Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Vergeef Me


__ADS_3

“Ma sorry, sepertinya aku juga sangat lelah sekali. Aku butuh istirahat sejenak, biarkan Emily aku saja yang jaga ya!” Pinta Reichard kepada mama Luna yang sedang duduk disamping ranjang Emily dengan sangat khawatir.


“Emily tidak pernah pingsan selama ini, mama jadi khawatir.” Ucap Mama Luna.


“Is oke mas, tadi dokter Groff sudah periksa semua kondisi Emily baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan kurang tidur saja.” Reichard mencoba meyakinkan.


“Dan karena faktor kehamilannya juga ya?” Tanya mama Luna masih dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Sejenak Reichard menelan salivanya, dia membalas tatapan tajam Layla yang ikut memperhatikan mereka dari depan pintu kamarnya.


“Iya mah, oleh sebab itu. Biarkan kami istrirahat dulu ya.” Pinta Reichard kembali.


“Baiklah, jika Emily sudah siuman. Mama mohon kamu langsung kabarin mama ya nak.” Pinta mama Luna.


“Pasti mah.” Saut Reichard.


Mama Luna pun berjalan meninggalkan kamar Reichard bersama denga Layla.


Reichard segera mengunci pintu kamarnya, dan kembali mendekati Emily yang masih terlelap dalam dunia mimpinya.


Emily yang awalnya memang pingsan karena kelelahan dan asam lambungnya naik, namun kini dia seakan membalas rasa kantuknya karena semalaman tidak tidur.


Reichard menarik nafasnya dalam-dalam. Dia memperhatikan Emily dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Wanita berparas cantik dan bertubuh mungil itu sudah mengisi kehidupannya selama dua puluh tahun. Mereka melewati masa kecil bersama dahulu.


Emily yang selalu bermanja dengannya, yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi dan yang selalu mengatakan kepadanya dengan sangat polos penuh semangat.


“Jika aku dewasa nanti, aku mau menjadi isteri kak Rei!” Tekan Emily pada ucapannya saat itu.


Dada Reichard terasa sesak saat mengingatnya, kepolosan Emily yang selalu menginginkan pernikahan mereka. Ada sedikit penyesalan di hati Reichard saat tersadar kalau dia sudah menalak Emily di hari pernikahan mereka kemarin.


Reichard pun merebahkan tubuhnya disamping Emily, dia mengecup pelan kening Emily dan membelai rambutnya dengan lembut.


Baginya, tidak pernah ada yang berubah terhadap perasaanya kepada Emily. Sejak dulu Reichard meyakinkan hatinya untuk menganggap Emily adiknya saja. Berulang kali dia meyakinkan opa terhadap perasaannya itu, namun selama itu pula opa Haghen selalu mematahkannya. Entah sejak kapan, Reichard malah jadi membenci perjodohannya dengan Emily.

__ADS_1


Reichard memejamkan kedua matanya, karena dia pun benar-benar merasa lelah saat itu. Sama halnya dengan Emily yang tidak tidur semalaman. Tanpa sadar, Reichard ikut tertidur pulas disamping Emily.


Tiga jam berlalu, Emily yang merasakan kedua kakinya terasa kesemutan pun terbangun dari tidurnya. Dia juga merasakan suatu hembusan beraroma mint yang meniup lehernya berulang kali. Ada rasa geli hingga membuat sekujur bulu kuduknya berdiri saat merasakannya.


Jantung Emily berdetak lebih kencang saat dia tersadar hembusan itu berasal dari nafas Reichard yang masih tertidur pulas. Wajah pria yang sangat dicintainya itu tepat menempel disamping lehernya, dengan kaki kanannya yang merangkul kedua kaki Emily. Reichard sedang memeluknya dalam tidur pulasnya.


“Kak Rei...” Panggil Emily pelan. Namun Reichard tidak mendengarnya, dia masih terhanyut dalam lelap tidurnya.


Emily mengabaikan kesemutan dikaki kanannya. Dia ingin bahkan tidak ingin menyingkirkan sedikitpun tubuh Reichard darinya. Emily malah memeluk membalas pelukan Reichard dan mengecup kepala pria yang sangat dicintainya itu.


Ahh...Apakah ini hanya mimpiku saja, jika memang ini hanya mimpi aku tidak ingin terbangun dari tidurku. Aku ingin terus merasakannya...Batin Emily


Emily tetap menjaga matanya agar tidak terlelap lagi. Dia terus menerus menatap wajah Reichard dari jarak yang sangat dekat itu.


