SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Usaha Memikat Hati


__ADS_3

Usai berbicara dengan Freya, Langit semakin yakin, dirinya dapat melanjutkan rencana mengubah alur hidup yang sudah tersusun.


"Tunggu sini." pinta Langit, berjalan lebih cepat menghampiri anak-anak WSB yang sudah memperhatikan dari jauh.


Freya menurut, ia tidak membuntut Langit lagi, berdiam diri sampai ada perintah dari Langit.


"Hareudang~!" ucap Dito, menggaruk lehernya sendiri.


Yang lain pun tertawa, lain dengan Langit, langsung menaiki motornya.


"Hoi bajing** kecil! jelasin yang lain, siap-siap datang, pesta Alsaka." Perintah Langit untuk Brian.


Brian pun langsung beranjak, mendekati Langit yang sudah bersiap melajukan motornya. Brian mengangguk, menepuk pundak Langit paham, dengan ucapanya barusan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam pak aji!" jawab WSB serempak, menyaksikan kepergian Langit.


Masih dalam jangkauan mereka, Langit menghentikan motornya, di depan Freya. Tanpa memakai helm, Freya langsung naik keatas motor, setelah mendapat perintah dari Langit.


"WOOOOO!"


"Terkadang pami cinta geus melekat, ati ucing oge karasa nikmat siga coklat!" (Terkadang kalau cinta sudah melekat, *** kucing pun terasa nikmat ibarat coklat!)


"HAHAHAHA!"


Langit tak memperdulikan, namun Freya sepertinya tampak tak nyaman, ia menunduk sebelum melewati gerbang sekolah. Gelak tawa anak-anak WSB sudah tak lagi terdengar, tinggal suasana canggung bagi Freya.


"Frey, deketan.." pinta Langit, seraya menepuk lutut kiri Freya dua kali.


Sedikit ragu, Freya lebih mendekat. Kini sudah tak ada jarak tersisa dengan punggung Langit.


"Sekarang pegangan baju aja, besok langsung peluk." sambung Langit, diikuti tawa kecilnya.


Sepertinya Freya lebih cuek dari dugaan Langit. Ia sama sekali tidak berpegangan pada Langit, tanganya justru bertumpu pada celah jok motor.


"Diem aja? bisu?"


Sontak Freya langsung melotot, menatap wajah Langit yang terpantul di spion.


"Katanya kalau bicara sama william Sunda Indonesia--"


"Sunda Bukota!" Sela Langit.


Freya mendelik, ia tak melanjutkan lagi ucapanya. Membuat Langit merengek, meminta Freya untuk melanjutkan kalimatnya.


..


Langit menepikan motornya, diparkirkan dekat gerobak makanan yang bertuliskan, mie ayam yamin. Freya heran, padahal jarak rumahnya tak lagi jauh, cukup belok kanan dan sampai.


"Turun," pinta Langit, sebelum ia juga turun.


Freya pun langsung disambut oleh Pak Samun, pedagang yang sudah di kenalnya.


"Tumben teh, mampir.." ucap Pak Samun, seraya menyilahkan Freya dan Langit untuk duduk.


Langit memperhatikan Freya dengan intens, wajahnya tak terlihat sangar seperti yang dibicarakan orang-orang di sekolah. Freya yang tak nyaman, langsung membuang muka.


"Pesen, Mang!"

__ADS_1


Freya terkejut, Langit baru saja berteriak. Pak Samun pun menghampiri, dengan tangan yang menggenggan satu sama lain, juga wajahnya yang ramah, menanti pesanan yang akan diucapkan Langit.


"Nasi goreng 2, es teh manis 3." pinta Langit.


Freya memijat keningnya, usai mendengarkan pesanan Langit. Pak Samun pun menggaruk belakang kepalanya, tak paham maksud Langit. Jelas-jelas ini gerobak mie ayam, tidak ada tulisan nasi goreng.


"Pak Samun, aku yamin pake pangsit basah." celetuk Freya.


"Saya juga." sambung Langit, langsung menoleh ke arah Freya.


"Okedeh.." Pak Samun berlalu, mengeluarkan mangkuk dan langsung berkutik di gerobaknya.


"Kenapa kok tiba-tiba berenti di mie ayam?"


tanya Freya penasaran.


Langit mengetuk meja seraya tersenyum, lalu berkata, "Tempat ini, kenangan kita."


Flashback On*


Kala itu Langit memakai setelan jas kantor, rapih dengan dasi bermotif garis warna biru laut. Ditatapnya sosok gadis, lugu dengan pakaian seadanya yang melekat di badan.


"Lain kali minta diajak makan di restoran mewah! bukan emperan seperti ini." tegas Langit dengan lantang.


Freya tidak marah, ia justru tersenyum, seraya mengenggam tangan suaminya, Langit Sebastian.


"Maaf.." sambung Langit, tanganya turut menggenggam, mengelus punggung tangan milik istrinya itu.


"Nggak perlu hidangan mewah. Mie ayam yamin tanpa dekorasi emas pun,masih nikmat di telan. asal, teman makanya kamu." Kata Freya dengan lembut.


