
Nuril terus mengejar Aruni yang di bawa oleh mahluk yang tidak kasat mata itu ke puncak pohon besar yang cukup tinggi.
Pergerakan dari mahluk itu sebenarnya tidak terlalu cepat, hanya saja Nuril sulit untuk mengejarnya karena setiap kali dia mendekat, ekor mahluk itu terus menghalau keberadaan Nuril, dan itu sangat mengganggu Nuril hingga dia samapai beberapa kali terpeleset dari pohon.
"Argggh" lirih Nuril yang terpeleset jatuh lagi dan lagi karena kakinya di sandung mahluk transparan itu.
"Sial, apa yang kuhadapi Ini?, benar benar menjengkelkan" gumam Nuril yang bergelantungan di dahan pohon, dia merasa kesulitan untuk menjangkau Aruni.
"Nuril, kau tidak papa?" tanya Rayuna yang baru tiba bersama saudarinya menghampiri Nuril
Nuril melompat ke atas dahan lagi untuk berpijak.
"Tidak papa, tapi sulit sekali untuk mendekati Aruni di atas sana" ucap Nuril
"Aaaaaaaaah, aku mohon tolong aku!!" teriak aruni lagi dari atas.
"Aruni!!!" ucap Nuril mencoba untuk beranjak naik ke atas lagi.
Aruni yang juga tidak dapat melihat mahluk yang mengekangnya juga tidak bisa berbuat banyak, karena tubuhnya terasa terlilit tali yang kuat.
Aruni mencoba meraih anak panah di punggungnya, dan mencoba menancapkannya pada sesuatu yang terasa melilit di tubuh nya itu, dan.
'Cep' "Rrrrrgghhhh" erang makhluk itu, bercak darah hitam langsung terlihat dari ujung panahan Aruni itu.
"Kena juga ternyata" ucap Aruni langsung mencabut anak panahnya lagi dan menancapkanya lagi dan lagi, hingga mahluk itu samar samar menampakan wujudnya berupa bunglon yang sangat besar, dan yang di tusuk oelh Aruni itu tidak lain adalah lidahnya yang sangat panjang melilit di badan Aruni.
"Aaaaaaaa!!" Aruni berteriak ngeri saat melihat penampakan dari makhluk itu. dan menjatuhkan anak panahnya.
"Aruniii" panggil Nuril yang kini bisa sedikit melihat penampakan siluman yang menangkap Aruni itu.
"Oh, kupikir kau mahluk mengerikan seperti apa, ternyata kau hanya siluman cicak saja" ucap Nuril langsung beranjak untuk melancarkan serangan pada bunglon itu.
Tapi makhluk itu kembali menyamarakan tubuhnya hingga tidak terlihat lagi, dan kembali membawa Aruni bergerak.
"Tunggu kau mahluk jelek" ucap Nuril langsung mencoba mengejar dan langsung menyerangnya dengan pedang secara memababi buta.
Tapi itu sia sia saja karena yang terkena tebasan dari pedang nuril hanyalah angin dan ranting ranting pohon saja, itu karena Nuril tidak bisa menebak posisi bunglon itu di sebelah mana meski Aruni sudah berada di dekatnya.
Aruni berada di lidahnya yang bisa memanjang atau memendek. bukan di mulutnya, jadi bunglon itu bisa bergerak leluasa tanpa merubah posisi Aruni, dan tidak terlacak Nuril
"Hati hati Nuril, dia terus bergerak" ucap Aruni yang bisa merasakan gerakan dari bunglon itu di tububnya.
"Diamana kau mahluk jelek, jangan bermain main dengan ku" ucap Nuril
Tiba tiba saja kibasan ekor yang tak terlihat langsung menghantam Wajah Nuril 'Buuuuhkh' "Arggghhhh" nuril kembali terpental jatuh ke bawah, tapi kali ini Nuril langsung menancapkan pedangnya ke dahan pohon untuk menghentikan pergerakan jatuhnya.
"Sial, makhluk ini benar benar merepotkan" ucap Nuril
__ADS_1
Aruni segera di bawa bergerak ke atas lagi, dan Nuril mencoba mengira ngira posisi sosok makhluk itu meski dia tidak melihatnya.
Nuril lalu mencabut pedangnya dari dahan sambil kembali meloncat ke atas, dia langsung melemparkan pedangnya ke arah makhluk yang membawa Aruni meski tidak terlihat.
"Cobalah ini, apa kau bisa menghindar" teriak Nuril
'Wushhhhhh' Pedang Nuril langsung melesat dan berputar ke arah Aruni, dan 'Sreeeeet' "Rrrrrrrrrrgggghhhh" erang si bunglon yang tidak sempat menghindarinya, dan tertancap teoat di punggungnya oleh Pedang Nuril.
"Bagus, tepat sasaran" ucap Nuril
Tapi itu tidak bisa untuk menghentikan pergerakan dari makhluk itu, namun setidaknya pedang Nuril sudah menjadi penanda di tubuh bunglon untuk Nuril mulai menyerang dengan jarak dekat.
Dengan kelincahannya Nuri segera melesat lagi dan langsung menoleh nghalangi jalan makhluk itu teoat di depan Aruni.
Dengan pedangnya yang masih menancap di punggung siluman itu, Nuril bisa memastikan kalau ekor makhluk itu berada jauh darinya.
