STARS

STARS
7. PUISI BUATAN RAYEN


__ADS_3

"Mbak jangan nangis disini, entar disangka warga mbak itu kuntilanak.." jawab orang asing itu, mendengarnya jessica langsung berdiri.


"Heh orang lagi sedih juga, malah dikatain.." kata jessica dengan menghapus airmata dengan tangannya.


"Bukan gitu mbak, cuman tadi saya sangka juga kuntilanak.." kata orang itu dengan sedikit memberikan senyum giginya.


"Nyebelin banget sih.." jessica mulai melangkah untuk pergi dari sana.


"Eh mbak.." orang asing itu menggenggam tangan jessica.


"Lepasin!" Kata jessica yang melepas genggaman laki laki itu.


"Maaf mbak, mbak saya anterin ke rumahnya, ini kan udah malem nanti kalo mbak kenapa napa gimana.." kata orang asing itu.


"Apa peduli lo.." jessica melangkah, menjauhi orang asing itu.


***


"Haii.." kata aza tersenyum manis yang masih berada di depan gerbang sekolah, menghalagi jalan rayen.


"Lo...ngapain ada disitu? Minggir.." kata rayen dengan menggunakan sepedanya.


"Galak banget sihh.." aza mencibir. "Besokkan ulangan bahasa, berarti hari ini gue kerumah lo, jadi bareng boleh kan?" Kata aza tersenyum kuda.


"Manis banget sih.." batin rayen yang sedikit tersenyum, melihat aza tersenyum kuda.


Tiba tiba aza sudah berada di bagian belakang sepeda rayen, siap untuk membonceng. "Udah siap.." kata aza dari belakang.


"Gue belum ngomong setuju.." kata rayen cuek.

__ADS_1


Ahkirnya rayen dan aza pulang bersama untuk belajar bersama.


***


"Kok kesini?" Tanya aza pada rayen.


Keduanya kini sudah berada di taman, dekat sungai. Udara disini sangat sejuk.


"Gue bosen dirumah, makanya ngajakin kesini.." kata rayen yang memakirkan sepedanya di salah satu sisi batang pohon.


"Boleh sih, selain pemandangannya bagus gue juga suka sama udara dan suasananya, nyaman banget.." jawab aza yang berada di pinggir sungai, ia menghirup udara sebanyak banyaknya.


Rayen dan aza menikmati indahnya taman itu, mereka belajar bersama dengan nyaman.


***


"Lo ngerti apaan? Kelihatannya daritadi gue lihat lo ngelamun.." jawab aza mencibir rayen


"Lo dengerin ya.. gue ada satu puisi buat lo.." dengan percaya diri rayen berdiri, menjauh sedikit dari aza sedangkan aza hanya berdiri di tempat. Kini rayen sudah siap membacakan puisi hasil buatannya.


**Malam yang gelap buat ku takut


Hitamnya langit buatku gundah


Suasana sunyi buatku sepi


Duduk meringkuk diam memaku


Setiap sudut langit nampak terang

__ADS_1


Setitik cahaya buatku percaya


Berkilau elok buatku yakin


Bintang namanya...


"Gimana?" Kata rayen dengan senyum kakunya.


Aza hanya tertawa, ia melihat wajah kaku rayen dan puisi buatannya yang sedaritadi membuat aza menahan tawanya.


"Jelek ya?" Tanya rayen yang mulai hilang kepercayaan dirinya. "Gue juga buatnya baru tadi sih.." kata rayen jujur yang menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Engga kok engga, bagus banget.." kata aza yang menunjukkan senyum manisnya pada rayen.


"Terus tadi lo kenapa ketawa?" Rayen mulai memanyunkan bibirnya.


"Gue ga nyangka aja, seorang rayen bisa buat puisi ya walaupun sedikit geli sih gue dengernya.." kata aza.


Kini keduanya saling menatap, dibawah sinar matahari yang mulai redup, hembusan angin yang terus mengalir. Mereka berdiri saling menghadap dengan binar mata yang menatap penuh makna.


"Tapi bagus kan?" Kata rayen memecah keheningan.


"Bagus kok.." kata aza jujur.


***


"MAMA GA PERCAYA SAMA PAPA, PAPA TUH PASTI SELINGKUH.." kata melia dari dalam rumah.


Mendengar perdebatan kedua orang tuanya membuat rayen dan jessica langsung masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2