Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Sunrise


__ADS_3

“Kak Rei dapat pesan kalau Moyna sakit dan diapun diam-diam segera menemui kekasihnya itu, namun sebelum dia pergi. Kak Rei memintaku untuk tidak keluar kamar sampai dia kembali. Kak Rei tidak ingin opa dan kedua orang tuaku curiga.” Ucap Emily.


“Mbajingan! Bisa-bisanya dimalam pengantin kalian Rei malah memilih selingkuhannya. Aku tidak yakin kalau Moyna benar-benar sakit. Itu pasti bisa-bisanya mereka saja.” Geram Aiden.


“Moyna bukan selingkuhannya, mereka memang sepasang kekasih.” Ucap Emily pelan.


“Tapi kamu adalah isteri sah nya ILY, sebutan apalagi yang pantas diberikan untuk mereka jika buka perselingkuhan?!” Protes Aiden.


Emily baru saja mau membuka mulutnya untuk memberitahukan Aiden sesuatu, namun Aiden masih melanjutkan ucapannya.


“Aku tidak akan segan-segan membunuh Rei jika sampai dia meningggalkanmu lagi demi selingkuhannya itu!” Suara Aiden meraung diikuti gema yang membara dalam mercusuar. Aiden sangat marah dan Emily dapat merasakan betapa kecewanya Aiden kepada kakak tirinya itu.


Jantung Emily berdebar, jika saja Aiden tahu kalau dia bukan lagi isteri sah Reichard. Emily teringat pesan Reichard untuk tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai ucapan talak tiga Reichard kepadanya, bukan hanya itu secara sadar Emily yakin kalau dia masih sangat mencintai Reichard dan tidak ingin Aiden menyakiti pria yang sangat dicintainya itu sedikitpun.


“Jangan bodoh Aiden! Sudah tentu kamu kalah tinggi dari kakak tirimu itu hahaha.” Ledek Emily mencoba mencairkan amarah Aiden.


“Apa katamu? Aku hanya selisih tiga centi meter saja tingginya dari dia!” Ucap Aiden kesal.


“Tetap saja kalah tinggi, belum lagi otot-ototmu yang masih bau kencur itu. Tentu saja kalah kuat dibandingkan otot-ototnya kak Rei ku.” Emily tidak mau kalah, dia teringat kembali saat dia melihat Reichard mandi dibawah kuncuran air.


“Cih! Yang bodoh ini kamu! Masih saja bucin dengan pria mbajingan itu!” Aiden menepak pelan kening Emily dengan telapak tangannya.


Emily hanya tersenyum tipis, semua yang dibicarakannya adalah kejujuran hatinya. Dia masih seperti dulu, mengagumi Reichard dengan sepenuh hatinya. Walaupun pria yang dicintainya itu sudah mengkhianati pernikahan mereka dan menyakiti hatinya.


“Cih! Sial! Mbajingan itu pasti sudah menikmati keperawananmu sampai membuatmu tambah bucin walaupun sudah diselingkuhin!” Desis Aiden dan


Plak!!! Tamparan Emily mendarat keras di pipinya Aiden yang terasa dingin karena angin malam.


“Aduh!!! Sakit ILY!” Aiden mengusap pipinya berkali-kali. Emily pun menangis.


“Kok malah kamu yang menangis? ILY udah ya, maafin aku. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Aku hanya benci membayangkan Rei yang kotor itu sudah menyentuh tubuh sucimu. Maafkan aku yaaa.” Aiden menarik Emily untuk masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


Emily tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia hanya mampu menangis saat itu. Reichard bahkan sudah menjatuhkan talak tiga kepadanya sebelum dia disentuh seperti apa yang dibayangkan Aiden. Emily baru sekali merasakan kecupan lembut bibir Reichard di keningnya sesaat setelah Reichard mengucapkan ijab kabul. Kecupan lembut yang sampai detik ini masih dirasakan oleh Emily dan mungkin saja tidak akan pernah dia lupakan.


“Aku lelah.” Bisik Emily, Aiden pun melepas pelukannya.


“Kita masuk ya, angin ini bisa membuatmu sakit!” Ajak Reichard namun Emily menolaknya.


“Satu jam lagi...” Ucap Emily sambil melihat layar ponsel nya.


“Satu jam lagi?” Aiden tidak paham.


“Seharusnya satu jam lagi matahari akan terbit disana, aku ingin menikmati keindahan sunrise dari atas ini sambil berharap semua doa-doa yang aku ucapkan tadi saat menaiki satu persatu anak tangga dapat terwujud satu persatu.” Ucap Emily, sudah tidak adalagi guratan kesedihan diwajah Emily saat mengucapkannya.


“Kamu mempercayainya?” Tanya Aiden.


“Jadi kamu membohongiku?” Tanya balik Emily kesal.


“Hahahaha bukannya begitu, tentang cerita di mercusuar ini hanya mitos yang aku ciptakan sendiri waktu itu, aku tidak bermaksud membohongimu, lagian aku bingung kenapa kamu masih saja ingat, padahal sudah lama sekali.”


“Maaf ya ILY, kita hanya boleh berdoa sama Tuhan saja dan yakin Tuhan lah yang menjawab semua doa-doa kita.” Ucap Aiden sambil membelai lembut kepala Emily.


“Ya tentu saja, aku hanya percaya kepada Tuhan. Tapi aku harap tentang indahnya sunrise yang akan terlihat dari atas sini itu bukan sekedar mistos buatanmu saja kan?”


“Hahaha soal itu memang bukan mitos, dari atas sini kita akan bisa melihat indah nya sunrise. Saat matahari mulai naik lebih tinggi lagi saat itu juga kita bisa melihat burung-burung laut yang bermigrasi, juga anjing laut yang bersantai di pinggir pantai.” Jawab Aiden penuh antusias.


“Ahh Aiden, aku tidak sabar ingin melihatnya. Temani aku ya, kamu mau kan?” Pinta Emily penuh harap.


“Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini. Tapi ILY, aku masih penasaran, bagaimana bisa kamu sampai kesini?” Tanya Aiden penasaran.


“Aku mengikutimu bodoh! Memangnya kamu tidak sadar?!” Jawab Emily sambil membalas tepakkan di kening Aiden.


“What?! Kamu mengikutiku naik sepeda dari Mildam ke Ameland di malam-malam seperti ini? Astaga ILY, kenapa kamu tidak memanggilku, atau menghubungi ponselku minimal, jadi walaupun telingaku dibuat budek sama headset ini aku masih bisa membaca pesan atau mengangkat panggilanmu!” Protes Aiden.

__ADS_1


“Aku tidak yakin kamu akan mengijinkanku ikut, aku juga tidak mau opa dan kedua orang tuaku terbangun dan sadar dengan kepergian kita.” Ucap Emily sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Tiga puluh lima kilo meter, jarak sejauh itu kamu diam-diam mengikutiku ILY? Dan bodoh sekali aku tidak menyadarinya.” Sesal Aiden.


Emily malah tertawa mendengar penyesalan Aiden.


“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadamu.” Lanjut Aiden.


“Nyatanya kan aku baik-baik saja, sudah lah. Tidak usah di dramatisir lagi.” Ucap Emily.


Aiden segera melepas jaket yang dikenakannya lalu memakaikannya ke Emily. Mereka pun terlarut dalam gurauan canda tawa seperti biasanya mereka lakukan saat besama. Sejenak Emily dapat melupakan kepedihan dihatinya, sampai akhirnya cahaya berwarna merah, orange keemasan menyapa mereka. Keindahan sunrise dipagi itu menambah kebahagiaan dihati Emily.


Bukan hanya keindahan sunrise, burung-burung yang dimaksud Aiden pun mulai berterbangan menyatu dengan beberapa ekor anjing laut di pinggiran pantai.


Walau matahari sudah terbit namun angin masih terasa dingin bertiup mengenai kulit hingga menusuk ketulang. Namun Emily masih belum mau beranjak dari sana. Wanita cantik itu masih terkesima menyaksikan indahnya pemandangan pantai di Ameland yang tidak dapat dilihatnya tadi malam.


“ILY, pulang yuk! Opa dan kedua orang tuamu pasti sudah terbangun.” Ucap Aiden mengingatkan Emily.


“Ya Aiden, terima kasih ya sudah membawaku kesini.”


“Ya tapi tidak membawamu, kamu yang diam-diam mengikutiku!”


Emily dan Aiden tertawa bersama, mereka pun kembali masuk kedalam mercusuar dan menuruni satu persatu anak tangga.


“Jangan kencang-kencang ya mengayuh sepedanya nanti!” Pinta Emily.


“Hahaha iya, kamu capai gak? Atau mau aku bonceng saja? Biarkan saja sepedamu, biar nanti aku suruh orang lain mengambilnya!” Tanya Aiden.


Namun belum sempat Emily menjawab, sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka.


“Emily...lekas naik!” Perintah Reichard tegas dengan suara beratnya yang seakan menekan penuh keharusan.

__ADS_1


Reichard pun menatap tajam penuh tantangan kearah mata Aiden.


__ADS_2