Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Moyna Hamil


__ADS_3

“Janin apa? Kamu ini...Kan di-“


“Ma...”


Ucapan mama Luna terputus karena terdengar panggilan dari papa Aga.


“Sayang kamu sudah enakkan belum?” Tanya papa Aga ke Emily yang tiba-tiba sudah berada dibelakang mama Luna.


“Ya pa, aku sudah jauh lebih baik. Hmm kita lanjutkan pembicaraan ini di ruang makan saja ya, aku lapar sekali huhuhu.” Jawab Emily sambil mengelus perutnya berulang kali dengan wajah manja kepada kedua orang tuanya itu.


“Oh iya tentu saja sayang, kamu belum makan dari tadi. Kita makan bersama ya...Mana suami mu?” Tanya papa Aga lagi, pandangan matanya mencoba mencari sosok Richard di dalam kamar.


“Kak Rei sedang mandi pa.” Jawab Emily.


“Yasudah, kalau begitu papa dan mama turun duluan ya, kita tunggu dibawah.” Ucap papa Aga.


“Kita turun bersama saja, nanti Rei juga pasti menyusul. Kasihan Emily sudah lapar pa!” Protes mama Luna.


“Jangan begitu ma, minimal Emily harus ijin dan memberitahu suaminya dahulu kalau memang mau makan duluan. Kamu ini bagaimana sih!” Balik protes papa Aga.


Emily hanya tersenyum melihat perdebatan diantara mama dan papanya.


Saat itu juga terdengar pintu kamar mandi yang terbuka dengan Reichard yang masih melilitkan handuk di pinggangnya.


Mama Luna langsung memalingkan pandangannya, dan menarik tangan suaminya untuk segera mengikuti langkah kakinya.


“Kami tunggu di bawah yaa.” Bisik mama Luna.


“Baik ma, pa...” Saut Emily sambil tersenyum manis.


Mama Luna dan papa Aga pun akhirnya meninggalkan Emily yang langsung menutup pintu kamarnya.


“Aku lapar...Kamu mau makan bersama atau tidak?” Tanya Emily sambil tertunduk. Dia tidak berani kembali menatap wajah Reichard yang masih berdiri tegak di depan ranjang besarnya.


“Tunggu aku!” Pinta Reichard, pria tampan itu membuka lemari pakaiannya dan mengambil pakaiannya dari dalam sana.


“Arrghhh bergantilah didalam kamar mandi, jangan disini!!!” Teriak Emily saat tanpa sengaja dia melihat Reichard yang akan membuka handuk yang melilit di pinggangnya untuk memakai pakaiannya.


“Cih! Tutup saka kedua matamu jika tidak sanggup melihatnya! Kamar ini tidak ada walk in closet, aku tidak bisa memakai celana di lantai yang basah!” Jelas Reichard.


Emily pun langsung membalikkan badannya dan menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Dengan santai Reichard memakai semua pakaian dalam dan luar nya.


“Bukannya kamu menyukainya? Hahaha gak usah pura-pura!” Reichard malah meledek Emily.


“Kamu itu bukan siapa-siapaku lagi! Aku tidak mau mengotori mataku!” Geram Emily.


“Oh ya, tapi barusan kamu yang mulai menciumku lebih dahulu kan.” Ucap Reichard.


Seketika seluruh tubuh Emily kembali begidik, bulu kuduknya berdiri dan wajahnya lagi-lagi terasa panas. Begitupun dengan jantungnya yang berdendang saat mendengar ucapan Reichard.


“Jangan bahas itu lagi! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!” Seru Emily kesal.


“Hahaha, yakin tidak mau mengulanginya lagi?” Ledek Reichard kembali sambil berjalan mendekati Emily dan menyentuh pundak Emily yang langsung tersentak kaget.


“Tidak akan! Menjauhlah dariku!” Emily berlari menghindar dari Reichard, masih dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya hingga akhirnya dia terjatuh karena menabrak kursi yang berada didepan meja rias.


“Aduh, sakit sekali...” Rintih Emily, masih dengan menutup kedua matanya. Dengan kedua tangan yang mencoba meraba-raba objek sekitar.


