
Keynara merasakan ujung senjatanya yang digunakan Nuril untuk menguncinya itu benar benar menekan kuat di kerongkongannya, bahkan dia bisa merasakan ada darah yang mulai menetes dari ujung pisau surikenya yang tajam itu.
Keynara menganggap kalau Nuril benar benar bisa mengakhiri hidupnya kalau dia mencoba melawan lagi.
Sementara kedua peliharaan Keynara tidak bisa membantunya di posisi seoerti itu, karena Nuril bisa saja langsung memutuskan urat lehernya tuanya jika mereka melakukan pergerakan yqng sembarangan.
"Tungu tunggu, jangan lakukan ini padaku, aku masih ingin hidup, kita, kita masih bisa berdamai kan?" tanya Keynara dengan suara gemetar.
"Itu yang ingin ku dengar darimu" ucap Nuril yang segera melonggarkan tekanan senjatanya di leher Keynara.
Keynara pun sedikit bisa bernafas lega katika Nuril melonggarkan benda tajam itu di lehernya.
"Apa yang kau inginkan sekarang?, apa kau tidak akan melepaskanku?" tanya Keynara yang merasa sudah salah memilih mangsa, yang malah berbalik memangsanya.
Keynara tidak menyangka kalau di balik penampilan Nuril yang sangat sederhana itu, dia memiliki kemampuan yang di luar ekspektasinya, yang bisa mudah untuk melumpuhkanya meski Nuril tidak memegang senjata.
Nuril langsung tersenyum penuh kemenangan. "Kau ingin tau apa yang ku inginkan?, Aku ingin kau menjadi budaku, bagaimana?, apa kau setuju" tanya Nuril membalikan perkataan Keynara di awal.
"Tapi, tapi... " Keynara terdiam sesaat, dan tibq tiba menjatuhkan bulir air bening dari matanya. "Baiklah Aku akan mengabdi padamu, tapi biarkan aku tetap merawat anaku yang sakit, setidaknya sampai dia sembuh" ucap Keynara.
Nuril sedikit terenyuh mendengar kalau Keynara memiliki seorang anak, dan bahkan sedang sakit, Nuril sebenarnya tidak serius dengan perkataanya, dia hanya berniat memabalas perakataan Keynara saja yang sedikit menyinggungnya di awal.
"Baiklah, aku setuju, di mana anakmu sekarang?" tanya Nuril penasaran.
"Dia ada di desa elf yang tidak jauh dari hutan ini" ucap Keynara.
"Kalau begitu, bawa aku menemuinya" ucap Nuril yang memang penasaran, sebab semenjak dia menginjakan kakinya di negeri elf, belum pernah dia bertemu dengan anak anak dari bangsa elf.
"Untuk apa kau ingin menemui putraku?" tanya Keyanara.
"Apa aku harus mengatakan alasannya?" tanya Nuril
"Tidak, tidak perlu Tuan, baiklah, kau bisa ikuti aku" ucap Keynara.
Keynara tidak berani melawan lagi pada Nuril, karena dia tau dia bukanlah tandingan yang sepadan untuknya.
Dan Nuril juga segera melepaskan Keynara, dan kembali met hampiri Aruni.
*
Keynara pun segera menuntun jalan untuk Nuril dan Aruni dengan menunggangi harimau besarnya, menuju ke desa Elf tempat dia tinggal.
__ADS_1
Sementara Aruni dan Nuril menunggangi phoenix mereka untuk mengikuti Keynara, itu untuk sedikit menjaga wibawa Nuril di depan Keyanara.
"Kenapa kau ingin mengunjungi kediaman wanita elf itu, jelas jelas dia buakn elf yang ramah" tanya Aruni yang duduk di depan Nuril di punggung Phoenix nya.
"Dia bilang dia punya anak yang sedang sakit, aku hanya ingin menjenguknya saja, mungkin dia berburu juga demi pengobatan anaknya" ucap Nuril menebak nebak.
"Begitukah?" tanya Aruni yang langsung tertegun.
"Ya, dia bilang begitu, aku yakin kalau bangsa elf bukanlah makhluk yang pandai bermain siasat, berbeda dari manusia" ucap Nuril.
"Apa kau menyindirku?" tanya Aruni menoleh dengan memicingkan matanya pada Nuril.
Nuril sedikit tertegun karena perkataanya malah di artikan lain oleh Aruni.
"Aku rasanya tidak membandingkan elf itu denganmu kan?, aku hanya bilang manusia, yang artinya itu tidak merujuk ke satu orang saja, tapi umum," ucap Nuril.
Aruni langsung terdiam dan sedikit merenung, karena dia memang merasa sudah bermain siasat dengan Nuril, bahkan soal hilangnya mustika bunglon itu juga hanya di buat buat saja olehnya, karena pada kenyataanya mustika itu masih ada padanya.
'Ya maaf, aku memang membohongimu, tapi aku tidak bermaksud mempermainkanmu' batin Aruni.
