Skandal Tuan Muda

Skandal Tuan Muda
Kosong


__ADS_3

“Habis ngapain kamu?” Tanya Aiden mengejutkan Moyna yang baru saja keluar dari kamar Reichard.


“Hmm, itu aku...tadi barusan di hubungin Rei mengambilkan air untuk Emily.” Jawab Moyna, wajahnya memerah. Wanita cantik itu tidak mampu membalas tatapan tajam Aiden yang menatapnya penuh curiga.


“Sudah terbiasa ya panggil Rei, kalian itu atasan dan bawahan. Apa pantas di dengar orang lain seperti itu?” Tanya Aiden lagi.


“Bukan begitu, Aiden...jika antara kita saja kan sudah terbiasa bukan? Kenapa sih kamu jadi nyinyir seperti itu, sudahlah aku mau kembali ke hotel. Permisi!”


“Tunggu! Apa kamu mau berjalan dengan tanda dileher yang menjijikan seperti itu?!” Aiden menyentuh leher Moyna yang dimaksud, Reichard terlalu buas mengecupnya dibagian itu. Tanpa Moyna sadari bekasnya sangat terlihat jelas dan siapapun tahu itu karena apa.


Moyna kebingungan mencari sesuatu yang bisa menutupkan tanda menjijikan yang dimaksud Aiden dari dalam tas kecilnya. Dia mengambil sebuah bedak, lalu berkaca sejenak untuk memastikan tanda yang dimaksud oleh Aiden, kemudian dia segera mengusapnya berkali-kali ke arah tanda merah tersebut hingga warna nya seakan menyatu dengan warna kulit di lehernya.


“Hahaha sudah sangat lihai rupanya.” Ucap Aiden dengan senyuman tipis yang sama sekali tidak terlihat manis dipandang Moyna.


Moyna pun langsung mengambil langkah panjang dari hadapan Aiden, namun lagi-lagi Aiden menghentikan langkahnya dengan sebuah pertanyaan yang kembali mendebarkan jantung Moyna.


“Apa Emily mengetahui perbuatan kalian?”


Belum sempat Moyna menjawab, terdengar banyak langkah kaki yang berjalan diiringi suara canda dan tawa dari beberapa orang yang sangat tidak asing di telinga mereka.

__ADS_1


“Wat doe jij?!” (Apa yang sedang kalian lakukan?!) Suara berat Oppa Haghen kembali menghentikan langkah kaki Moyna yang berusaha pergi dari tempat mereka berdiri. Tidak jauh dari kamar Reichard dan Emily.


Aiden hanya tersenyum tipis, matanya melirik Moyna dengan tatapan menggoda hingga membuat wajah cantik wanita itu kembali memerah.


Sementara didalam kamarnya Reichard dapat mendengar walau secara samar suara Oppa Haghen. Saat itu juga Emily siuman dari pingsannya, sesaat setelah Reichard mengucapkan talak tiga kepadanya Emily seakan merasakan kepalanya terbentur batu besar hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Reichard menatap kedua mata Emily yang terlihat sembab.


Emily mengingat jelas semua perbuatan Reichard dan Moyna yang sangat menghancurkan perasaannya, juga saat Reichard dengan tegas menjatuhkan talak tiga untuknya. Tanpa berkata-kata lagi, Emily segera bangun dari ranjang nista yang sangat di benci Emily karena baru saja di gunakan Reichard dan Moyna melakukan perbuatan skandal terkutuk bagi Emily.


“Emily tunggu!” Reichard berusaha menggapai tangan Emily, namun dengan cepat Emily meraih tangannya kedepan dan lalu kembali mengambil langkah cepat agar segera meninggalkan kamar Reichard.


Emily pun berhasil membuka gagang pintu kamar dan melihat kedua orang tuanya bersama dengan Oppa Haghen berdiri tidak jauh dari sana. Tatapan dan wajah mereka yang sangat sumringah malah membuat hati Emily tambah terasa sakit.


Saat itu juga Reichard merangkul erat pinggang Emily, dia memeluk Emily dari belakang ketika Emily berusaha menghindar darinya.


