
“Aku pernah mencobanya, menolak permintaan opa untuk menikahimu. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?” Reichard meraih dagu Emily dan menatapnya tajam.
Emily tidak mau menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya dari kedua mata Reichard yang selama ini sangat di kagumi olehnya. Sepasang bola mata yang berwarna hijau seperti zamrud yang berkilauan, adalah sepasang mata yang dahulunya sering menatapnya dengan kelembutan dan memberikan semangat untuknya.
Namun tatapan mata itu seolah menjadi pedang tajam yang lagi-lagi menusuk kedalam hatinya. Sangat sakit bagi Emily, sementara jantungnya masih saja bergetar penuh kekaguman saat melihatnya.
“Opa terkena serangan jantung, dan harus dirawat intensif selama hampir satu bulan di ICU. Opa baru sadar ketika aku berusaha meyakinkannya untuk menikahimu.” Lanjut Reichard dengan suara yang sangat parau.
Lagi-lagi tangis Emily kembali pecah.
“Bukannya kamu juga sangat menyayangi opa? Aku harap kamu mau bekerja sama denganku, rahasiakan ucapan talakku dari siapapun juga. Biarkan opa dan semua tahu kita adalah sepasang suami isteri, sampai saatnya tiba. Saat itu mungkin tidak akan lama lagi, karena dokter sudah mengingatkanku kalau umur oppa kemungkinan tidak akan bertahan lebih dari satu tahun lagi.” Lanjut Reichard.
“Oppaaaa, hiksss. Oppaaa...” Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan oleh Emily.
“Aku sudah menganggapmu seperti adik kandung sendiri Emily, aku tidak pernah tertarik apalagi mencintaimu. Oleh sebab itu aku harus menjatuhkan talak tiga kepadamu!” Tegas Reichard.
“Agar kamu bisa bebas melakukan semua perbuatan mesummu dengan sekretarismu itu, atau mungkin dengan banyak wanita diluaran sana kan?!” Desis Emily.
“Aku mencintainya, Moyna sudah menjadi kekasihku selama lebih dari dua tahun belakangan ini.”
“Pantas saja kamu seakan menghilang selama itu dari kehidupanku!”
“Aku tidak ingin egois kepadamu, memaksamu masuk kedalam ikatan pernikahan sedangkan aku tidak mengingingkanmu sama sekali. Itu tidak adil kan untukmu, aku ingin memberikan kebebasan untukmu bisa mencintai atau berkencan dengan pria manapun yang kamu mau tanpa ada beban dihatimu harus setia denganku. Bukannya itu sangat adil untuk kita, aku yakin kamu setuju...Dan tidak menyalahkanku atas ucapan talakku untukmu tadi!”
Emily berusaha mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Reichard.
__ADS_1
“Selain jantung, apakah ada penyakit lain di tubuh opa? Kenapa dokter memvonis umurnya tidak akan lama lagi?” Tanya Emily penasaran.
Reichard menarik nafas dalam-dalam. Lalu kembali membalas tatapan mata Emily.
“Opa...di diagnosis sarkoma jantung. Tumor ganas yang cukup langka di otot jantung dan pembuluh darah darah sekitar jantung opa yang sudah menginvasi jaringan jantungnya. Walaupun tumor itu sudah pernah di angkat dari sana dan opa rutin kemoterapi, tapi dokter pesimis opa bisa bertahan lebih lama lagi, mengingat umur opa sudah sembilan puluh tahun lebih.” Jawab Reichard.
Pantas saja opa terlihat jauh lebih kurus dan rambut lebatnya yang berwarna putih menyala menipis. Ternyata karena itu...Batin Emily meringis.
“Kenapa baru sekarang kamu memberitahuku?” Protes Emily.
“Opa tidak ingin dikasihani, dia bahkan melarangku memberitahu keluarga besar lainnya tentang penyakit ini.”
“Apakah Aiden tahu?” Tanya Emily lagi, sejauh ini hanya Aiden yang masih intens berhubungan dengan Emily ketika Opa Haghen kembali ke Belanda dan Reichard menghilang dari kehidupannya.
“Tidak!” Jawab Reichard singkat.
