
"Aku hamil..." Reichard teringat kembali pada ucapan Moyna dimalam pernikahannya dengan Emily saat itu.
Dimalam yang terasa panas bagi Reichard saat dia menatap Emily yang terlelap diatas ranjang dalam kamar pengantinnya.
Reichard langsung mengambil langkah panjang meninggalkan kamar itu untuk menghampiri hotel tempat Moyna menginap.
Emily yang tersadar atas kepergian Reichard setelah menerima telpon dari kekasihnya Moyna pun terbangun. Dalam kegelapan malam Emily mengintip kepergian Reichard dari balik jendela kamarnya.
Sebenarnya Reichard pun mengetahui, dia sadar betul Emily sedang menatap kepergiannya dari balik jendela kamarnya. Sejenak Reichard sempat melihat wajah sedih Emily dari balik kaca spion mobilnya dimalam itu. Hingga akhirnya Emily ikut keluar dari kamar nya dan tanpa sengaja juga melihat Aiden yang sedang mengeluarkan sepeda dan mengendarai sepedanya di tengah malam yang gelap itu.
Reichard melihat jelas Emily yang diam-diam mengikuti Aiden dengan sepedanya.
Bodoh! Kenapa dia belum juga sadar ada Emily dibelakangnya! Maki Reichard saat dia melihat Aiden yang juga belum juga tersadar ada Emily yang mengikutinya dari belakang.
Begitu juga dengan Emily yang tanpa sadar ada Reichard yang mengikutinya pelan dari dalam mobil yang di kendarainya.
Mereka berdua benar-benar mahluk paling bodoh didunia ini! Sit! Bukannya aku harus ke hotelnya Moyna, kenapa juga harus khawatir dengan kepergian mereka! Maki Reichard lagi.
Hingga akhirnya mereka sampai di mercusuar Ameland. Reichard lantas melanjutkan perjalanannya setelah yakin Aiden sudah mengetahui keberadaan Emily. Setidaknya dia yakin Aiden dapat menjaga Emily dengan baik.
Malam yang gelap segelap pikiran Reichard saat itu, berulang kali dia mengutuk ucapan cerainya kepada Emily, karena dia yakin itu sangat menyakiti hati Emily yang baru saja melihat langsung skandalnya dengan Moyna dihari pernikahan mereka.
Tidak! Itu sudah keputusan yang benar! Aku tidak mencintai Emily! Tukas Reichard meyakinkan hatinya sendiri.
Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah hotel mewah, tempat dimana Moyna berada.
Pengakuan kehamilan Moyna tadi ditelepon cukup membuat hatinya bergetir hingga Reichard ingin meyakinkan lagi atas kebenaran ucapan Moyna tersebut.
"Honey..." Ucap Moyna yang langsung memeluk Reichard sesaat pria tampan itu memasuki kamarnya.
"Kenapa bisa hamil?" Tanya Reichard yang langsung melepas pelukan Moyna dari tubuhnya.
__ADS_1
"Kok kamu bertanya seperti itu? Kita sering melakukannya bukan..." Tanya balik Moyna.
"Bukannya kamu minum pil KB? Seharusnya tidak hamil kan..." Reichard kembali bertanya.
Sejenak Moyna terdiam, wanita itu menatap nanar Reichard.
"Moyna..." Panggil Reichard memecahkan lamunan Moyna.
"Soal itu...maafkan aku...Karena aku pernah lupa meminum pil itu hingga akhirnya membuatku hamil...hikss" Jawab Moyna yang diikuti isakan tangisnya.
Reichard langsung mengepal telapak tangannya erat-erat dan meninjukannya keras keatas meja rias hingga membuat barang apapun yang ada di atas nya terjatuh tentu saja juga membuat Moyna ikut terkejut.
"Apa...kamu tidak menginginkan kehamilan ini?" Tanya Moyna getir.
"Ya!" Jawab Reichard tegas.
"Gugurkan kandungan itu! Aku akan menghubungi dokter terbaik yang bisa melakukanny!" Tukas Reichard.
"Kamu dengar yaa honey, aku tidak akan mau menggugurkan kandunganku! Ini anakmu...darah dagingmu, tega ya kamu ingin membunuh anakmu sendiri?!" Lanjut Moyna histeris.
"Kamu tahu kan, berapa kali aku ingatkan kamu kalau aku tidak ingin kamu hamil! Berapa kali?!" Raung Reichard hingga membuat Moyna tidak sanggup lagi berdiri dihadapannya.
