
Malam hari, saat di rumah Baskoro. Ia sedang duduk di ruang tamu, sambil memegang erat ponsel di tangannya. Menunggu kabar persetujuan dari pak bagas.
Tidak lama kemudian, suara ponselnya berdering. Baskoro langsung cepat menerima teleponnya. Pak Bagas menyetujui kerjasama dengan Baskoro. Wajah Baskoro yang awalnya tegang menjadi senyum merekah saat mendapat kabar itu.
Pak Bagas langsung mengirimkan uang ke rekening Baskoro.
Tring....!!!
Suara nada dering tanda rekening masuk di ponselnya. Saat melihatnya, Baskoro membelalakkan matanya. Uang yang di sepakati hanyalah 10 persen masuk ke rekeningnya. Ia marah kepada Bagas, ini tidak sesuai dengan keinginannya.
"Apa ini! Kenapa uangnya hanya seratus juta? Ini tidak sesuai kesepakatan kita!" ucap Baskoro dengan nada marah.
"Kau seharusnya bersyukur, aku sudah memberimu uang. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Aku tahu semua akal busuk mu itu. Semua dokumen yang kau berikan padaku adalah palsu. Aku tidak mudah di tipu dan sebodoh yang kau kira. Kalau kau ingin mendapatkan uang lagi, bekerja lah di kantor ku. Tapi sebagai staf kebersihan. Aku memberimu kesempatan untuk tidak melakukan hal itu kembali," ucap pak Bagas sambil tersenyum di seberang telepon.
"Heh.. Kau mau mempermainkan aku! Bekerja di kantormu?" Baskoro sangat kesal, mengepalkan tangannya dengan erat. Rencananya kini telah gagal, mendapatkan uang 1 miliar hanya menjadi mimpi semata.
"pikirkan tawaran ku dengan baik-baik. