Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Hamil


__ADS_3

“Sorry ma, itu memang milik Emily. Kami pernah melakukannya satu bulan lalu.” Ucap Reichard pelan, matanya berusaha membalas dengan tenang ke semua mata yang menatapnya.


Terutama dengan tatapan tajam Aiden yang seolah siap menerkam dan mencabiknya saat itu juga.


“What?! OMG Emily...Apa yang harus eike sampaikan lagi ke management, pers dan para netizen yang budiman. Huancur dah, hancur karier you Emily...Mr.Erick pasti marah besar, bisa kena pinalty kita, huaaa berapa ember yang harus kita bayarkan kemereka.” Histeri Layla sambil memukul punggung Aiden berkali-kali.


Aiden tetap diam tak bergeming. Tatapannya masih tajam menatap Reichard. Bahkan ketika Layla memukul pundaknya dengan kencang. Sedikitpun dia tidak bergerak atau menoleh.


“Saya akan menanggung semua kerugiannya!” Tegas Reichard kepada Layla. Sekilas dia membalas tatapan tajam mata Eiden dengan senyuman tipis yang seolah meledek Aiden.


“Bagaimana bisa Emily? Kenapa kamu tidak bisa menjaga kesucianmu sebelum menikah? Bukannya mama dan papa sudah sering mengingatkanmu atas hal itu...Dosa nak, huhuhu itu perbuatan dosa, bagaimana nanti status anakmu dalam agama ketika lahir, bagaimana kalau anak itu prempuan dan Rei walaupun ayah kandungnya tidak bisa menjadi wali nikahnya...Bagaimana...” Mama Luna kembali histeris.


“Cukup ma, jangan teriak-teriak seperti itu. Toh Emily sudah menikah dengan Rei, tidak usah khawatir jauh kedepannya bagaimana.” Pinta papa Aga sambil memeluk isterinya itu.


Berbeda dengan kedua orang tua Emily, Opa Haghen malah terlihat sumringah atas pengakuan Reichard tentang kehamilan Emily. Pria paruh baya itu lantas tertawa lalu memeluk cucu kesayangannya itu.


“Opa is erg dankbaar, Opa's passie voor het leven wordt sterker, wil wachten op de geboorte van opa's achterkleinzoon.” (Opa bahagia sekali, opa jadi tambah semangat hidup untuk menunggu kelahiran cicit opa) Ucap opa Haghen.


“Natuurlijk Opa, Opa moet sterk zijn en kan zeker herstellen.” (Tentu opa, Opa harus kuat dan yakin bisa sembuh) Bisik Reichard.


Aiden yang tidak kuat lagi menyaksikan dan mendengar semuanya, memilih keluar dari kamar itu. Diikuti oleh Layla yang masih saja menangis.


Bagaimana tidak menangis, Lalya baru saja mendatangani surat kontrak project besar film dengan Star Bonding Vision Entertainment. Emily adalah bintang utamanya, yang akan disandingkan dengan Daffa Marinho. Seorang aktor tampan blasteran Indonesia Prancis.


“Mereka adalah pasangan favorite netizen, you know kan ai ai...Ini adalah project besar, eike sudah berusaha menutup mulut semua oknum yang mengetahui pernikahan dadakan Emily dan Reichard. And then now...Emily malah hamil? OMG ai ai...Help bantu eike harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan karier Emily?!.” Tanya Layla kepada Aiden yang masih mematung. Wajah tampan pria itu terlihat kaku dan dingin tanpa ekspresi sama sekali.

__ADS_1


Pandangan Aiden beralih ke dokter Groff, dokter keluarga yang sudah puluhan tahun menjadi dokter kepercayaan opa Haghen yang sengaja di hubungi untuk memeriksa kondisi Emily.


Sejenak dokter Groff menyapa Aiden dengan senyuman ramahnya, lalu melangkah masuk kedalam kamar Reichard.


“Je moet het goed onderzoeken, ervoor zorgen dat Emily en mijn achterkleinkinderen in goede gezondheid verkeren!” (Kamu harus memeriksan dengan baik, pastikan Emily dan cicitku baik-baik saja!) Seru opa Haghen kepada doktrr Groff.


“Achterkleinkinderen?” (Cicit?) Dokter Groff mengangkat sebelah alisnya.


