SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
PROLOG


__ADS_3

Langit Sebastian, cowok yang lahir di Bumi tanggal 20 bulan September tahun 1987. Berasal dari keluarga kaya, Ayahnya pejabat negara dan Ibunya pramugari, tak heran jika ia mewarisi wajah yang tampan. Langit tidak sendirian, ia memiliki satu adik laki-laki bernama Samuel Gefaran. Mereka berada di Sekolah yang sama, hanya beda satu tahun. Hidupnya yang serba ada seringkali bertindak seenaknya. Tapi tidak dengan Adiknya, ramah, sopan dan menjadi murid teladan di Sekolah.


---


Freya Adara, cewek cantik yang lahir tahun 1989 bulan April tanggal 10. Hidupnya tidak semulus Langit Sebastian, ia cuma cewek sederhana dari Ayah yang bekerja sebagai Pegawai toko dan Ibu yang mengurus rumah tangga. Dibalik kehidupanya yang sederhana, Freya menerima banyak pernyataan cinta dari para cowok di Sekolahnya, tidak sedikit yang berasal dari kalangan elite. Tapi Freya menolak mereka mentah-mentah, dengan alasan ingin fokus sekolah dan tidak tertarik untuk berpacaran.


---


Indonesia, 2 Maret 2004.


Langit Sebastian POV.


Mungkin gue yang ***** ini udah berhasil kembali, tapi gimana caranya ngeyakinin Freya?


"Freya, plis maafin gue pas jadi suami lu, anak kita gimana?" Kataku berbicara sendiri, sudah menggunakan seragam sambil mondar-mandir nggak jelas.


Gila, mana bisa gue ngomong gituan ke Freya, yang ada dia ilfeel.


"Langit.. kamu kenapa?"


Tanya papaku yang masih menyantap sarapan di meja makan. Begitu juga Samuel, menatapku malas.


"Apasih lu liat-liat?!"


Kataku setelah menerima tatapan dari Samuel, lalu segera ikut duduk menyantap makanan di meja sarapan.


"Mama pulang minggu ini?"


Tanyaku seraya mengoleskan selai ke roti tawar yang barusan kuambil.


Aku menatap papa yang merespon ucapanku dengan mengangkat kedua pundaknya keatas, menandakan ia nggak tau.


Benar, sejak kapan Mamaku ini pulang sesuai dugaan. Bahkan diusia tuanya, 10 tahun mendatang yang masih suka pulang terlambat.


Ini mereka cerai tahun berapa ya gue lupa, kayaknya 7 tahun dari sekarang. kalo nggak salah dulu pas gue menikah sama Freya.


"Pah, mau Langit kasih tau nggak?"


Pungkasku setelah mengingat ingatan kejadian di masa depan.


"Nggak, papa mau kerja."


Ucapnya dingin sembari bergegas bangun dari kursinya, lalu menuju keluar rumah.


Nurut siapa gue kalo bapaknya kaya gini.


"Sam lu berangkat bawa mobil, gue mau naik motor."


Perintahku pada Samuel yang masih menyantap sarapanya.


"..."


Sam tidak menjawab ucapanku, ia beranjak dari kursi lalu meninggalkanku sendirian di meja makan.


"Anak kampr*t satu itu, beneran minta dihajar."


Ucapku kesal setelah melihat kepergianya. Namun ia menurutiku untuk berangkat menggunakan mobil, terdengar suara mesin mobil di nyalakan dari depan rumah.


Bener, dia emang lebih sukses daripada gue pas itu. Apa gue ikutan investasi kaya dia ya? biar anak gue sama Freya bisa hidup enak.


Batinku sembari senyum-senyum menghabiskan sarapanku.


Tahun ini kan 2004, berarti masih ada Bi Inah.


"Bibi..!"


Teriakku dari meja makan, menghadap kedapur.

__ADS_1


Tak lama, keluar sosok wanita setengah baya dengan serbet yang disampirkanya di pundak kanan.


"Iya den Langit?"


Jawab Bi Inah sembari menghampiriku.


Setelah menatapnya aku teringat, dalam 4 tahun lagi Bi Inah sudah tidak ada di dunia ini, ia meninggal karena serangan jantung.


"Lah Bibi ngapain beres-beres terus? sana jalan sama pak Oyip."


Pungkasku sembari beranjak dari kursi.


"Jalan sama pak Oyip? ngapain den?"


Tanya Bi Inah kebingungan.


Ini Bi Inah udah nikah sama Pak Oyip kan? apa gue yang salah,


"Bibi udah nikah belum?"


Tanyaku balik.


"Loh den Langit gimana sih, Bibi kan baru aja menikah sama Pak Oyip bulan lalu.."


Jawabnya sembari senyam-senyum.


"Nah itu bener, yaudah sana jalan-jalan!"


Perintahku lagi padanya, sembari meraih tas di kursi lalu bergegas keluar rumah.


Bi Inah menyusulku sampai ke depan rumah, aku yang hendak naik keatas motor menatap Bi Inah terlebih dahulu.


"Bi, ngapain? udah masuk sana! dandan yang cakep."


Pungkasku sambil memakai helm.


Tanya Bi Inah dengan raut wajah yang nampak bingung.