Aiden adalah adik tiri Reichard, enam bulan setelah ibu kandungnya meninggal, ayahnya Reichard menikah lagi dengan seorang janda beranak satu mantan kekasihnya dahulu. Yaitu ibu kandungnya Aiden, namun baru tiga bulan pernikahan mereka keduanya mengalami kecelakaan tragis hingga membuat keduanya meninggal dunia.
Usia Aiden hanya lebih tua dua bulan dibanding usia Emily yang saat itu berusia enam tahun. Sedangkan Reichard lebih tua dari mereka tiga tahun. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, opa Haghen merawat dan membesarkan Reichard dan Aiden.
“Seyakin itu kamu dengan Aiden?” Tanya Reichard.
“Ya, tentu saja!” Jawab Emily sangat yakin.
“Apakah dia pernah jujur kepadamu tentang perasaannya?” Tanya Reichard lagi.
__ADS_1
“Perasaanya yang mana?” Tanya balik Emily.
“Hahahaha katamu sangat yakin Aiden tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Hal itu saja dia masih sangat lemah, dasar pengecut!” Reichard memang tidak pernah menyukai adik tirinya itu dari semenjak Aiden datang di kehidupannya.
“Jangan menghinanya lagi! Bagiku kamu adalah satu-satunya pria pengecut di dunia ini!” Geram Emily.
“Masih sama saja hahaha, Aiden yang bodoh dan Emily yang sok galak melindunginya.” Reichard pergi meninggalkan Emily setelah mengucapkan kata-kata itu untuk masuk kedalam kamar mandi.
Sejenak Emily terdiam mencoba mengerti ucapan Reichard tentang perasaan Aiden. Dan akhirnya Emily berlari mengejar Reichard yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
Bukkk!!! Dengan kasar Emily membuka paksa pintu kamar mandi. Dan...
“Arghhh dasar mesum!!! Tukang selingkuh!! Crocodile!!! Pengecut!!!” Maki Emily ketika tanpa sengaja dia melihat Reichard yang sedang mandi dibawah kucuran air tanpa selembar benangpun.
Reichard hanya tersenyum tipis melihat wajah Emily yang memerah, wanita itu terus memakinya namun tidak menutup kedua matanya sama sekali. Emily malah mengagumi seluruh lekuk tubuh Reichard dan hampir saja kehilangan kendalinya untuk segera memeluk pria yang sangat dicintainya itu. Sampai akhirnya dia sadar, Reichard sudah menjatuhkan talak tiga untuknya. Dan saat itu pula hati Emily kembali terasa sakit. Dia pun akhirnya membalikkan tubuhnya dan pergi keluar dari kamar mandi itu.
Masih dengan nafasnya yang terasa sesak didada, Emily menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. Wajah cantiknya terlihat sangat menyedihkan karena kedua mata sembab dan hidungnya yang memerah seperti badut.
Apakah aku kurang cantik dan seksi, hingga membuat Rei bahkan sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh tubuhku sama sekali? Kenapa dia begitu tega menalakku secepat ini? Aku bahkan bisa ikhlas memberikan seluruh tubuhku untuk dinikmatinya sebagai seorang isteri walaupun ternyata dia tidak pernah mencintaiku. Tapi bahkan dia tidak memberikanku kesempatan itu sama sekali...Emily...Bodohnya kamu, kamu masih saja mengaguminya sedangkan dia sudah sangat merendahkanmu! Batin Emily meringis pedih meratapi dirinya sendiri.
Sedangkan didalam kamar mandi, Reichard masih saja tersenyum sendiri saat mengingat wajah Emily yang memerah saat melihatnya tadi, wajah merah yang berbeda saat Emily memergokinya sedang bercumbu dengan Moyna sebelumnya.
Dia masih saja sepolos itu dan membela Aiden dariku. Kenapa dia masih saja bodoh dengan tidak menyadari betapa Aiden sangat mencintainya. Dia masih saja bodoh dengan terlalu terobsesi kepadaku...Emily...Emily...Gumam Reichard dalam hatinya.
Reichard segera mengambil handuk dan mengeringkan seluruh tubuhnya. Lalu melilitkan handuk itu di pinggangnya. Perlahan Reichard membuka pintu kamar mandinya, dan dia cukup terkejut saat melihat Emily yang tergeletak didepan cermin besar yang berada tidak jauh dari ranjang tidurnya.
__ADS_1
Sial! Kenapa dia pingsan lagi! Gerutu Reichard.