"Nuril, tolong segera lumpuhkan mahluk ini, aku sudah hampir kehabisan nafas" ucap Aruni yang melihat Nuril berada di hadapannya.
"Aku usahakan, kau tenang saja" ucap Nuril, tapi dia sedikit bingung untuk menyerang karena dia tidak membawa senjata apapun sekarang, jika mencabut miliknya tidak ada tanda lagi yang bisa di lihat dari mahluk itu.
"Imelda, beri aku senjata" teriak Nuril pada saudarinya yang masih berada di bawah.
"Coba gunakan ini saja" ucap Rayuna yang langsung melemparkan pedang cambuk siluman gurita yang bisa memanjang menjadi cambuk atau memendek menjadi pedang.
Meski lemparan itu tidak akan sampai kepada Nuril, tapi Rayuna yakin kalau Nuril akan bisa menjemputnya di udara,
'Trak' nuril yang langsung menangkapnya dan hinggap di dahan lain, lalu dia kembali dengan cepat ke arah siluman bunglon lagi.
'Sret sret sret' Nuril terus membuat luka di tubuh siluman bunglon itu dengan cambumnya,
Hingga hampir di sekujur tubuh bunglon itu di penuhi oleh bercak darahnya, dan bentuk dari siluman bunglon itu pun bisa sedikit terlihat meski dia tidak menampakan wujudnya.
"Bagus, kali ini kau tidak akan lolos" ucap Nuril langsung menerjang dengan pedang dua jarinya. dan 'Sret, sleb' nuril langsung menusuknya di bagian kepala bunglon, lalu mencabut pedang yang lebih besar dan 'Sreeeeerrrrrttt' Nuril menebas leher bunglon itu sampai putus.
"Rasakan" teriak Nuril yang memamg di buat kesal oleh bunglon itu.
Seketika kepala bunglon itu terjatuh, dan Aruni ikut bersamanya
"Uwaaawwww aku jatuuuuuhh," teriak Aruni
Tapi Nuril langsung menangkap lengan Aruni dan menahanya.
"Tenang saja, aku menangkapmu" ucap Nuril.
"Hhhh, hhh, hampor saja, terimakasih" ucap Aruni yang segera di tarik nuril Ke atas dahan.
"Tapi bagaimana caranya aku turun kebawah?" tanya Aruni yang bingung turun dari pohon yang sangat tinggi itu
__ADS_1
"Naiklah ke punggung ku" ucqp Nuril
"Tidak tidak itu bukan cara yang bagus untuk turun" ucap Aruni
"Naik saja, dan percayakn semuanya padaku" ucap Nuril
"Baiklah, tapi pelan pelan" ucap Aruni yang sebenarnya tidak ingin turun demgan cara itu.
"Pegangan yang erat" ucap Nuril yang langsung meloncat dan berlari ke bawah di dahan pohon yang menjulang tinggi itu.
"Aaaaaaaaaaaaaa" Aruni langsung berteriak histeris dan memejamkan matanya, dia mencoba sekuat mungkin untuk berpegangan pada leher Nuril
Dan Nuril pun bisa dengan mulus memabawa Aruni ke tanah dengqn lehernya yang di cekik Aruni
"Kkkkkeekkkk, kau boleh melepaskan nya" ucap Nuril
"Oh, sudah sampai ya, cepat juga" ucap Aruni segera melonggarkan cekik kanya dan tirun dari punggunh Nuril
Merka pun segera menghampiri siluman bunglon yang sudah duluan jatuh. dengan kepala dan bandanya yang terpisah.
"Mampus kau, siapa suruh menjadikanku sebagai sandera" ucap Aruni sambilenendang kepala bunglon yang sudah kasat mata itu.
Kepala bunglon itu juga perlahan menjadi sebuah mustika berwaran kecokelatan.
"Lho, ini barang apa, kenapa bukan senjata" ucap Aruni yang langsung mengambilnya.
Aruni mebiliknya dan tidak merasakan apapun dari benda itu
"Aruniiii!!!!!, hahh, sial sial, kenapa dia harus menghilang lagi, aku sudah sangat lelah untuk menyelamatkan nya" gerutu Nuril yang tiba tiba tidak melihat Aruni di pandangan matanya.
Jelas Aruni bingung, karena dia masih ada di sana "Apa yang kau katakan?" tanya Aruni
"Hey Kau sembunyi di mana?" tanya Nuril yang mendengarnya, tapi tidak melihat wujudnya.
"Aku di depanmu, kau ini aneh" ucap Aruni
"Benarkah??, apa ini efek dari barang bunglon itu?, aku benar benar tidak melihatmu" ucap Nuril
Aruni mencoba memahami cara kerjanya dan mencoba memasukan mustika itu ke kanting kecil yang dia bawa. dan wujudnya pun nampak lagi.
"Astaga, kau benar benar seperti hantu" ucap Nuril yang tiba tiba meliahat aruni lagi di depanya.
"Ini mustika yang keren" ucap Aruni
"Mana?, aku tidak melihatnya" ucap Nuril penasaran.
"Baik, kita coba berdua" ucap Aruni mengeluarkan mustikanya lagi, sambil meraih tangan Nuril.
__ADS_1
"Dan kita menghilang" ucap Aruni
Nuril yang tidak meraskan apa apa hanya menatap Aruni dengan aneh.