Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
PECUNDANG


__ADS_3

Reichard segera mengantarkan dr Groff keluar rumah untuk segera masuk kedalam mobilnya.


“Ik kan de zwangerschap van uw vrouw niet bevestigen zonder een nieuw onderzoek.” (Saya tidak bisa memastikan kehamilan isterimu tanpa pemeriksaan ulang.) ucap dr Groff untuk yang keselian kalinya, sebelum dokter itu benar-benar masuk kedalam mobilnya.


“Geen dokter nodig, ik ben er vrij zeker van dat mijn vrouw zwanger is. We zullen binnenkort terugkeren naar Jakarta, dus we zullen de zwangerschapszorg van mijn vrouw daar voortzetten!” (Tidak usah dokter, saya sangat yakin isteri saya benar-benar hamil. Lagian kami juga akan segera kembali ke Jakarta, kami akan melanjutkan pemeriksaan kehamilan disana!) Tegas Reichard meyakinkan dr Groff.


“Nou, als er iets is, aarzel dan niet om het me te laten weten. Mijn excuses.” (Baiklah, jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya, saya permisi.) Ucap dr Groff.


“Nou, als er iets is, aarzel dan niet om het me te laten weten. Mijn excuses.” (Tentu dokter, terima kasih kembali.) Reichard segera menutup pintu mobil sang dokter dan melepas kepergian dokter itu dengan tenang.


Sejenak Reichard terpaku diam, dia menarik nafas nya dalam-dalam dan melepaskannya pelan keudara dingin yang terasa panas ditubuhnya.


Ponsel di sakunya berkali-kali bergetar, namun dia enggan memeriksa siapa yang menghubunginya.


“Rei!!!” Sampai dia mendengar panggilan berat dari suara seseorang yang sangat dikenalinya.


Reichard membalikkan tubuhnya dan..


Bughhhh!!!! Hantaman keras tinju Aiden mendarat di rahang wajah sebelah kirinya.


“Sial!!!” Bughhhh!!! Reichard membalas meninju perut Aiden.


Dan kini mereka saling bertatapan penuh amarah, Aiden lebih mendekati lagi wajah nya yang memerah kearah wajah Reichard.


“Emily tidak hamil kan? Sudah pasti test pack itu bukan milik Emily!!! Pasti punya Moyna!! Iya kan?!” Desis Aiden di telinga Reichard.


“Hahaha bagaimana jika memang itu milik Emily? Apa kamu masih belum mau menerima kenyataan kalau Emily sudah jadi milikku seutuhnya?!” Balas Reichard sambil tersenyum puas, seolah puas dengan kekesalan dan kekecewaan di wajah adik tirinya itu.

__ADS_1


“Emily tidak mungkin mau menyerahkan kesuciannya begitu saja sebelum pernikahan kalian!” Elak Aiden.


“Kenapa tidak mungkin? Kamu lupa dia pun seorang penghibur, jika bukan denganku pasti dia sudah melakukannya dengan yang lain bukan. Siapa yang bisa menjamin dia masih suci sebelum aku sentuh?” Ucapan Reichard kali ini benar-benar mengobarkan api amarah yang lebih besar lagi di hati Aiden.


Bughh!!! Lagi-lagi Aiden akan meninju wajah Reichard, namun dengan sigap Reichard menangkap tinjunya dan balik mendorong Aiden dengan kasar lalu menendang perut Aiden hingga adik tirinya itu terjatuh keatas lantai.


“Kamu tidak akan pernah menang dariku Aiden! Sekuat apapun kamu mau melawanku, dari segi apapaun kamu tetap akan kalah, pecundang!” Maki Reichard.


Pria angkuh itu pun segera berlalu dari adik tirinya yang masih tergeletak diatas lantai.


Cih! Maafkan ILY, aku selalu saja kalah darinya. Aku yakin kamu tidak hamil, walaupun Reichard sudah menidurimu dimalam pernikahan kalian, tidak mungkin kamu langsung hamil dipagi harinya bukan? Oh my God...Aku harus segera bicara dengan ILY dan memastikan kebenarannya langsung darinya. Batin Aiden penuh penyesalan.


