Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Mercusuar Ameland


__ADS_3

Aiden terus mengayuhkan sepedanya menelusuri jalan, lalu memarkirkannya dan berjalan ke atas rerumputan yang cukup tinggi tanpa tujuan pasti. Pikirannya buntu harus melakukan apalagi ketika langkah kakinya terhenti tepat di sebuah bangunan tinggi yang berada tepat di depan pandangan matanya. Tujuan awalnya adalah kebibir pantai namun dia sudah berdiri di depan Mercusuar Ameland, mercusuar yang tidak asing baginya karena Aiden kecil dahulu pernah naik keatas sana dan mengumpat selama hampir seharian penuh saat habis bertengkar hebat dengan kakak tirinya, Reichard.


“Sepertinya kita memang berjodoh.” Ucap Aiden sambil menepuk dinding mercusuar itu berkali-kali.


Aiden ingat, sepuluh tahun lalu dia menaiki tangga mercusuar itu satu persatu sambil mengucapkan banyak doa. Sebanyak dua ratus tiga puluh enam anak tangga dan sebanyak itu pula doa dan harapan yang diucapkannya.


“Tapi tidak ada satupun yang terkabulkan hahahaha.” Ucapnya lagi pada kesendiriannya.


“Tidak ada salahnya kali ini aku kembali mengatakan semua harapanku lagi, ahh aku tidak tahu apakah sanggup naik keatas, kaki ku lelah sekali. Tidak berasa berjalan jauh hingga sampai kesini.” Gumam Aiden.


“Cih buat apa aku naik, bikin capek saja. Aku minta ditemukan jodohku saat ini juga pasti tidak akan terkabul. Cuma bikin patah hati saja!” Gerutu Aiden.


Aiden yang awalnya ragu, akhirnya memutuskan untuk membalikkan badannya dan meninggalkan mercusuar itu. Namun saat itu juga dia melihat sebuah bayangan manusia yang langsung menghindar darinya.


“Wie...” (Siapa?) Tanya Aiden pada sosok bayangan tersebut.


Namun bayangan itu menghilang dibalik banyaknya pepohonan tinggi yang mengelilingi mercusuar tersebut.


“Geest of mens?!” (Hantu atau manusia?!) Tanya Aiden lagi penasaran.


“Hihihihi....” Jawaban nyaring dari suara wanita yang melengking membuat Aiden saat itu juga terperanjat kaget.


“Sial! Jika kamu hantu seharusnya tidak usah menjawab!!!” Maki Aiden, dia pun segera lari menjauh dari sumber suara yang menakutkan itu.


“Hahahahaha dasar Aiden bodoh!” Suara hantu yang di takuti Aiden membalas memakinya.


“Apakah hantu belanda bisa bicara bahasa Indonesia?” Tanya Aiden kepada dirinya sendiri.


Aiden terus berlari tanpa berani menengok kebelakang lagi. Dia mencari sebuah sepeda yang di letakkannya tidak jauh dari mercusuar. Namun kini bukan hanya ada satu sepeda yang ada disana, Aiden melihat sepeda lain yang juga terparkir tepat disamping sepedanya. Dan dia mengenali dua sepeda itu adalah milik opa Haghen.

__ADS_1


“Jadi hantu itu...” Aiden membalikkan badannya, berusaha mencari sosok bayangan yang tidak terlihat lagi olehnya.


Rasa takutnya pun berubah menjadi rasa penasaran yang sangat tinggi, siapa sosok wanita dibalik bayangan yang baru saja menakut-nakutinya. Aiden yakin sekali, wanita itu pasti dari salah satu keluarga besarnya atau tamu undangan yang datang di acara pernikahan Reichard dan Emily.


“Siapa dia, datang sendirian di malam-malam seperti ini?” Tanya Aiden penasaran. Dia pun memutuskan kembali mendekati mercusuar itu.


Suasana hening diiringi kencangnya angin laut membuat suasana semakin mencekam bagi Aiden, dia terus berjalan mengintai setiap langkah dan seluk beluk rerumputan yang tinggi sampai akhirnya dia kembali sampai disebuah pintu mercusuar yang sudah sedikit terbuka. Aiden pun memutuskan untuk masuk kedalam mercusuar itu.


“Haiii, siapa kamu? Mengerti bahasa Indonesia kan? Jangan sembarangan naik keatas! Jika terjadi sesuatu kepadamu aku dan keluargaku juga pastinya yang akan direpotkan! Lekas turun!” Pinta Aiden dengan suara yang menggema didalam mercusuar itu.


