
Nuril terus bergerak di pepohonan hampir seharian, dan bertemu dengan beberapa siluman penghuni lembah, tapi perjalanannya kali ini bukanlah untuk berburu, jadi dia sengaja mengabaikannya atau menghindari siluman yang berusaha menangkap nya.
Di tengah perjalanan, Nuril berhenti di salah satu pohon yang menurut nya nyaman untuk membuka bekalnya.
"Di sini seperti nya nyaman, makan dulu lah" ucap Nuril yang langsung duduk di dahan besar, dan membuka bungkusan kain yang membungkus buah buahan dan meletakan nya di dahan besar yang rata itu.
Dia duduk bersandar ke pohon dan mengambil buah apel Elf yang lumayan besar dari bungkusan kain itu, tapi sebelum Nuril menghabiskan buah apelnya itu, tiba tiba saja dia merasakan ada kepakan sayap burung raksasa yang hinggap di dahan yang sama dengan Nuril.
Nuril yang sedikit bersantai langsung terperanjat bersiaga.
"Apalagi yang mengganggu makan siangku sekarang?, keluarlah, aku tidak suka pada makhluk pengecut yang tidak mau menampak kan diri" ucap Nuril dengan tetap memakan buah di tangannya.
Nuril masih bisa merasakan pergerakannya meski dia tidak melihat penampakan dari makhluknya.
Tiba tiba, sisa buah apel besar yang di pegang Nuril raib begitu saja dari tangannya, itu karena Aruni sengaja ingin iseng pada Nuril.
"Hey, tidak sopan, kembalikan makananku" ucap Nuril langsung mengibaskan tinju nya ke arah depannya, dan.
"Ahhhh" lirih Aruni yang sedikit terkena kibasan dari tangan Nuril, dia sampai terjungkal kebelakang karena mencoba menghindari serangan Nuril yang tiba tiba itu.
Mustika bunglon yang di pegangnya juga langsung terlepas dari tanganya, dan otomatis wujudnya pun langsung terlihat oleh Nuril.
Nuril yang melihat sosok yang mengganggunya iti muncul langsung meloncat untuk menyerang, karena dia sama sekali tidak berpikir kalau yang mengganggu nya itu adalah Aruni.
"Enyahlah kau" teriak Nuril yang refleks melesatkan pukulanya ke arah Aruni.
"Nurillll, ini aku" teriak Aruni dengan mencoba melindungi wajahnya dengan tangan.
Nuril yang tersadar kalau sosok itu adalah Aruni langsung mengalihkan pukulanya ke dahan pohon di samping kepala Aruni.
'Brakkkkk'
"Aaaaaaaaa" Aruni langsung menjerit histeris karena mengira pukulan Nuril itu akan mengenainya.
Nuril juga cukup kaget karena refleks menyerangnya yang terlalu cepat, sampai sampai dia tidak menyadari kalau makhluk di depanya itu Aruni, dan hampir saja dia menyakitinya.
"Aruni, kenapa kau ada di sini?" tanya Nuril sembari menarik tanganya dari dahan pohon yang di hantamanya cukup keras itu.
Aruni perlahan membuka tangan yang menutupi wajahnya, dan tertegun sejenak saat dia melirik dahan kayu yang sampai berlubang karena pukulan Nuril itu , dia tidak bisa membayangkan kalau sampai pukulan Nuril sampai mengenainya.
Aruni lalu beranjak untuk duduk.
"Aku, aku mengikuti mu, kenapa kau jahat sekali" ucap Aruni langsung memeluk lututnya sendiri
"Aku tidak menyangka kalau yangengangguku itu kau, dan juga ntuk apa kau mengikuti ku?, kau harus pulang sekarang juga!!," ucap Nuril yang sedikit marah pada Aruni karena menghawatirkan keselamatan nya.
"Aku tidak mau pulang, aku ingin ikut dengan mu" ucap Aruni
__ADS_1
"Kau benar benar tidak mengerti kekhawatiran ku, dengarkan aku, aku sekarang ini ibarat seorang buronan siluman siluman yang kuat, jadi tidak aman jika kau ikut denganku, mengerti??!!" ucap Nuril
"Untuk itulah aku mengikutimu, aku mungkin bisa membantumu" ucap Aruni
"Apa kau tidak mengerti perkataan pak tua Elf sebelum nya?, siluman siluman seperti Yodara itu terlalu berbahaya untukmu, aku bisa saja menghadapi makhluk seperti mereka itu sendirian, tapi aku tidak yakin bisa melindungi mu" ucap Nuril.
"Aku bisa mebjaga diriku sendiri, aku juga bisa menyelamatkan mu kemarin" ucap Aruni
Nuril menghela nafas nya dalam dalam "Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus pulang, jangan mengikuti ku lagi" ucap Nuril.
"Tidak mau" ucap Aruni kekeh.
"Terserah" ucap Nuril langsung meloncat dengan cepat untuk menghilangkan jejak dari pandangan Aruni.
"Nuril, tapi mustika bunglonku jatuh, apa kau tidak mau mbantuku untuk mencarinya dulu" teriak Aruni, yqng meang tidak melihat pergerakan Nuril yang entah ke arah mana
Nuril yang masih bisa mendenggaranya langsung menghentikan pergerakan nya.
"Astaga, dia benar benar merepotkan, tapi mustika itu memang penting untuk menjaganya dari marabahaya" gumam Nuril yang merasa Aruni akan kerepotan jika tidak ada mustika itu.