“Bukalah matamu! Aku sudah selesai berpakaian!” Seru Reichard.


Perlahan Emily pun membuka kedua matanya, namun lagi-lagi dia kembali terperanjat kaget saat melihat wajah Reichard yang sudah berada sangat dekat didepan wajahnya.


“Apa yang mau kamu lakukan?!” Emily mendorong Reichard namun tidak mampu menggoyahkan tubuh kekar pria itu sedikitpun. Malah Emily yang terhuyung, namun Reichard berhasil menangkapnya hingga Emily tidak terjatuh.


“Ka-kamu...Cantik sekali” Puji Reichard yang membuat wajah Emily tambah terasa panas dan memerah.


Emily tidak mampu berkata apa-apa lagi. Nafasnya terdengar berburu tidak karuan, dengan kedua bibir yang bergetar dan kedua matanya yang sedikit nanar.


Reichard mengangkat tubuh Emily dan meletakkannya perlahan diatas sofa panjang yang berada di pojokkan kamar mereka.


“Apa yang kamu inginkan?” Tanya Emily pelan kepada Reichard yang sudah duduk manis disampingnya.


“Kamu pikir aku akan melakukan apa?” Tanya balik Reichard.


“Ya, mana...mana aku tahu!” Jawab Emily grogi.


“Kamu ingin kita melakukan itu?” Tanya Reichard lagi dengan senyuman nakalnya kepada Emily.


“Apa kamu lupa...Kamu sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku?” Kini Emily yang balik bertanya dengan nada suara yang terdengar ketir.


Reichard langsung menelan salivanya.

__ADS_1


“Hahaha memang apa yang ada di otakmu? Dasar mesum!” Ledek Reichard sambil tertawa lepas.


“Jahat!” Gerutu Emily.


Reichard menahan Emily saat wanita itu akan beranjak dari duduknya.


“Apa lagi?!” Protes Emily kesal, dia berusaha melepas genggaman tangan Reichard dari tangannya.


“Jika aku memang menginginkan sesuatu kepadamu, apakah kamu mau memberikannya?” Tanya Reichard penuh harap.


“Memberikan apa?” Tanya Emily penasaran.


“Bantuanmu!” Jawab Reichard.


“Bantuan?” Emily masih belum paham.


Reichard bangun dari duduknya, dia berjalan kearah laci buffet yang tidak jauh dari sofa tempat mereka duduk. Dan mengambil sebuah kotak berisi test pack kepada Emily.


“Apa ini?...” Tanya Emily lagi tambah penasaran.


Bukannya dia tidak tahu itu apa, hanya saja Emily ingin menegaskan apa maksud Reichard memberikan testpack itu kepadanya.


“Kamu sedang tidak menginginkan anak dariku kan?” Emily mencoba menebak keinginan Reichard.


Bagaimana caranya, sedangkan kita sudah bercerai. Bukannya jika sudah ditalak tiga seorang wanita harus menikah lagi dan berhubungan intim terlebih dengan suaminya sebelum rujuk? Batin Emily bergejolak.


“Bukan itu!” Jawaban Reichard yang sangat terdengar jelas, tanpa sadar malah membuat rasa kecewa di hati Emily.


“Lalu...Ini untuk apa?” Tanya Emily lagi.


“Itu milik Moyna.” Jawab Reichard sangat mengejutkan Emily.


Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Emily yang masih terkejut dan tangannya yang sedikit bergetar, dia membuka kotak itu dan melihat dengan jelas dua garis disana.


Hatinya kembali meringis kesakitan, jauh lebih sakit saat dia melihat langsung pria yang sangat dicintainya itu sedang bersama dengan wanita itu di atas ranjang tepat di hari pernikahannya kemarin.


“Moyna hamil.” Jelas Reichard.


Emily masih terdiam, perlahan dia kembali menutup kotak itu dan mengembalikannya ke Reichard.


“Emily...” Panggil Reichard membuyarkan lamunan Emily.

__ADS_1


“Ok, selamat ya kak!” Saut Emily, wanita yang sedang hatinya sedang kesakitan itu mencoba tegar dan mampu menahan air mata yang berusaha menerobos kedua matanya.


__ADS_2