Aiden adik tiri Reichard menatap mereka dari kejauhan dengan penuh curiga, terlihat jelas wajah Emily sangat tertekan saat bibir Reichard menempel ditelinganya. Sementara Moyna langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan itu.


“Emily, kamu baik-baik saja kan?” Tanya mama Luna, ibu kandung Emily. Sebagai seorang ibu mama Luna paham sekali bahwa saat itu puterinya tidak terlihat baik-baik saja.


“Mohon maaf semua, aku baru saja memaksa isteriku melakukan hubungan itu, karena aku sungguh sudah tidak sabar menunggu malam hahaha tapi Emily menolak dengan alasan masih banyak tamu di luar.” Ucap Reichard

__ADS_1


“Astaga jadi kedatangan kita sudah pasti mengganggu kalian, maafkan kami ya hahahaha.” Papa Aga ayah kandungnya Emily tertawa walau terdengar risih ditelinganya karena menganggap semua yang diucapkan Reichard adalah benar.


“Lanjutkan...hahaha ik harap kalian segera memberikan cicit untuk ik.” Lanjut Oppa haghen dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar terucap dari lidahnya.


“Tentu saja oppa, lebih baik kalian kembali dan mewakili kami bertemu dengan para tamu undangan.” Dengan sigap Reichard menggendong tubuh Emily untuk membawanya kembali masuk kedalam kamarnya, lalu dengan cepat juga dia menutup kembali pintu kamarnya itu.


Terdengar suara gelak tawa mereka yang terasa pedih di hati Emily. Oppa Haghen dan kedua orang tuanya pun segera meninggalkan ruangan tengah yang berada dilantai dua. Satu-satunya ruangan yang menghubungkan tangga menuju kamar Reichard.


“Aiden...” Panggil Oppa Haghen, Aiden pun sadar dengan apa yang harus dilakukannya. Dengan langkah kaki yang berat dia pun terpaksa mengikuti Oppa Haghen dan kedua orang tua Emily dari belakang.


“Mereka sudah pergi.” Ucap Reichard pelan. Matanya berusaha menangkap tatapan mata Emily yang seakan tidak sudi melihatnya lagi.


“Sampai kapan? Kenapa kamu tidak tegas mengatakan kepada mereka kalau kita sudah bercerai?! Buat apa kamu berbohong?!” Desis Emily, suaranya terdengar gemetar dan air matanya kembali menetes.


“Bukannya kamu seorang artis, bersandiwara lah agar tetap terlihat bahagia dengan pernikahan ini. Kamu pasti paham jika saja oppa tahu yang sebenarnya apa yang akan terjadi kepada oppa. Aku akan menghabiskan keluarga mu dalam sekejap kalau kamu memberitahukan perceraiaan kita!” Reichard kembali mengancam Emily.


“Kenapa...kenapa kak Rei? Kita bukannya orang yang tidak saling kenal sebelumnya bukan? Aku bahkan sudah mencintaimu dari kecil. Jika memang kamu membenci pernikahan ini kenapa kamu mau melakukannya? Jika saja kamu mau jujur kepadaku kalau kamu sangat mencintai sekretarismu itu maka tidak akan sudi aku menjadi pengganggu hubungan kalian! Aku bisa belajar pelan-pelan untuk tidak lagi mencintaimu kak, aku pasti bisa merelakanmu dan menolak pernikahan ini. Hiks...Tapi kenapa, kenapa kamu malah membiarkan pernikahan ini terjadi, lalu menceraikan ku langsung dengan talak tiga?! Kenapa?!” Isak tangis Emily kembali pecah. Namun Reichard sedikitpun tidak menoleh kearahnya.


Tatapan mata Reichard terlihat kosong, sekosong hatinya yang seperti tidak dapat merasakan bagaimana sakitnya luka hati Emily saat itu.

__ADS_1


“Jelaskan padaku, kenapa kamu diam saja?!” Emily memulul punggung Reichard berulang kali, namun pria itu masih terdiam.


“Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, baik kepada kedua orang tuaku atau oppa. Maaf kak Rei, aku juga punya harga diri, aku akan jujur kepada mereka. Aku yakin, mereka pasti akan baik-baik saja!” Ucap Emily pada akhirnya.


__ADS_2