STARS

STARS
9. PANTAI


__ADS_3

Papa han segera menahannya, "iya mama sayang, nanti papa ajak klien papa yang kemarin, dan kamu juga ray ngajak si aza.." kata papa han dengan menggenggam erat tangan melia.


"I..iya pah.." kata rayen.


Mama melia yang mendengar perkataan papa han begitu senang, mereka ahkirnya merencanakan liburan bersama ditambah dengan aza dan klien papa han itu.


***


Sehabis pulang sekolah, rayen mengejar aza yang sudah keluar dari gerbang sekolah.


"Za.." teriak rayen dengan berlari ia mengejar aza.


"Eh ray.." kata aza.


"Hai.." kata rayen dengan tersenyum kecil.


"Ikut gue yuk.." rayen menggenggam tangan aza.


Tibalah mereka berada di taman seperti biasa, aza melebarkan senyumnya, rayen masih memakirkan sepedanya. Kini keduanya tengah duduk di pinggir sungai dengan memandangi pemandangan disana.


"Za.." rayen memanggil aza, aza kini menatap rayen.


"Kenapa?" Tanya aza.


Kini keduanya saling menatap, aza menunggu jawaban dari rayen.


*Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

__ADS_1


Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta


Kau tak akan mengerti segala lukaku


Karna cinta telah sembunyikan pisaunya


Membayangkan wajahmu adalah siksa


Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan


Engkau telah menjadi racun bagi darahku


Apabila aku dalam rindu dan sepi*..


Seketika membuat aza terdiam menatap penuh mata rayen. Ia terperanjat dalam puisi yang dibacakan rayen kepadanya. Rayen tersenyum kecil menatap aza, ia juga menatap aza penuh makna.


Aza masih dalam lamunannya, ia masih menatap rayen, lamunannya belum saja memudar.


"Za.." kata rayen dengan memegang pundak aza.


"Ya?" Kata aza, ia tersadar dari lamunan panjangnya.


"Tadi puisi buatan siapa?" Tanya rayen.


"O..oh itu dari WS rendra.." jawab aza.


Rayen hanya mengangguk angguk, "terus kenapa lo tadi ngelamun?" Tanya rayen lagi.

__ADS_1


"Aduh..kok gue jadi baper gini ya tadi dibacain puisi sama rayen.." batin aza kini mulai bicara.


"Kaget aja gue.." jawab aza dengan senyum canggungnya. "Emang kenapa sama puisi itu ray?" Sambung aza.


"Tadi ada puisi itu di ulangan gue, gue ga tahu buatan siapa? Makanya gue tanya lo.." jawab rayen.


"Oh ya gue hampir lupa, lo ikut ya ke pantai sama keluarga gue.." kata rayen kini wajahnya sedikit memelas.


"Hah?!" Jawab aza kaget, "kok ngajak gue? Itukan acara keluarga.." jawab aza lagi.


"Tadi malam mama marah gara gara papa karna salah paham, biasalah masalah orang dewasa, terus tadi pagi mama ngasih syarat itu, kalo gue ga ngajak lo mama nanti marah lagi, jadi maunya? Plis..." kini wajah rayen benar benar memelas penuh, supaya aza mau untuk berlibur ke pantai.


"Gawat juga sih.. yaudah gue mau tapi gue izin sama orang tua gue dulu, baru ntar gue kabarin.." kata aza tersenyum.


"Kabarin secepatnya ya.." kata rayen, ia juga mulai tersenyum.


Rencana liburan mereka ahkirnya tiba, mereka kini sudah berada di depan pantai yang sangat indah dengan matahari yang cukup memancarkan sinar terangnya.


Keluarga tersebut ahkirnya berteduh di salah cafe di pantai tersebut. Dengan menikmati makanan dan juga melihat pemandangan yang cukup unik bagi mereka.


"Pah, katanya mau ngajak klien papa itu? Mana kok belum dateng?" Tanya mama melia.


"Nanti juga kesini mah, soalnya dia ada beberapa urusan dulu.." jawab papa han.


Aza, makasih ya udah mau ikut liburan bareng tante.." mama melia memancarkan senyum manisnya kepada aza.


"Iya tante sama sama, aza seneng kok bisa ikut kesini.." jawab aza, kini kedua tangan melia merangkul aza, mereka saling berpelukan sudah seperti anak dan ibu rupanya.

__ADS_1


__ADS_2