjelaskan, namun Reichard memegang tangannya dan memotong ucapan Emily.


“Aiden tidak bersama kami, mungkin dia masih tidur atau yaa..mungkin dia bersama dengan teman-temannya semalam. Aiden memiliki banyak teman juga di Mildam.” Ucap Reichard.


“Oh baiklah, ya sudah yuk kita makan. Mama sudah membuatkan nasi goreng petai kesukaan mu Rei hahaha. Kata opa kamu dan opa sangat merindukan nasi goreng ini.” Mama Luna mengambil sebuah piring dan menyendokkan nasi goreng itu untuk Reichard.


“Terima kasih ma!” Reichard menerima piring tersebut dan mulai memakannya.

__ADS_1


Mama Luna kembali mengambil sebuah piring untuk Emily, dan mengisinya juga dengan nasi goreng buatannya lalu menyerahkannya ke Emily.


“Uweeekkk!” Emily merasakan mual yang sangat kuat di tenggorokannya. Seketika kepala nya pusing dan keluar keringat dingin di sekujur punggung dan dada nya.


“Emily jij waarom? Voel je je niet lekker?” (Emily, apa kamu baik-baik saja?) tanya opa Haghen khawatir. Begitupun dengan kedua orang tua Emily.


“Aku baik-baik saja kok, aku ijin ke toilet sebentar ya!” Ucap Emily mencoba menenangkan mereka.


Reichard pun terbangun mengikuti langkah kaki Emily.


“Kamu makan saja, aku tidak apa-apa. Ini pasti karena asam lambung ku naik lagi. I’m fine ok!” Emily meminta Reichard untuk kembali ke mejanya.


“Sudah tahu punya sakit asam lambung, masih saja minum koffie itu. Kamu ini tidak pernah berubah Emily!” Gerutu Reichard.


Emily tidak menanggapinya, dia hanya ingin lekas sampai kedalam toilet dan memuntahkannya.


“Waarom heb je hem koffie gegeven?!” (Kenapa kamu memberikannya kopi?) Tanya opa Haghen kesal kepadan Reichard.


“Aku tidak memberikannya kopi, Emily yang mengambilnya paksa dariku dan menghabiskan semuanya.” Jawab Reichard.


“Astaga, maafkan Emily ya Rei. Dia itu masih saja suka merepotkanmu dari dulu.” Ucap mama Luna.


“Tidak apa-apa ma, bagaimana juga saat ini kan Emily sudah jadi isteriku. Untungnya aku sudah terbiasa dengan tabiatnya hahaha.” Canda Reichard diikuti tawa opa Haghen dan kedua orang tua Emily.


Selesai memuntahkan semuanya, Emily merasa tubuhnya sudah lebih baik lagi. Dia pun mencuci mulut dan mukanya berkali-kali.


Ah, aku jadi lapar lagi! Gerutu Emily sambil memegang perut nya yang sudah kembali rata.


Perlahan Emily berjalan menuju ruang makan, namun pandangannya kembali terasa gelap. Jantungnya pun ikut berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Emily memaksakan kakinya untuk tetap berjalan, walaupun nafasnya kini terasa berat dan dia bibirnya juga terasa sangat dingin dirasakan olehnya.

__ADS_1


“Emily?!” Panggil opa Haghen, opa sadar saat itu Emily tidak baik-baik saja.


Mereka pun terbangun dan menghampiri Emily. Namun saat itu juga Emily terjatuh tidak sadarkan diri.


“Emily!!!” Panggil mereka secara bersama.


Aiden yang baru saja masuk bersama dengan Layla pun ikut berteriak memanggil nama Emily.


“ILY!!!!” Teriak Aiden saat itu juga, dia melepas paksa pelukan Layla dan berlari kencang ke arah Emily yang tiba-tiba saja terjatuh pingsan di hadapan opa dan kedua orang tuanya.


Reichard menyingkirkan Aiden yang mencoba mendekati Emily. Seolah menegaskan kepadanya untuk tidak menyentuh Emily sedikitpun.


Dengan sigap Reichard membopong tubuh Emily dan membawanya membawanya masuk kedalam kamarnya. Menaiki satu persatu anak tangga dengan membawa Emily cukup membuat nafasnya berat namun dia berusaha kuat hingga berhasil meletakkan Emily keatas ranjang besarnya.


Aiden dan Lalyla mengikuti langkah kaki opa Haghen dan kedua orang tua Emily dari belakang. Mereka pun ingin memastikan keadaan Emily.


“Biasanya Emily selalu membawa minyak kayu putih di tas nya, Rei...kamu tahu, dimana Emily menyimpan tas nya?” Tanya mama Luna.


“Hmm, mungkin di dalam laci itu ma.” Jawab Reichard sambil menunjuk kearah samping tanpa melihat lagi ke sekelilingnya. Tatapannya tertuju ke wajah pucat Emily.


Mama Luna pun segera mendekati sebuah meja panjang yang di tunjuk Reichard. Namun pandangannya tertarik pada sebuah bungkusan kecil berwarna biru, sebuah bungkusan yang sangat dikenalinya.


“Rei...ini...” Ucap mama Luna pelan, namun Reichard tidak mendengarnya.


Mama Luna sangat penasaran dengan isi dari bungkusan yang sudah dipastikan adalah alat test pack tersebut. Dia membukanya perlahan, dan melihatnya dengan jelas.


Dua buah garis merah yang terlihat jelas di atas stick putih.


“Dua garis??! Tidak mungkin!!! Emily...Emily hamil?!!!” Teriak mama Luna histeris yang tentunya sangat mengejutkan siapapun yang berada disana.

__ADS_1


__ADS_2