Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Koffie Verkeerd


__ADS_3

Reichard menginjak pedal gas nya dalam-dalam saat dia menangkap tatapan mata Emily yang terpaku pada kaca spion, Emily terus memperhatikan Aiden dari kaca tersebut. Hingga mobil mereka semakin menjauh dan Aiden tidak bisa terlihat lagi.


“Hati-hati kak Rei!” Teriak Emily saat Reichard menginjak pedal rem secara tiba-tiba karena hampir menabrak seorang pria tua yang sedang menyebrangi jalan.


Sesaat pria tua itu mengumpat kearah mobil mereka, lalu kembali berjalan menyebrangi jalan yang baru di lintasinya sebagian.


“Kenapa sih harus ngebut?! Seharusnya aku tidak masuk kedalam mobilmu dan ikut balik dengan Aiden saja!” Protes Emily.


“Kamu pikir saja, jam segini opa pasti sudah terbangun dan sadar kita tidak ada dikamar! Kamu ini sudah aku larang keluar kamar sebelum aku kembali, malah selingkuh dengan Aiden!” Raung Reichard.


“Apa...Selingkuh katamu? Apa aku tidak salah dengar, dia itu Aiden....Aiden kak Rei!!! Ada juga kamu yang selingkuh dengan sekretaris seksimu itu! Cih!” Balas Emily tidak kalah kencang dengan raungan Reichard.


“Hahaha Moyna itu memang kekasihku, dan kamu lupa aku sudah menceraikanmu! Tidak mungkin aku selingkuh darimu!” Tegas Reichard.


“Oh tentu saja aku ingat kita sudah bercerai, jadi seharusnya tidak ada sebutan selingkuh diatara kita. Lalu kenapa kamu bilang aku selingkuh? Bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau aku bebas berhubungan dengan pria manapun yang aku inginkan?!” Balas Emily kembali.


“Oke, aku tahu. Dan pria yang kamu inginkan ternyata Aiden. Hahahaha sudah aku duga. Kalian berdua memang sangat cocok.” Ucap Reichard, matanya melirik kesal ke Emily, lalu dia menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas nya kembali.


Aku tidak pernah menginginkan Aiden, aku hanya menginginkanmu kak Rei. Bukan Aiden, hanya kamu pria yang aku cintai. Batin Emily meringis. Ingin rasanya dia berteriak di telinga Reichard tentang semua perasaannya.


Namun Emily memilih diam, matanya sudah lelah untuk menangis kembali. Begitupun dengan Reichard yang juga terdiam disepanjang perjalanan mereka. Mereka masing-masing terhanyut dalam gelombak pikiran mereka sendiri.


Hingga Reichard kembali menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah coffe shop dan cafe yang baru saja buka.


“Aku tidak lapar!” Ucap Emily.


“Siapa yang mau ajak kamu makan, tunggu saja disini kalau kamu tidak mau turun!” Desis Reichard.


Emily melirik kesal kearah Reichard yang sudah membuka pintu mobil nya dan meninggalkan Emily begitu saja.


Ya Tuhan, kenapa aku masih saja mengaguminya. Kenapa dia malah terlihat sangat cool barusan, bodoh sekali kamu Emily, bodoh! Batin Emily kembali memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


Tok tok tok!!! Lamunan Emily buyar saat mendengar ketukan jendela. Reichard memanggil Emily dan menintanya buka pintu mobilnya saat itu juga.


“Buka jaketmu! Itu punya Aiden kan!” Perintah Reichard saat Emily baru saja membuka pintu mobil tersebut.


“Cih! Kenapa dibuka? Aku kedinginan, tidak mau buka!” Elak Emily, dia kembali menarik pintu mobilnya namun ditahan oleh Reichard.


“Opa tahu itu jaket milik Aiden! Lekas buka atau aku sendiri yang membukanya paksa!” Desis Reichard.


“Egois!” Maki Emily kesal, terpaksa dia melepas jaket Aiden dan tanpa sadar dia memeluk jakat kulit itu ketika dirasakannya kembali angin dingin yang bertiup ditubuhnya.


Reichard merampas jaket itu dari pelukan Emily, dan membuang jaket Aiden kedalam bak sampah.


“Kak Rei!!! Itu jaket Aiden!” Protes Emily, dia turun dari mobil dan mengejar Reichard namun Reichard sudah berhasil membuang jaket tersebut.


