
Setelah Naga Hidra yang di panggil oleh Yodara itu menapakan kakinya di tanah, Yodara dan anjingnya juga tiba tiba menghilang dari pandangan Nuril.
Dengan sekejap Yodara langsung muncul di punggung Naga hidra itu, tapi tidak dengan anjing berkepala tiga yang sebelum nya dia tunggangi.
"Aku tidak perduli seberapa besar kekutan pedangmu, tapi aku ingin melawanmu sampai akhir" teriak Yodara,
Dia langsung memegang rantai kendali yang terhubung langsung pada salah satu kepala dari Naga hidra itu untuk mengedalikanya,
"Rrrrrrrrrgggghhh" Naga Hidra itu langsung meraung keras sembari mengangkat kedua kaki depanya.
Sang Naga yang di kendalikan oleh Yodara itu juga langsung breaksi dengan mengumpulkan energi di setiap mulutnya, dan terciptalah bola bola api yang berukuran cukup besar di sana, bola bola api itu pun langsung di lemparkan ke arah Nuril hampir bersamaan 'Wooshh' 'Wosshhh' wooshhh'
'Duaaarrr' ledakan dahsyat pun langsung terjadi saat bola bola api itu menghantam tanah yang sebelum nya di pijak oleh Nuril
Sementara Nuril Yang memang sedari awal sudah siaga bisa sedikit menghindar ke sisi lain ledakan,, tapi dia masih saja terkena efek dari percikan api merah itu yang membakar baju di bagian bahunya.
Nuril langsung mencoba memadamkan api dengan menepuk nepuknya dengan tangan.
"Sial panas sekali, serangannya cukup mematikan juga" gumam Nuril
Nuril tidak di beri kesempatan untuk rehat atau menyerang balik, karena serangan dari kepala kepala Naga itu kembali datang padanya bertubi tubi.
'Duarrrrr, duarrrrr'
Nuril terus menghindari ledakan itu secepat yang dia bisa, meski tidak sepenuhnya bisa menghindari efek yang di timbulkanya, karena radius serangan dari Naga murka itu cukup besar dan mampu menghancurkan apapun yang terkena oleh efek bola apinya itu.
Nuril terus berlari supaya bisa kabur dari naga besar itu, tapi Yodara tidak membiarkan Nuril bisa lolos dengan mudah.
Yodara menarik rantai kendalinys lagi, dan Naga itu mengepakan sayap besarnya dan terbang untuk mengejar Nuril yang mencoba melarikan diri.
"Hahaha, kemarilah sayang, kenapa kau terus terusan menghindari ku, apa nagaku ini membuatmu gerah?" tanya Yodara.
"Bukan hanya gerah, tapi kau sudah membuatku gosong bedebah," gerutu Nuril yang merasa sudah jadi bulan bulanan Yodara dan Naganya.
Nuril yang terus di kejar Yodara sedikit kesulitan untuk melancarkan serangan pada Naga tungganganya itu, karena Yodara benar benar tidak memberi peluang sedikit pun untuk Nuril bisa menyerang balik.
Naga itu terus mengejar Nuril dan tidak ada yang mampu menghambat serangan dari bola apinya , pohon pohon yang lumayan besar saja sampai hangus dan rubuh di buatnya.
Ketika punya kesempatan, Nuril sesekali melepaskan serangan dari pedang nya, namun karena kurangnya fokus akurasinya juga buruk, jadi itu bisa dengan mudah di hindari oleh Naga Yodara.
__ADS_1
Nuril benar benar tidak bisa bersembunyi dari Yodara, karena tidak satupun penghalang yang bisa menghentikan Pergerakan dari Naga itu
Tapi Nuril masih cukup beruntung karena masih bisa menghindari setiap bola apinya.
Tapi tidak berselang lama, ujung cambuk Yodara yang tidak dia sadari tiba tiba membelit kaki Nuril lagi, tentu saja sangat menghambat pergerakan Nuril.
"Aku mulai bosan terus terusan kejar kejaran seperti ini, aku akan akhiri saja di sini" teriak Yodara
"Sejujur nya, aku juga tidak ingin teru bermain kejar kejaran dengan mu, paham?, jadi berhentilah mengejarku" ucap Nuril dengan sedikit membalikan badan di udara untuk menebas tali cambuk yodara dari kakinya.
"Matilah kau" teriak Yodara yang sengaja membuat Nuril lengah agar dia tidak bisa menghindari serangan bola api dari naganya.
"Celaka" gumam Nuril yang merasa tidak akan bisa menghindari serangan itu di udara, karena dia tidak punya pijakan untuk mengelak.
Bola api melesat dengan cepat kepada Nuril, dan di saat Nuril berpikir dia akan mati lagi untuk ke sekian kalinya, tiba tiba tubuhnya terasa di sambar oleh sesuatu dan di bawa menghindar oleh makhluk terbang yang tidak terlihat.