Sementara Nuril langsung menggaruk tengkuknya Karena mengira diamnya Aruni adalah tanda kalau dia marah
Tapi Aruni tidak terlalu menanggapi.
Setelah perjalanan yang lumayan panjang, mereka pun akhirnya tiba di sebuah pedesaan elf yang dekat dengan air terjun di bantaran sungai. Aktifitas penduduk elf di sana lumayan ramai di siang menjelang sore itu.
Dan ketika mereka menyadari kalau ketua suku mereka datang dengan di buntuti oleh Nuril dan Aruni dari udara, mereka sontak bersiaga dengan langsung mengeluarkan senjata yang mereka miliki, untuk mengantisipasi kalau kalau mereka kedatangan musuh yang akan menyerang desa atau ketua mereka.
Penduduk desa yang sebagian besar wanita itu langsung menyambut kedatangan Keynara dengan berkerumun di tengah desa mereka.
Tidak nanpak stupun pria muda dari kalangan bangsa elf yang terlihat di sana, karena sebagian besar pria memang di wajibkan untuk jadi perajurit dikerajaan Elf sejak dini, bahkan dari usia mereka yang baru menginjak belasan.
Keynara langsung mebawa harimau tunganganya itu untuk masuk ke tengah tengah kerumunan penduduk elf itu.
Dan perhatian penduduk yang berkumpul itu hanya terfokus kepada burung phoenix Aruni yang perlahan terbang merendah, dan mereka tidak mendengar komando apapun dari Keynara, jadi mereka hanya diam karena penasaran dengan sepasang manusia yang di bawa Keynara ke desanya.
Keynara segera meloncat turun dari atas Harimaunya.
Begitu juga dengan phoenix Aruni yang langsung mendarat tepat di belakang harimau besar Keynara.
Setelah itu Nuril turun lebih dulu dan membantu Aruni sekalian.
__ADS_1
Nuril langsung memperhatikan satu persatu penduduk elf di skitarnya dengan mata berbinar, karena dia merasa kedatanganya kesana langsung mendapat sambutan hangat dari belasan wanita elf yang berparas cantik, berbeda dengan Keynara yang terlihat sudah sedikit berumur.
"Apa semua gadis di negeri elf ini cantik cantik seperti ini?, bodoh sekali para pria elf yang tidak memperdulikan mereka" bisik Nuril di telinga Aruni.
"Kamu cari saja jawabanya sendiri, hmmhh" ucap Aruni ketus dan memalingkan wajah sambil melipat kedua tanganya di perut.
Itu karena Aruni tidak suka jika Nuril melirik wanita lain selain dirinya, tidak terkecuali bangsa elf.
"Aku hanya bertanya saja kan?" ucap Nuril yang sadar dengan gelagat Aruni.
Beberapa gadis elf langsung menghampiri Keynara.
"Siapa mereka bi?, kenapa kau bisa membawa manusia dan burung phoenix kemari tanpa paksaan?" tanya Lianara, sepupu dari Keynara.
"Mereka sudah mengalahkanku di pertarungan, kalian juga harus menghormati mereka yang sudah membiarkanku kesempatan hidup" ucap Keynara
"Apa, bibi kalah?, bagaiaman bisa bi?" tanya lianara.
"Nanti saja kuceritakan, sekarang siapkan jamuan untuk tuan baru kita" ucap Keynara.
"Beb baik bi" ucap lianara, dia langsung berbalik pada penduduk elf yang lain.
"Kalian semua segera siapkan jamuan untuk tamu bibi" teriak Lionara.
Sontak penduduk elf langsung berlarian pergi ke berbagai arah, mereka langsung terbang ke arah yang berbeda beda, dan seketika suasana di tengah desa yang tadinya ramai itu pun jadi hening karena semua penduduk langsung meninggalkan lokasi.
Ada yang berniat berburu hewan untuk makan Nuril dan Aruni, ada juga yang berniat mencarikan mereka buah buahan segar, dan lain sebagainya.
"Kau ingin bertemu dengan putraku kan?, ikuti aku" ucap Keynara yang menoleh pada Nuril dan Aruni.
"Baik" ucap Nuril singkat.
Keynara pun segera beranjak menuju ke kediamannya yang paling besar di antara yang lainya.
"Beristirahatlah" ucap Aruni sebelum dia pergi kepada burung phoenix nya.
Phoenix itu pun bercahaya samar lalu kemudian memudar dan kembali mengurai ke alam.
Nuril dan Aruni juga segera beranjak mengikuti langkah Keynara, mereka juga sedikit memperhatikan gaya rumah rumah elf di sana yang berjejer rapi dan menyerupai bukit bukit yang kecil.
Dinding tampak depan rumah mereka terbuat dari batuan kubus yang di susun sedemikian rupa dan terdapat celah batu untuk mereka masuk dan juga dua lubang jendela kecil, dengan atap atap yang di tumbuhi ilalang yang bergoyang tertiup angin, menjadikan kediaman mereka benar benar menyatu dengan alam di sekitarnya.
__ADS_1