
Aiden terus mengayuh sepedanya, walaupun angin terus berhembus sampai menusuk ketulang nya. Namun sama sekali dia tidak pernah mengeluh kepada angin, karena dia ikhlas sudah memberikan jaketnya untuk Emily tadi malam.
Dari kejauhan Aiden melihat mobil Reichard yang masih terparkir di depan sebuah cafe. Hatinya pun lega atas kondisi Emily.
Semalaman dia diluar terkena angin, dia pasti lapar sekali. ILY...Semoga Reichard masih peduli kepadamu dengan memberikanmu banyak makanan disana. Aku harus memastikan kamu benar-benar dikasih makan oleh mbajingan tengik itu. Batin Aiden.
Pelan-pelan Aiden memarkirkan sepedanya, dengan mengendap-endap dia mengintip dari balik sebuah pohon kearah dalam cafe tersebut. Namun dia belum menemukan penampakan Emily dan Reichard dalam arah pandangan matanya. Aiden pun melangkah maju dan kembali bersembunyi dari balik sebuah tiang pondasi bangunan yang menopang dinding kaca dicafe itu.
“Kamu harus ingat, alasan kita harus sama!” Terdengar suara Reichard yang memberikan peringatan kepada Emily jika nanti di tanya oleh opa Haghen dan kedua orang tua Emily.
“Iya kak.” Jawab Emily singkat, dia lalu membawa tiga buah kantong kertas berwarna coklat berisi tiga gelas koffie verkeerd, lalu mengikuti langkah kaki Reichard yang berjalan cepat menuju mobilnya.
Aiden kembali melihat kearah bekas meja dan kursi yang belum lama diduduki oleh Emily dan Reichard.
Sykurlah dia sudah makan. Batin Aiden.
Aiden masih bersembunyi dari balik tiang, dia terus menatap pundak Emily sampai wanita yang sangat dicintainya itu masuk kedalam mobil Reichard dan mobil itu pun kembali melaju meninggalkannya.
“Wat doe je daar, kun je nederlands spreken?” (Apa yang sedang kamu lakukan disana, apakah kamu bisa bahasa Belanda?) Tanya seorang pelayan wanita kepada Aiden.
“Oh sorry!” Ucap Aiden dan berlalu pergi dari sana.
“Het moet komen door eenzijdige liefde.” (Pasti karena cinta yang bertepuk sebelah tangan) Ledek pelayan wanita itu pelan, namun Aiden dapat mendengarnya dengan jelas.
“Ik spreek heel goed Nederlands!” (Aku bisa Bahasa Belanda dengan baik!) Ucap Aiden kesal kepada pelayan wanita tersebut.
“Je kunt hier tenminste een kopje koffie kopen, kijk niet alleen naar de vrouw die je leuk vindt met andere mannen!” (Setidaknya beli lah segelas kopi, jangan cuma menumpang untuk mengintip wanita yang kamu suka bersama dengan pria lain disini!) Protes pelayan wanita itu dengan senyuman yang sebenarnya sangat manis namun terlihat meledek bagi Aiden.
“Wijsneus!” (Sok tahu!) Umpat Aiden kesal lalu segera berlalu meninggalkan pelayan wanita yang tertawa cekikian sendiri karena sudah berhasil menebak perasaan Aiden saat itu.
__ADS_1
Aiden mengambil kembali sepedanya, lalu segera mengayuhnya kembali. Namun baru saja dia mengayuh saat itu juga tatapan matanya tertuju pada sebuah bak sampah. Disana dia melihat seperti bagian tangan dari jaket kulit berwarna hitam yang sedikit tergantung melambai penuh kepedihan kearahnya.
Tanpa ragu dia pun mendekati bak sampah itu, dan mengambil jaket yang sangat dikenalinya dengan baik dari dalam bak sampah tersebut.
“Cih! Rei mbajingan tengik!” Maki Aiden kesal, Aiden tidak akan membiarkan jaket kesayangannya terbuang begitu saja, dia pun memakai kembali jaketnya.
“Wacht!” (Tunggu!) Teriak pelayan wanita itu lagi.
“Cih!!! Apalagi, rese banget nih cewek, mak lampir banget!” Umpat Aiden kesal.
“Wat zeg jij?” (Maksudnya apa?) Tanya wanita itu.