“Aku rasa Aiden tidak akan membutuhkannya lagi!” Ucap Reichard.


“Ta...tapi...” Belum selesai Emily protes, Reichard menarik tangan Emily dan memaksanya masuk kedalam coffe shop yang dia tuju.


“Duduk, kamu harus sarapan!” Perintah Reichard.


“Haha barusan itu karena aku sedikit sakit perut saja, mungkin aku butuh ketoilet sebentar.” Ucap Emily sambil cekikikan sendiri.


“Disana toiletnya!” Tunjuk Reichard, Emily pun segera berlari dan masuk kedalam toilet yang ditunjuk oleh Reichard.


“Cih! Malu-maluin saja kamu! Kenapa harus teriak-teriak sih, aku tahu memang aku lapar. Tapi aku harus punya harga diri juga didepannya, aku tidak mau makan bareng dengannya disini, aku tidak mau membuat hatiku kembali berharap dapat memilikinya. Sadar cacing...dia sudah menceraikan kita!” Ucap Emily kesal pada perutnya sendiri dia kembali menatap wajah lesunya dari pantulan cermin yang ada diatas wastafel dalam toilet itu.


“Jelek sekali, wajahmu terlihat tambah jelek saja Emily! Pantas saja kak Rei tidak pernah menyukaimu!” Kali ini Emily protes pada wajahnya yang sedikit terlihat pucat.


Cukup lama Emily memaki dirinya sendiri didalam toilet, sampai akhirnya dia benar-benar merasakan tubuhnya bergetar dan keluar keringat dingin.


“Sial! Aku benar-benar lapar!” Emily pun memutuskan kembali ke meja mereka, dan melihat Reichard yang sedang asik menikmati sebuah appelflappen, yaitu roti khas belanda berwarna kuning keemasan renyah yang berisi apel dan kayu manis bertabur gula halus diatasnya.

__ADS_1


Emily menelan salivanya, tanpa pikir panjang lagi dia segera duduk dihadapan Reichard.


“Makan sop mu!” Perintah Reichard.


Emily segera menatap sebuah mangkuk berisi Erwtensoep atau sop belanda yang tidak asing lagi bagi Emily, itu adalah sop kesukaan Emily ketika Emily berkunjung kerumah opa saat masih tinggal di Jakarta.


Emily pun segera melahap sop itu sampai habis, tanpa sadar Reichard tersenyum tipis melihat Emily yang kelaparan sedang menghabiskan sopnya.


Selesai menghabiskan sop itu, Emily segera meraih sebuah gelas berisi koffie verkeerd.


“Hai itu minumanku!” Protes Reichard.


“Huaa maaf kak, sudah aku minum banyak. Kakak pesan lagi aja ya hehehe.” Ucap Emily tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Ceroboh, masih saja belum berubah!” Ucap Reichard kesal dan Emily hanya tersenyum lebar membalas tatapan mata Rei yang kesal namun juga terlihat hangat seperti dulu. Saat Reichard kecil yang sering memarahi kecerobohannya namun tetap memberikan perhatiannya kepada Emily.


“Hmm opa juga sangat menyukai koffie verkeerd, bagaimana jika kamu pesan lima lagi untuk dibawa pulang.” Saran Emily saat Reichard kembali memanggil pelayan di cafe tersebut.


“Lima koffie verkeerd...untuk siapa saja?” Tanya Reichard.


“Untuk kamu, opa, kedua orang tuaku dan Aiden.” Jawab Emily.


“Aku sudah tidak haus!”


“Yasudah pesan empat saja!”


“Oke, Ik bestelde drie van deze koffies om mee naar huis te nemen.” ( Aku pesan kopi ini tiga untuk dibawa pulang). Ucap Reichard kepada seorang pelayan.


“Kenapa hanya tiga?” Tanya Emily.


“Aiden tidak suka koffie!” Jawab Reichard ketus.

__ADS_1


Emily pun terdiam, dia sangat paham kalau Aiden juga sangat menyukaao koffie verkeerd. Dulu mereka bertiga sering membuatnya bersama di dapur opa Haghen.


Emily yang selalu menyebutnya dengan sebutan coffe latte dan Reichard yang selalu protes karena baginya rasanya jelas berbeda dengan coffe latte biasa, dan Aiden yang asik menghabiskan kopi itu tanpa memperdulikan argumen mereka.


__ADS_2