Moyna terjatuh lemas di atas lantai dengan isakan tangisan yang menyesakkan dadanya sendiri.
"Kehamilan itu hanya akan mencoreng nama besar keluargaku, perusahaan ku juga pasti akan membuat opaku marah! Jadi Moyna...Tidak ada pilihan lain untuk kita selain menggugurkan kandungan itu!" Lanjut Reichard.
"Tidak...Aku tidak mau melakukannya, kita bisa menyembunyikannya kan honey..seperti kita bisa menyembunyikan hubungan kita selama ini dari opamu. Bukannya kamu juga udah janji akan menikahiku setelah opamu tidak ada?" Ucap Moyna lirih.
"Tapi perutmu akan semakin membesar? Aku juga tidak ingin opaku meninggal dalam waktu dekat ini!" Tegas Reichard.
"Aku bisa bersembunyi dari mereka, aku rela keluar dari pekerjaanku...Aku rela melakukan apapun yang kamu mau selama itu bukan dengan menggugurkan kandungan ini! Aku tidak akan sanggup membunuh anak kandunganku sendiri...Anak kandungmu juga Rei..." Ucapan Moyna kali ini mampu membuat hati Reichard tersentuh.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu mengetahui kehamilanmu?" Tanya Reichard.
"Satu minggu yang lalu, dan sebenarnya kemarin aku sengaja membawa hasil test pack sebagai kado pernikahanmu dengan Emily..." Jawab Moyna pelan.
"What?! Gila kamu, Lalu dimana test pack itu?" Geram Reichard.
"Aku simpan di laci dalam kamarmu...Ah, aku sebenarnya ingin memberikannya langsung setelah kita menikmati permainan kita di ranjangmu, tapi sayangnya Emily keburu masuk dan memergoki perbuatan kita..." Ucap Moyna sambil tersenyum kepada Reichard.
"Sial! Kenapa kamu letakkan disana? Bagaimana jika Emily membuka laci itu dan melihatnya?!" Raung Reichard lagi.
"Kenapa sih kamu seakan peduli dengan Emily? Bukannya kamu juga sudah menalaknya? Kamu ingatkan honey...Kamu sudah menjatuhkan talaj tiga untuk Emily, aku mendengarnya dengan baik ucapan mu itu!" Kini Moyna memberanikan dirinya sendiri untuk berkata tegas kepada Reichard.
Reichard pun terdiam, dia terduduk lemas di atas ranjang dengan seprai berwarna putih polos.
"Honey...Aku sangat mencintaimu. Kehamilan ini adalah anugerah terindah untukku. Walau aku sadar kamu tidak menginginkannya, tapi aku yakin suatu saat kamu juga akan mencintai anakmu ini. Melebihi rasa cintamu padaku. Aku yakin...Ijinkan aku melahirkannya ya honey, sebagai bukti cinta tulusku untukmu..Aku mohon..." Pinta Moyna sambil memeluk lutut Reichard.
Reichard masih terdiam, dia menutupi wajahnya denga kedua telapak tangannya.
Moyna pun terbangun dan memeluk Reichard dari samping.
"Aku janji akan menyembunyikan kehamilan ini dari opamu. Aku akan pergi sejauh mungkin supaya nama baik keluargamu atau perusahaan mu tidak tercoreng dengan kehamilan ini. Aku janji aku akan pergi honey...Asalkan kamu ijinkan aku bisa melahirkan anak ini...anak kita..." Ucap Moyna mampu meneteskan air mata di wajah Reichard dimalam itu.
Reichard pun akhirnya membalas pelukan Moyna erat-erat.
"Maafkan aku...Aku terlalu terbawa emosi tadi, jangan tinggalkan aku...Aku masih membutuhkanmu." Bisik Reichard di telinga Moyna.
Moyna memegang lembut lagi rahang wajah Reichard, lalu mengecup bibir Reichard yang memerah.
"Aku mencintaimu..."Ucap Moyna.
Reichard pun membalas kecupan Moyna. Kecupan demi kecupan hingga akhirnya mereka melupakan pertengkaran barusan. Pelan-pelan Reichard membuka seluruh pakaian yang merekat di tubuh putih mulus Moyna dan lalu menikmati tubuh itu lagi.
__ADS_1
Entahlah...Sepertinya aku memang sangat mencintai Moyna, Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku. Jika nanti anak itu lahir selagi opa masih hidup, aku bisa mengakui anak itu sebagai anakku dengan Emily bukan...Batin Reichard.