“Turun lah! Setidaknya kamu harus ijin dulu pada tuan rumah!” Perintah Aiden lagi.


Tidak ada jawaban disana, Aiden hanya mendengar gema suara sendiri.


“Cih! Aku capek tahu...Jika kamu sudah naik keatas, aku akan menunggumu disini saja!” Ucap Aiden kesal.


Saat Aiden baru saja duduk disalah satu anak tangga, saat itu juga dia mendengar dengan jelas suara tapak kaki yang menginjak satu persatu anak tangga dalam mercusuar tersebut. Entah langkah kaki yang menurun atau menaiki anak tangga. Namun yang pasti langkah kaki itu semakin terdengar jauh, Aiden semakin yakin sosok bayangan itu sudah menaiki anak tangga dalam mercusuar itu semakin tinggi keatas.


Hingga akhirnya dia melihat dengan jelas wanita berambut panjang yang memandang jauh kearah gelapnya malam dari puncak mercusuar. Wanita itu juga menggunakan gaun sebatas dengkul berwarna putih.


Aiden menatap lebih kearah kaki sang wanita, dia ingin memastikan apakah kakinya menapak atau melayang. Ketika yakin kedua kaki wanita itu menapak Aiden pun memberanikan diri melangkah lebih dekat lagi.


“Apakah kamu mengenalnya?” Tanya sang wanita sangat mengejutkan Aiden, dia sangat kenal siapa pemilik suara lembut itu.


“ILY?...” Panggil Aiden pelan. ILY adalah panggilan kesayangan Aiden untuk Emily.


“Moyna....” Ucap wanita itu pelan.


“Hahh Moyna?” Aiden ragu. Dia yakin itu adalah suara Emily, bukan Moyna.

__ADS_1


“Apakah kamu kenal juga dengan Moyna? Sekretaris kak Rei yang seksi itu...sekretaris yang ternyata juga menjadi kekasih kak Rei selama dua tahun belakangan ini.” Tanya Emily dengan suaranya yang sangat parau.


“Astaga ILY....” Aiden langsung membalikkan tubuh Emily menghadap kehadapannya.


“Bagaimana bisa kamu kesini?, kemana Rei? Kenapa dia membiarkanmu jalan sendirian ke tempat ini?!” Aiden langsung memeluk Emily erat, dia tahu Emily pasti sangat terluka hatinya karena mengetahui siapa Moyna.


Aiden sudah ingin memeluknya sari tadi siang saat dia melihat langsung guratan wajah tertekan Emily bersama dengan Reichard. Bahkan Aiden ingin langsung menarik Emily pergi jauh meninggalkan kakak tirinya yang mbajingan itu.


“Kalian satu kantorkan, kamu pasti kenal siapa Moyna kan Aiden...Hiks, kenapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku kalau ternyata kak Rei sudah memiliki kekasih.” Isak tangis Emily sambil memukul punggung Aiden berkali-kali.


“Maafkan aku.” Hanya itu yang mampu diucapkan Aiden.


“Kamu tahu aku melihat mereka bercumbu didalam kamar pengantinku...Sakit Aiden...sakit sekali hatiku, sakit sampai membuatku hancur...sangat hancur...” Lanjut Emily.


“ILY, jujur. Akupun sebenarnya baru mengetahui skandal mereka satu minggu sebelum pernikahan kalian. Mereka sangat pintar menutupi hubungan mereka.” Ucap Aiden.


Emily menggerakkan tubuhnya agar Aiden bisa melepas pelukannya.


“Satu minggu bisa membuatku yakin untuk membatalkan pernikahan jika saja kamu mau jujur Aiden!” Protes Emily.


“Itupun yang ingin aku lakukan, namun...”


“Namun apa?”


“Apakah Rei sudah memberitahukan mu tentang penyakit opa?” Tanya Aiden.


“Kamu pun mengetahuinya?” Tanya balik Emily.


“Ya, opa mengatakan semua kepadaku tentang penyakitnya. Seumur hidupnya opa tidak pernah memintaku apa-apa, sampai saatnya beliau hanya memintaku satu hal. Yaitu membantunya mempersiapkan pernikahan kalian.” Jawab Aiden pelan.

__ADS_1


Emily menelan salivanya yang terasa perih di tenggorokannya. Dia mengutuk semua hal yang terjadi padanya dihari pertama pernikahannya.


“ILY, apakah kamu juga menggunakan sepeda untuk datang kesini? Bagaimana dengan Rei? Apakah dia mengetahui kepergianmu dimalam pernikahan kalian?” Tanya Aiden lagi penasaran.


__ADS_2