'Syyeeepppp'. Seketika tubuh Nuril juga ikut tersamarkan
Dan 'Duarrrrrrrrrrr' tiga bola api itu pun bertabrakan dan meledak hebat,
"Hahahaha, dasar manusia lemah, ternyata hanya sampai di sini saja kemampuan mu ya!!,, kau benar benar tidak becus memanfaatkan pedang itu, jadi percuma saja pedang itu memilih mu" ucap Yodara yang mengira kalau seranganya sudah berhasil mengalahkan Nuril
Padahal dia sudah mempelajari semua kemampuan yang di miliki Nuril, dan jelas jelas Nuril tidak bisa menghilang begitu saja, dan juga tidak mungkin diabisa menghindari serangan bola apinya di udara. meski dengan pergerakannya yang sangat cepat sekalipun.
"Kurang ajar, apa dia berhasil lolos?, bagaimana bisa?" ucap Yodara kesal. dia mengendalikan naganya untuk terbang lebih tinggi dan memantau pergerakan Nuril dari atas,
Dengan kemampuan penglihatannya yang bisa menembus kegelapan, Yodara memperhatikan ke sekeliling lembah itu, namun dia sama sekali tidak melihat ada pergerakan dari Nuril di sekitar sana.
"Baiklah, kali ini kau boleh saja lolos dariku, tapi tidak ada lain kali, hahaha" teriak Yodara senang, karena dia bisa menyimpulkan kalau Nuril sangat lemah dan belum bisa mengendalikan pedang Raja siluman itu sepenuhnya,
*
Sementara di sisi lain, Nuril yang di bawa pergi oleh Dewi Perang mulai bisa bernafas lega, karena akhirnya dia bisa los dari Yodara.
Nuril mendongak untuk melihat ke arah wajah Dewi Perang yang sekarang membawanya terbang, dengan perawakannya yang tiga kali lipat lebih besar darinya, dia nampak sangat gagah dengan armor dan topeng baja yang di kenakannya,
"Terimakasih kau sudah menyelamatkan ku dari wanita mengerikan itu" ucap Nuril
Dewi Perang pun hanya balas menatap Nuril dan sedikit memberinya senyuman, karena dia tidak bisa mewakili ucapan dari sukma Aruni yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
"Kau itu Aruni kan?" tanya Nuril
Tapi Dewi perang hanya diam saja.
"Kenapa kau tidak bicara apapun padaku?" tanya Nuril yang merasa di acuhkan.
"Aku sudah bilang sama sama kan, jadi percuma saja aku bicara, kau juga tidak akan mendengarku" gumam sukma Aruni yang ada dalam sosok Dewi perang.
Tapi Nuril sama sekali tidak melihat reaksi apapun yang di tunjukan oleh dewi perang yang hanya menampakan setengah wajahnya itu, karena dari area hidung ke atas wajahnya tertutup oleh helm perangnya.
"Kau sombong sekali, mentang mentang kau punya kekuatan dari Dewi perang yang gagah ini" ucap Nuril
"Hey, siapa yang sombong, kalau masih bisacara yang tidak tidak lagi, aku akan melemparmu dari sini" ucap sukma Aruni yang tentunya tidak bisa di dengar Nuril
"Ya baiklah kalau kau malas bicara, tidak apa, tapi harus ku akui, kau terlihat sangat hebat dengan wujud ini, aku sangat kagum dengan sosok perubahanmu ini" ucap Nuril
"Sungguh?, terimakasih banyak, jarang sekali ada orang yang memujiku, secara memang tidak ada orang selain kau di dimensi ini sih" ucap sukma Aruni tersenyum.
Aruni membawa Nuril ke hutan yang di jaga oleh pak tua Rustaz, karena menurutnya hanya di sanalah tempat yang paling aman untuk menghindari Yodara.
Aruni berpikir kalaupun dia bisa mengelabui indra penglihatan Yodara untuk sementara waktu, tapi dia tidak yakin bisa mengelabui indra penciuman dari anjing Yodara yang sangat tajam.
Dan Keempat saudarinya juga ternyata sudah menunggu mereka di gubuk pak tua Rustaz, juga sudah menceritakan sedikit kronologis penyerangan yang di lakukan oleh Yodara terhadap Nuril.
Saat Aruni sudah melewati prisai aktif dari kawasan hutan itu, pak tua Rustaz juga langsung bisa menyadarinya, meski dia tidak bisa melihat perwujudan dari Aruni Dan Nuril.
Pak tua Rustaz langsung memasang wajah khawatir, dan menerawang jauh ke arah langit malam,
"Ada yang sudah menerobos prisai pelindung hutan ini, kalian waspadalah" ucap Pak tua Rustaz yang sedikit khawatir kalau itu Yodara.
"Mungkin itu Aruni kek" ucap Rayuna yang berkumpul di luar gubuk bersama saudarinya yang lain
"Tapi aku tidak bisa melihat wujudnya" ucap Pak tua Rustaz
"Aruni memang menggunakan bantuan mustika raja bunglon untuk menyamarkan diri dari Yodara kek, kau tidak perlu khawatir" ucap Imelda.
"Begitukah?" tanya pak tua Rustaz
Tidak lama setelah Aruni mendarat, diapun segera melepaskan Nuril dan juga menampakan wujudnya.
__ADS_1
"Baguslah, itu memang mereka" ucap Pak tua Rustaz saat melihat yang datang itu memang Nuril dan Dewi perang, bukan Yodara seperti yang dia takutkan.