Dengan langkah yang berat Aiden kembali masuk kedalam rumah. Aiden berani memukul Reichard setelah meyakinkan dirinya sendiri kalau opa Haghen sudah masuk dan beristirahat di dalam kamarnya. Hingga opa Haghen tidak akan mendengar atau melihat kejadian barusan.


Namun Aiden lupa, di depan pintu rumah besar khas negeri kincir angin itu sudah berdiri dengan gagah papa Aga, yang ternyata menyaksikan keributan antara Reichard dan Aiden dengan kedua matanya, walaupun telinga nya tidak bisa mendengar dengan jelas karena jarak antara rumah dan parkiran mobil cukup jauh.


“Kecewa? Haha kecewa kenapa om? Aku sudah biasa bergelut dengan kakak tiriku yang kuat itu. Sudah biasa juga aku kalah dan lagi-lagi jadi pecundang.” Ucap Aiden.


“Kamu bukan pecundang nak, maafkan om tidak bisa menjaga kesucian Emily. Om tidak bisa memantau anak om itu dua puluh empat jam penuh, om tidak bisa memastikan apa saya yang sudah Emily lakukan diluar sepengetahuan om.” Sesal papa Aga.


“Om tidak perlu minta maaf kepadaku, memangnya siapa aku hahaha. Tapi aku yakin Emily adalah puteri om yang sangat baik dan tahu persis bagaimana menjaga kehormatannya.” Ucap Aiden.


“Kamu tahukan, dari kecil Emily sudah sangat mengagumi Reichard! Anak itu tidak pernah sadar ada pria lain yang sebenarnya lebih sempurnah untuknya...” Sesal papa Aga kembali.


“Hmm, apa ada pria lain yang mencintai Emily om?” Tanya Aiden penasaran.


“Kamu!” Jawab papa Aga singkat.

__ADS_1


Papa Aga memeluk Aiden dan menepuk punggung pria itu berkali-kali.


“Om tahu kamu sangat peduli dengan Emily, tapi sayangnya Emily bukan jodoh mu. Om berharap kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Emily.” Ucap Papa Aga lagi. Hati Aiden berdesir dengan rasa kepedihan.


Siapapun sadar, Aiden sangat peduli dengan Emily. Mungkin mereka juga sadar Aiden pun sangat mencintai wanita cantik itu sedari kecil. Namun tidak dengan Emily.


Emily tidak bisa merasakan cinta lain selain perasaan cinta nya yang sangat kuat kepada Reichard.


“Terima kasih om!” Hanya itu yang bisa diucapkan Aiden saat ini.


Papa Aga pun melepaskan pelukannya..


“Tante Luna dimana om?” Tanya Aiden.


“Tantemu itu langsung kembali kekamarnya Emily sesaat setelah opa Haghen dan kamu keluar dari ruang makan. Hahaha tantemu itu sama sepertimu yang masih belum mau menerima kenyataan kehamilan Emily. Ya...Mau bagaimana lagi, mungkin memang sudah suratan dari gusti Allah.” Jawab papa Aga.


Aiden tersenyum, walau hatinya kembali berdesir perih.


Aiden masih yakin Emily tidak sedang hamil saat ini. Karena apapun yang terjadi Emily selalu menceritakannya kepada Aiden. Bahkan Aiden sudah sering mendangat berjuta kali Emily mengungkapkan perasaan cintanya ke Reichard kepada Aiden.


“Om mau jalan-jalan keladang sana. Kamu mau temani om gak?” Tanya papa Aga memecahkan lamunan Aiden.


“Oh ya, tentu saja om,” Jawab Aiden.


Mereka pun berjalan santai kearah ladang gandum yang sangat luas itu. Semilir angin mencoba memberikan kesejukan di dada Aiden yang membara.


“Om baru ingat, sepuluh tahun lalu Emily pernah bicara dengan om. Jika nanti dewasa dia mau memiliki anak yang banyak. Agar bisa menemani dia, Reichard dan juga kamu nantinya. Hahaha mungkin saat itu dia sedang merasakan kesepihan karena terlahir menjadi anak tunggal. Sama semperti kamu dan juga Reichard.” Ingat papa Aga.

__ADS_1


“Mungkin karena itu dia jadi tidak mau menunda kehamilannya.” Lanjut papa Aga pelan.


__ADS_2