Langit tersenyum, setelah mendengar ucapan Freya. Istrinya, berbeda dengan istri teman kantornya, atau bahkan istri-istri yang ada di kota ini.


"Hahaha, iya.." gelak tawa Langit, bersamaan dengan Freya.


Rupanya, Freya sudah hafal dengan kalimat yang sering di lontarkan Langit. Pujian yang tidak seberapa, namun sangat manis untuk menyentuh hati.


Flashback End*


"Kenangan apa?" Freya penasaran, menatap Langit yang masih tersenyum.


"Nggak perlu hidangan mewah. Mie ayam yamin tanpa dekorasi emas pun, masih nikmat ditelan. Asal, teman makanya kamu." ucap Langit, tersenyum seraya menatap dalam mata Freya.


"Maksudnya??" Freya ikut tersenyum, sembari mengikat rambutnya dengan karet gelang yang sudah ada di tanganya.


Tak lama, Pak Samun datang, menyajikan 2 mangkuk mie ayam, lalu datang kembali dengan 2 es teh yang sudah siap. Pak Samun pamit, mempersilahkan Freya dan Langit untuk menikmati.


"Itu lo yang bilang." celetuk Langit, sembari mendekatkan sambel untuk Freya.


"Loh, aku yang bilang?" sangkal Freya.


Langit mengangguk dan langsung menyantap mie ayam di hadapanya. Freya masih penasaran, tak mengerti maksud ucapan lawan bicara di sampingnya saat ini.


...


William Sunda Bukota, sudah berpindah markas dari sekolah, yang saat ini berada di rumah Dimas Bahtiar.


"Kalau dipikir, si Langit emang lagi kasmaran."


Celetuk Bima lebih dulu.

__ADS_1


Brian mengangguk setuju, dengan raut wajah yang seolah turut memikirkan.


"Yang kelas 11 siapa?" tanya Dito, kepada anak-anak WSB yang berkumpul satu denganya.


Salah satu anak berdiri, Agil Pratomo. Disusul Deon yang ikut berdiri. "Saya bang," ucap Agil.


Dito langsung mendekat, menatap Agil lalu bergantian menatap Deon. "Lu juga?" tanya Dito.


"Nggak, mau kencing." balas Deon, langsung berjalan keluar rumah Dimas.


"Bocah sial*** woi, jangan kencing di depan!"


Teriak Dito. Deon pun langsung berlari, masuk kembali ke dalam rumah Dimas. Terburu-buru menuju kamar mandi.


Rangga tertawa kecil, kemudian beranjak berdiri, menghampiri Dito dan Agil. "Freya ini lumayan terkenal kan di angkatan lu?" Ucap Rangga seketika.


Dito langsung menoleh, "Kok lu bisa tau?" bertanya pada Rangga.


"Jelas tau, orang dia banyak yang ngincer, primadona kelas 10." jelas Rangga.


Agil mengangguk, "Bukan lumayan lagi, dia beneran udah terkenal." tambah Agil.


"Apanya yang bikin terkenal?" tanya Dito.


"Geulis,sopan,pinter." jawab Agil.


*Plokk plokk .. plokk!


Suara tepukan tangan dari Brian, meminta semua anak WSB untuk fokus pada dirinya.


"Udah sini, gue mau umumin penting." tegas Brian kemudian.


Dito, Rangga dan Agil pun langsung berbalik badan, mendekati Brian. Begitupun yang lain, langsung menghentikan aktivitasnya, terfokus pada Brian.


"Pesta Alsaka 2 hari lagi, lu semua pada tau kan?"


Bima mengangguk, Dito meminta Brian untuk melanjutkan kalimatnya, sembari mengeluarkan rokok dari saku seragamnya.


"Kita diminta buat bawa cewek." imbuh Brian.


Sontak, keadaan jadi gaduh, mereka seperti kumpulan ikan yang baru saja ditaburi pelet.


"Siapa aja bawa, Langit bilang gitu." ucap Bima.


Brian menoleh ke arah Bima, menunjuk Bima kemudian mengangguk. "Bener. Makanya, siapin dari sekarang. Inget, jangan malu-maluin!" tegas Brian.


Dito yang asyik menghisap rokok pun menyela, dengan mengangkat tangan kirinya keatas.


"Kenapa Dit?" Tanya Brian.


"Sial** gue baru aja putus gara-gara lo semua nggak setuju." pungkas Dito.


"Ah udeh, kita bawa aja gank nya Agnes." Sahut Bima.


Yang lainpun tepuk tangan, mengangguk setuju dengan ucapan Bima. Mereka tau, kalau Gank Agnes terkenal dengan anggota cantiknya dan body mulus. Walaupun sedikit nakal, tapi sepadan dengan keadaan mereka, William Sunda Bukota, sang pembuat onar.


"Oke jadi besok agenda kita, ngundang Agnes sama temen-temenya." Pungkas Brian.


****

__ADS_1


__ADS_2