Wajah tampan dari pria yang sangat dicintainya selama ini. Pria yang sudah menikahinya namun menalaknya juga dihari yang sama.


Rasa sakit hatinya pun sirna, Emily kembali menggilai perasaannya yang mendalam kepada Reichard. Dia masih mengaguminya dan mencintai pria itu.


Bagaimana rasanya ya...Ah, aku jadi ingin mencobanya... Batin Emily berharap.


Tidak pernah sekalipun Emily berciuman dengan pria lain, bahkan dia memberikan syarat mutlak untuk tidak menerima adegan itu dalam semua project filmnya.


Emily menguatkan hatinya, keinginan kuatnya untuk mengecup bibir Reichard sudah mengalahkan akal sehatnya. Perlahan Emily mendekatkan wajahnya kewajah Reichard. Saat itu juga Emily mengecup bibir Reichard.


Dia hanya menempelkan bibirnya saja diatas bibir Reichard. Jantungnya semakin bergemuruh lagi. Kini dadanya seakan terasa sesak dengan sensasi yang sedang dirasakannya.


Emily merasakan pelukan Reichard malah semakin terasa erat ditubuhnya. Emily yang kaget pun langsung melihat kearah kedua mata Reichard masih terpejam. Dia buru-buru menarik bibirnya namun tangan Reichard menahan kepalanya dan menakannya dalam-dalam.


Bibir Reichard terbuka, Emily merasakan hembusan hangat dan sentuhan basah dari lidah Reichard yang memaksa membuka bibir Emily yang masih terkatup hingga tanpa sadar Emily pun membukanya, dan membiarkan lidah itu masuk dan menari-nari kedalam mulutnya. Dengan nafas yang semakin memburu, Mereka menikmati ciuman itu.


“Kak...Kak Rei...”Tangan Emily berusaha mendorong tubuh Reichard saat pria itu semakin tidak bisa mengendalikan nafsunya.


“Sial!!!! vergeef me Emily!!!” Raung Reichard saat dia pun tersadar atas perbuatannya kepada Emily.

__ADS_1


Emily pun tertunduk malu, Emily berusaha menjauh dari Reichard.


Reichard pun terbangun dan berlalu kekamar mandi. Meninggalkan Emily yang masih berusaha menenangkan hatinya lagi.


Bukannya aku tidak ingin, aku sangat menginginkannya...Tapi...Ya Tuhan, jika saja kak Rei tidak menalakku...Hiksss...Isak Emily


Air mata kembali terjatuh keatas pipinya.


Sama halnya dengan Emily, Reichard pun berusaha menenangkan perasaan dan gairahnya yang ternyata masih saja meninggi. Dia membuka seluruh pakaiannya lalu menenggelamkan tubuhnya kedalam bathup berisi air dingin.


Bagaimana bisa aku melakukan itu kepada Emily, sial...Jika saja Emily masih menjadi isteriku...Aku pikir, selamanya aku tidak akan pernah menginginkan hal itu terjadi dengan Emily...Sesal Reichard.


Bukan tanpa sadar, sebenarnya Reichard sudah terbangun lebih dahulu sebelum Emily terbangun tadi. Namun dia sengaja memejamkan kedua matanya lagi saat menyadari Emily juga terbangun.


Bodoh kamu Rei!!! Maki Reichard kepada dirinya sendiri.


Air dingin yang memeluknya perlahan mampu menenangkan gejolak ditubuhnya. Reichard masih terus menerus memaki perbuatannya sendiri hingga waktu yang cukup lama dia berendam dalam bathup tersebut.


Tok...Tok...Tok...


Emily yang sudah sedikit merasa tenang terperanjat saat mendengar ketukan dari daun pintu kamarnya. Dia pun segera terbangun dan membuka kuncinya.


“Emily...Kamu baik-baik saja kan nak?” Tanya mama Luna dengan raut wajah yang mengkerut penuh kekhawatiran.


“Ya mah, aku baik-baik saja.” Jawab Emily tenang.


Mama Luna menempelkan telapak tangannya diatas perut Emily dan membelai perut itu dengan lembut.


“Ih geli mah, iya perutku kempes banget ya mah. Aku memang sudah lapar sekali, apakah ada makanan yang bisa ku makan mah?” Tanya Emily sambil menyingkirkan tangan mamahnya dari atas perutnya.


“Tentu saja ada, janin itu juga pasti terasa lapar. Kamu harus makan banyak mulai dari sekarang!” Seru mama Luna sangat mengejutkan Emily.


“Janin...Janin apa?” Tanya Emily tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2