Aku heran menatapnya, lalu tidak menggubris perkataanya. Beralih menaiki motor dan menghidupkan mesin, sembari mengeluarkan motor yang kunaiki keluar gerbang.


"Pak Oyip, Bu Inahnya diajak jalan-jalan sana!"


Ucapku pada sosok laki-laki yang sedang membukakan pintu gerbang rumahku.


"Eh..?"


Respon Pak Oyip, lalu menoleh sekilas ke Bu inah.


"Maksud Den Langit?"


Tanya Pak Oyip mendekatiku yang sudah bersiap untuk melajukan motor.


"....-_-"


*VROOOOOMMMM ...


Tanpa menggubris pertanyaan Pak Oyip, aku langsung melajukan motorku. Tidak sabar untuk segera menemui Freya, aku sudah sangat rindu ingin segera memeluknya. Dengan super ngebut, aku menuju Sekolah, memecah jalanan yang tidak seramai 15 tahun mendatang.


---


Freya Adara POV.


"Bunda, nanti sore kita masak bareng yuk? buat ngerayain ulang tahun ayah."


Ucapku dengan riang kepada sosok wanita yang sedang menyajikan segelas teh untukku.


"Boleh, nanti kita buat kue spesial!"

__ADS_1


Jawab Bundaku lebih semangat, sembari tersenyum lembut menatapku.


Dengan seragam yang sudah melekat ditubuh, dan tas yang terselampir di bahu, aku berpamitan kepada Bunda setelah menghabiskan teh buatanya.


"Dahh Bunda~"


Ucapku setelah siap memakai sepatu, berjalan keluar rumah melewati pagar putih yang sudah berkarat itu.


Hari ini hari pertamaku sebagai kelaa 11, setelah libur puasa & lebaran berakhir. Aku sangat bersemangat untuk datang kesekolah, tidak sabar bertemu dengan kedua sababatku, Karin dan Gita. Aku berangkat sekolah menggunakan angkutan umum.


Setelah hampir 15 menit menaiki angkutan umum, aku segera meminta kepada supir untuk berhenti di depan gerbang sekolah.


"Kiri pak.."


Ucapku sembari mengetukkan jariku di langit-langit angkutan umum tersebut.


Setelah berhenti dengan sempurna, aku segera menuruninya lalu bergegas membayar ongkos.


"Pagi Adara.."


Ucap seorang laki-laki dari belakang, membuatku cepat menoleh kearahnya setelah selesai menyerahkan ongkos angkutan umum.


"Eh, pagi Kak Alvin.."


Ucapku setelah menoleh kearahnya dengan tersenyum.


Kak Alvin adalah ketua Osis yang cukup terkenal di kalangan perempuan sekolah. Wajahnya yang lumayan tampan, hampir membuatku suka kepadanya. Tapi bukan karena wajahnya, aku suka karena ia rajin dan suka membantuku menyelesaikan soal matematika yang sulit kupahami.


"Iya.. silahkan jalan, aku mau parkirin motor."


Pungkasnya lembut, sembari mengalungkan helm ditanganya.


"Kalau gitu, aku duluan ya!~"


Jawabku riang kepadanya, disusul dengan kak Alvin yang memundurkan motornya, mempersilahkanku lewat.


Hmm, dimana Karin dan Gita ya? semoga kami satu kelas lagi Aamiin.


Ucapku dalam hati sembari berdoa. Aku segera berjalan menuju kelas lamaku yang terletak di lantai 2. Saat berjalan menyeberang lapangan seperti ini, aku jadi malu karena menjadi pusat tatapan murid-murid baru kelas 10 yang sedang berbaris.


"Kak.. cantik banget!"


Ucap salah satu cowok dalam barisan depan yang tidak kukenali.


Aku menoleh kearahnya singkat, lalu kembali berjalan setelah sedikit tersenyum padanya.


"Heh.. hehh! baru masuk udah goda-godain kakak kelas--"


Terdengar suara Osis laki-laki yang sepertinya memarahi murid baru yang menggodaku tadi. Aku mengabaikan obrolan mereka, dan bergegas menaiki anak tangga satu persatu menuju kelas.


"FREYA CANTIKKKKK!"


Teriak seseorang dibelakangku saat sudah selesai menaiki tangga, hendak berbelok ke kiri.


Aku segera menoleh kearahnya, mendapati sahabatku Karin yang menghampiriku dengan berlari.


"HEYYY! AKU KANGET BANGET!"


ucapku penuh semangat setelah memeluknya balik.


Tampak Gita yang menyusul kami, lalu ikut memelukku. Kami menjadi sorot pandangan murid-murid lain di koridor.


"Lo gila ya? gue ajak main susah banget.."


Celetuk Gita setelah melepaskan pelukanya.


Aku menatap Gita sembari tersenyum, lalu berbalik badan bergegas jalan meninggalkanya yang masih menggerutu. Karin merangkul pundakku, kami berjalan bersama menuju kelas lama untuk bertemu teman-teman lain. Gita langsung menyusulku dan Karin. Tanganya merangkul pundakku juga, sehingga membuat jalan di koridor menjadi sempit karena kami jalan berjejeran. Murid-murid didepan kamipun menyingkir dengan segera, terutama murid laki-laki yang terus-terusan menatap kami sembari tersenyum menyapa.

__ADS_1


...


__ADS_2