“Dit is mijn jas, niet ik wil stelen!” (Ini jaket milik saya, bukannya saya ingin mencuri!” Ucap Aiden saat dia menangkap wanita itu terus memperhatikan jaket yang baru saja Aiden ambil dari bak sampah dan digunakannya.
“Oh ja, ik raad het al, het was die knappe man die de vrouw met geweld opende en haar daar gooide.” (Aku sudah menduganya, pria tampan itu memaksa wanita yang kamu sukai membuka jaket itu dan membuangnya kesana). Ucap wanita itu penuh keharuan.
“wacht, dit is voor jou ... hmm, beschouw het als een verontschuldiging van mij voor onze eerste introductie.” (Tunggu, ini untukmu..hmm, anggap saja sebagai tanda maaf dariku dan untuk perkenalan pertama kita.) Ucap Wania itu sambil memberikan botol minuman.
“Het is koffie verkeerd!” (Isinya koffie verkeerd) Wanita itu memaksa Aiden untuk menerimanya, dia memasukan botol itu kedalam tempat botol yang memang ada disepeda Aiden.
“Ok, Thanks!” Aiden tidak ingin berbasa basi lagi, dia kembali naik keatas sepedanya dan mengayuhnya kembali.
“Mijn naam is Amy, leuk je te ontmoeten!” (Namaku Amy, senang bertemu denganmu!) Teriak wanita yang ternyata bernama Amy tersebut.
Aiden hanya melambaikan tangannya, tanpa menengok kearah Amy sedikitpun.
Dia hanya ingin lekas kembali kerumah opa Haghen, ingin memastikan kondisi Emily baik-baik saja. Aiden lebih takut Reichard terus menekan Emily karena sudah bersama dengannya dari pada pertanyaan yang akan ditanyakan oleh opa Haghen karena mereka bertiga menghilang dari rumah semalaman.
Sedangkan Amy terus menatap kepergian Aiden, wanita yang memiliki kecantikan khas negeri kincir angin itu terus memberikan senyum manisnya kepada pria yang sebenarnya sama sekali tidak memperdulikannya. Bahkan mungkin sudah melupakannya sama sekali.
__ADS_1
Dan takdir pun mengijinkanku bertemu lagi dengannya, tapi sayangnya dia benar-benar sudah melupakanku. Batin Amy.
“Sampai berjuma lagi Aiden, aku yakin kita akan bertemu lagi!!!” Teriak Amy kembali dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sangat lancar.
Namun Aiden tidak mendengarnya dengan baik, dia terlalu cepat mengayuh sepedanya.
Aiden terus mengayuh tanpa memperdulikan rasa lapar dan dahaga, hingga akhirnya dia sampai kehalaman rumah opa Haghen.
Bukk!!! Aiden tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang tiba-tiba saja keluar dari dalam mobil. Namun sayangnya kali ini bukan wanita cantik khas negeri kincir angin...
“OMG Ai ai tampanku, memang ya jodoh tuh gak akan kemana...Au au, kamyu tidak apa-apa kan Ai Ai tampan...”
Melainkan wanita jadi-jadian yang sangat terobsesi kepadanya.
“Sial!!! Mau ngapain lo kesini?!” Ketus Aiden kepada Layla, sang asisten pribadi atau manager artis nya Emily.
“Au au...ya jelas karena kangen sama you lah Ai..Ai...” Jawab Layla sambil mengedipkan matanya berkali-kali ke Aiden.
“Cih!! Sial banget gue dikangenin sama lo!” Gerutu Aiden dan berlalu pergi dari Layla.
Aiden berjalan cepat memasuki ruang utama rumah opa Haghen, diikuti Layla yang berjalan sambil terus saja bicara kepada Aiden namun Aiden tidak memperdulikannya.
“Pelan-pelan dong Ai ai, nanti kalau eike kesandung gimandose.” Pinta Layla dan...
Buk!!! Lagi-lagi Layla dapat rejeki karena kembali menabrak Aiden walau dari belakang tubuh Aiden.
“Auuu tuh kan...” Ucap Layla sambil mengambil kesempatan memeluk Aiden dari belakang.
“ILY!!!!” Teriak Aiden saat itu juga, dia melepas paksa pelukan Layla dan berlari kencang ke arah Emily yang tiba-tiba saja terjatuh pingsan di hadapan opa dan kedua orang tuanya.
__ADS_1