Nuril pun segera berbalik arah dan kembali ke arah tempat Aruni lagi.
Dan benar saja, Aruni kini sedang berhadapan dengan sosok laba laba raksasa, dan dia tidak melawanya.
"Nurilllll, aku takut laba laba" teriak Aruni yang terus mundur kebelakang di dahan pohon karena takut.
Nuril langsung meloncat untuk menghadang laba laba besar itu tepat di tengah tengah antara laba laba itu dan Aruni.
Laba laba itu pun langsung mundur dan naik ke atas dahan yang lebih tinggi, seakan dia takut oleh perkataan Nuril.
"Dia pergi?" tanya Aruni sambil memperhatikan laba laba itu merayap ke atas.
"Ya, laba laba itu sepertinya hanya suka menggoda seorang penakut seperti mu, dan dia takut pada orang yang berani seperti aku" ucap Nuril asal dengan menepuk dadanya sendiri.
"Mmmmmh, sombong" ucap Aruni.
Tapi tiba tiba laba laba besar itu mengeluarkan jaringnya ke arah Aruni dan berhasil melilit Aruni, dan laba alab itupun langsung menrik tubuh Aruni ke atas.
"Aaaaaaaaaa, dia menangkapaku" teriak Aruni.
Nuril menoleh dan menyadari kalau Aruni memang di pancing dari atas oleh jaring yang di keluarlan oleh laba laba itu.
"Asataga, sudah kubilang jangan ganggu dia kan, kalau begitu, kau jangan menyesal, karena aku sudqah memperingatkanmu" ucap Nuril langsung meloncat untuk mengejar Aruni
Laba laba itu langsung melilit Aruni dengan jaringnya dan menggantung tubuh Aruni yang sudah terlilit dengan cepat itu di dahan.
Sementara Nuril terus endekat dan tidak berniat untuk memberi peringatan lagi pada laba laba itu, jadi dia langsung melesat dan menghantamkan pukulan kerasnya ke kepala laba laba itu samapai pecah
__ADS_1
'Braaakkkk' Craaaattt' "Rrrrgggghhh" laba laba itupun langsung mengelepar dan terbujur kaku
Nuril langsung menoleh lagi pada Aruni yang tengah menggantung terbalik di dahan.
"Kau lihatkan, kau jelas jelas tidak bisa melindungi dirimu sendiri" ucap Nuril.
"Itu, itu karena dia laba laba, kalau dia yang lain, aku bisa mengalahkanya" ucap Aruni.
"Tetap saja, intinya kau penakut" ucap Nuril.
"Aku tidak takut, aku hanya geli dengan laba laba" ucap Aruni mengelak.
"Sama saja" ucap Nuril meloncat dan langsung menyambar Aruni dari jaring yang menggantungnya.
Nuril membawa Aruni turun dan menurunkan Aruni di dahan yang aman, lalu membantunya untuk melepaskan jaring yang melilit di tubuhnya.
"Terimakasih, tapi sekarang aku kehilangan mustika bunglonku" ucap Aruni
Nuril menghela nafasanya lagi
"Setelah menemukan mustika bunglonmu, berjanjilah kau akan pulang, kalau tidak, aku tidak akan membantumu mencarinya" ucap Nuril.
"Baiklah, aku janji, tapi kau harus menemukanya lagi, aku tidak bisa apa apa tanpa mustika itu" ucap Aruni memelas.
"Baik, kita turun untuk mencarinya" ucap Nuril langsung merendahkan punggungnya untuk menggendong Aruni.
"Baiklah" ucap Aruni dengan tersenyum, dia tidak ragu ragu lagi seperti waktu pertama kali Nuril mengajaknya menuruni sebuah pohon yang lebih besar sebelumnya.
Dan setelah Aruni naim ke punggungnya, Nuril juga segera membawa Aruni meloncat ke dahan yang lebih rendah dan lebih rendah lagi, sampai mereka akhirnya mendarat di tanah.
Tapi Aruni tidak langsung turun meski meraka sudah sampai di bawah pohon.
"Turunlah" ucap Nuril.
"Aku masih nyaman di punggung mu" ucap Aruni
"Tapi kau ini berat" ucap Nuril.
"Masa sih?, kalau berat, kenapa kau seperti nya sangat enteng untuk membawaku turun ke sini" ucap Aruni.
"Aruni, aku harus segera melanjutkan perjalanan ku ke kerajaan elf, jadi turunlah dab cari mustika bunglonmu itu" ucap Nuril
"Aku bisa mencarinya dari sini" ucap Aruni.
"Hhhhh, Baiklah, terserah kau saja" ucap Nuril yang tidak ingin berdebat dengan Aruni.
Dalam Hati, Nuril sebenarnya senang ada seseorang yang bisa dia ajak ngobrol di tengah lembah itu, tapi tetap saja Nuril tidak mau kalau Aruni ikut bersamanya karena alasan keselamatan.
__ADS_1
Nuril terus mencari keberadaan mustika bunglon yang menurut Aruni jatuh itu, tapi dia sulit untuk menemukan jejak mustika berwarna coklat terang yang sebesar biji buah salak itu di sisi manapun.
Meski Nuril sudah berkeliling pohon itu beberapa kali, dan bahkan sampai radius yang lumayan jauh dari pohon. di tetap tidak menemukan mustika Aruni itu.