Stealth King Sword (Pedang Raja Siluman)

Stealth King Sword (Pedang Raja Siluman)
Mencoba


__ADS_3

Nuril terus mengikuti langkah Keynara di desa Elf itu, hingga mereka bertiga akhirnya sampai di depan kediaman Keynara yang bagan deannya menyerupai banguan igloo besar yang tersusun dari balok balok batu, ukuranya memang sedikit lebih besar dari rumah rumah bukit penduduk lainya, dan itu wajar mengingat Keynara memang ketua di desa elf itu.


Keynara segera mendorong pintu masuk igloo batunya dengan sedikit sihir untuk membukanya. "Masuklah, ini kediamanku" ucap Keyanara yang lebih dulu masuk.


Nuril dan Aruni juga segera beranjak masuk ke rumah Keynara itu tnpa sungkan.


Ruangan rumah di dalamnya lumayan cukup luas, dengan tata ruang yang tidak jauh berbeda dari kediaman saudari saudari elf yang sebelumnya Nuril tinggali, seperti terdapat banyak relif relif emas yang khas, juga perabotan dari emas murni.


Tapi memang sekarang Nuril sudah biasa saja melihat hal itu, dia sekarang tidak terlalu tertarik dengan emas lagi seperti di awal awal, karena pikirnya jika emas tidak berharga di negeri Elf, apa bedanya dengan logam kuningan atau logam biasa di dunia manusia.


Keynara langsung beranjak menuju ke ruangan tempat putra kecilnya yang tengah terbaring sakit.


Keynara segera menghampiri putra bungsunya yang baru berusia sekitar Sembilan tahun itu, siklus pertumbuhan elf dari bayi ke anak anak memang terbilang normal normal saja, sehingga perawakannya tidak jauh beda dengan anak anak manusia yang berusia sama.


Idar selalu di jaga oleh kakak perempuanya yang bernama Rinar dan juga neneknya Jenara.


"Kau sudah kembali Keynara?, Apa kau dapat buruan bagus hari ini?, kondisi anakmu sudah semakin memburuk, kita harus segera mengobatinya pada maha tabib kerajaan, kalau tidak, cepat atau lambat dia pasti akan meninggalkan kita" ucap Jenara yang sudah berusia renta.


"Tidak bu, aku tidak dapat hasil apa apa hari ini" ucap Keynara yang langsung terduduk lesu di samping putranya yang terbaring lemah dengan wajahnya yang sudah membiru, dan terlihat juga tangan idar yang sudah berubah menyerupai tangan monster berkuku tajam.


Nuril dan Aruni juga langsung masuk tanpa permisi ke ruangan itu, dan memperhatikan Idar yang terbaring dengan di dampingi semua keluarganya


"Dia putramu?, sepertinya kondisinya sangat buruk" ucap Nuril begitu melihat bocah elf yang terbaring di tempat tidurnya itu.


Jenara sontak menajamkan pandanganya pada Nuril dan Aruni yang tiba tiba masuk ke ruangan cucunya.


"Ada manusia?, kau membawa dua manusia kemari?, itu bagus sekali Keynara, bangsawan elf pasti akan membayar mahal jika kau menjualnya pada mereka " ucap Jenara.


Keynara langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Mereka bukan tawananku bu, akulah tawanan mereka sekarang, aku sudah di kalahkan oleh mereka" ucap Keynara.


"Apa kau bilang?, lantas bagaimana dengan nasib putramu sekarang, apa kau akan membiarkannya, dan merelakan Yodara mengambilnya begitu saja dari kita?" tanya Jenara.


Keynara hanya terdiam, dan berpikir keras untuk memikirkan jalan keluarnya, dia tentu tidak ingin kalau sampai putranya berubah jadi makhluk asing dan jadi pengikut Yodara selamanya.


"Maaf, bukan kah semua bangsa elf punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri atau orang lain?, kenapa kalian tidak mencobanya pada anak ini?" tanya Aruni


"Kalau aku bisa, aku pasti sudah menyembuhkan putraku sejak awal, tapi kekuatan ku terlalu lemah untuk bisa mematahkan kekuatan gelap dari Yodara yang ada dalam tubuh putraku, mungkin hanya maha tabib kerajaan saja yang bisa menolong putraku sekarang, sayangnya aku tidak punya persediaan kristal darah yang cukup untuk mengundang tabib itu kemari" ucap Keynara dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Jadi putramu seperti ini karena ulah Yodara?, kenapa dia menyerang anakmu" tanya Nuril.


"Yodara adalah kakaku, dia memang bukanlah elf biasa, dia terlalu haus akan kekutan hingga menjadikanya makhluk setengah iblis yang sangat keji, dia sering mengambil anak laki laki dari bangsa kami untuk di jadikan pengikutnya, Yodara hanya memberi tanda pada setiap anak yang dia inginkan, sehingga lambat laun anak anak itu akan berubah jadi moster dan mendatanginya secara suka rela" ucap keynara.


"Benarkah?. Jadi dengan kata lain, Yodara ingin menjadikan anakmu sebagai budaknya!, apa begitu?" tanya Nuril


"Kurang lebihnya seperti itu" ucap Keyanara.