“Ja ik krijg binnenkort achterkleinkinderen. zie je dit, emily is zwanger!” (Ya, saya akan segera memiliki cicit, kamu lihat ini, Emily hanil!) Opa Haghen sangat berantusias menunjukkan hasil tespack yang sedang di pegang mama Luna kepada dokter Groff.


Mama Luna dengan berat hati menyerahkan tespack tersebut. Lalu Reichard segera merangkul dokter Groff agar segera mengikuti langkahnya mendekati ranjang dimana Emily terbaring belum sadarkan diri.


“Sebaiknya kalian tunggu di luar, biarkan dokter Groff memeriksa Emily dengan baik. Aku akan menemani dokter Groff disini!” Seru Reichard.


Aiden dan Layla masih menunggu dengan cemas diluar sana. Mereka yang sama-sama berharap kalau Emily tidak benar-benar hamil.


“Hahaha je krijgt een neefje, Aiden. En binnenkort ben je op zoek naar een andere baan. omdat Emily zich moet concentreren op haar zwangerschap!” (Hahaha kamu akan segera memiliki keponakan, Aiden. Dan kamu segera lah cari pekerjaan lain, karena Emily harus fokus dengan kehamilannya!) Ucap Opa Haghen dengan bangganya kepada Aiden dan Layla.


“Artinya apose?” Tanya Layla ke Aiden.


Aiden tidak menjawabnya, tidak juga mengubris ucapan opa Haghen barusan. Dia masih memilih diam dan mencoba menenangkan pikirannya sendiri.


Layla yang tidak mengerti apa yang dikatakan opa Haghen pun memilih untuk mencoba tersenyum ketir saja.


“We wachten wel beneden, Aiden, het is niet dat je niet ontbeten hebt!” (Kita tunggu dibawah saja, Aiden. Bukannya kamu belum sarapan!” Ajak opa Haghen.

__ADS_1


Jozef, asisten pribadi opa Haghen pun lekas menghampiri majikannya itu untuk membantunya berjalan menuruni satu persatu anak tangga.


Mama Luna dan papa Aga mengikuti mereka dari belakang. Begitupun dengan Aiden yang mencoba melangkahkan kakinya walau terasa berat baginya.


Layla yang masih belum mengerti dengan ucapan opa Haghen pun hanya bisa melongo dan ikut-ikutan turun kelantai bawah bersama dengan mereka.


“Sudah lah ma, tidak usah terlalu di permasalahkan kehamilan Emily. Ini semua sudah takdir kan, bagaimanapun Emily sudah menikah dengan Reichard.” Papa Aga mencoba menenangkan hati mama Luna kembali.


Keluarga besar mama Luna memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama diatas kehidupan mereka. Tidak heran jika mama Luna terus-terusa memikirkan hukum kehamilan Emily.


Opa Haghen sama sekali tidak mau memperdulikan ke khawatiran mama Luna, hatinya saat ini sangat bahagia. Dia bahkan makan lebih banyak dari biasanya dan meminum semua obat-obatannya dengan sangat semangat.


Begitupun dengan Layla, wanita jadi-jadian itu pun sejenak melupakan kekhawatiran akan nasib nya sendiri saat melihat banyak sekali makanan yang tersedia diatas meja makan tersebut. Dengan lahap Layla menyendok nasi goreng buatan mama Luna dan mengambil semua lauk yang tersedia disana.


Namun berbeda dengan Aiden, piringnya masih kosong, sekosong hatinya saat ini. Beberapa kali dia menatap ke lantai atas yang terhubung dengan ruang makan.


“Nak Aiden, makan ya!” Pinta mama Luna sambil menyerahkan sepiring nasi goreng yang baru saja disendokkannya untuk Aiden.


“Ya, terima kasih ma.” Aiden menerimanya, lalu memakan nasi goreng itu perlahan.


Tidak lama kemudian dokter Groff bersama dengan Reichard turun kelantai bawah.


“Hoe gaat het met hen?” (Bagaimana dengan keadaan mereka?) Tanya opa Haghen kepada dokter Groff.


“Ze... ze zijn prima.” (Mereka...Mereka baik-vaik saja.) Jawab dokter Groff pelan.

__ADS_1


__ADS_2