"Benar benar tidak habis pikir kalau kau bersaudara dengan Yodara, pantas saja nama kalian ada kemiripan,"


"Ya, dulu dia adalah kakak yang sangat baik, tali sekarang tidak lagi detelah dia menyimpan dendam pada kerajaan Elf" ucap Keynara


"Begitu ya, jadi intinya selain kerajaan elf yang menginginkan pria berpisah dari ibunya, ternyata Yodara juga ingin bangsa elf itu punah ya, pantas saja pria di negeri ini sangat langka" ucap Nuril.


Aruni tiba tiba mendekatkan mulutnya ke telinga Nuril.


"Nuril, kekuatanmu cukup besar kan, apa kau tidak ingin mencoba menyembuhkan anak ini?" bisik Aruni.


"Aku ini bukan tabib Uni, ada ada saja kau" ucap Nuril dengan suara pelan.


"Panggil aku, A-Ru-ni, ah sudahlah aku hampir lupa dengan nama panggilan semacam itu, dengarkan aku, coba kau salurkan energi yang ada di dalam dirimu pada anak itu, siapa tau berhasil, itu juga kalau kau berniat ingin membantu mereka, kalau tidak, ya aku tidak akan memamksa" bisik Aruni lagi.


Nuril terdiam sejenak, dia memang sangat ingin membantu anak itu kalau dia bisa, tapi dia belum pernah mengobati makhluk apa pun sebelumnya.


Tiba tiba saja, anak itu membuka matanya lebar lebar saat mengetahui niat Nuril dan Aruni.


Matanya yang membulat berwarana merah gelap itu langsung menatao tajam pada Nuril, sorot matanya sangat berbeda dari mata elf normal yang berwaran abu kebiruan.


"Putraku, kau sudah sadar?" tanya Keynara langsung mendekapnya.


Idar langsung mengerakan tangan dan menunjuk lurus ke arah Nuril.


"Suruh mereka pergi dari kamarku" ucap Idar dengan mengeretakan giginya.


"Kenapa Idar?, mereka ini tidak berbahaya, kamu tenanglah" ucap keynara mencoba menenangkan.


"Aku bilang mereka harus keluar" bentak Idar yang langsung mendorong Keynara. Meski dia masih anak anak, tapi tenaga yang di tanamkan oleh Yodara pada dirinya itu mampu membuat Keynara sampai terpental dan terjungkal kebelakang.


"Ah" 'guprak' lirih Keynara di lantai,

__ADS_1


Keynara langsung bangkit lagi dengan di bantu Aruni.


"Kau tidak papa" tanya Aruni


"Kalian keluar lah, aku mohon" ucap keynara yang tidak ingin putranya merasa terganggu.


"Tapi dia bukan putramu sekarang, ada aura lain yang mengendaliknya" ucap Aruni.


"Aku bisa apa?, aku hanya ingin membuat putraku tenang, aku mohon, keluarlah" ucap Keynara.


"Aku minta kalianlah yang keluar dari sini" ucap Nuril.


"Kenapa malah kami yang harus keluar dari sini manusia?" tanya Jenara.


"Kalau kalian ingin anak ini selamat, turuti saja permintaanku, kalau tidak, itu terserah kalian" ucap Nuril


"Saudarku ini punya tenaga dalam yang cukup besar, dia ingin mencoba menyembuhkan putramu" ucap Aruni.


"Benarkah?, apa kalian bisa menyembuhkanya?" tanya Jenara.


"Aku bukan peramal yang tau jawabanya sebelum mencoba, jadi kalian tinggalkan saja ruangan ini, dan akan kuberikan jawabanya nanti" ucap Nuril tegas


Keynara pun merasa kalau Nuril memang bukanlah orang sembarangan, jadi dia hanya bisa menggqntungkan Nasib putranya oada nuril sekarang.


"Baiklah, baiklah, kami, kami akan keluar, bu ayo kita semua keluar, Lionar ayo cepat bantu ibu keluar" suruh Keynara pada putri sulungnya


"Baik bu" ucap Lionar langsung memapah nenenknya untuk keluar ruangan.


Tapi Idar langsung terperanjat dan mencengkram tangan Jenara dengan kuat.


"Kalian tidak boleh pergi, mereka yang harus pergi" teriak Idar.


"Hmmh, apa kau takut padaku?, benar benar makhluk lemah" ucap Nuril pada Idar yang sudah bukan dirinya lagi.


"Aku tidak takut padamu" ucap Idar langsung bangkit dan meloncat ke arah nuril untuk menerkam dengan kuju tajamnya.


Tapi Nuril langsung sigap menepis kedua tangannya, lalu mengunci anak itu di lantai dengan mudah.


"Idar" teriak Keynara yang tidak tega meliahat anaknya di kekang Nuril.

__ADS_1


"Keluarkah kalian, aku tidak bisa berkonsentrasi jika masih banyak orang yang berisik di ruangan ini" ucap Nuril.


"Baiklah, baik," ucap Keynara yang langsung beranjak membantu ibunya keluar dari ruangan itu.


__ADS_2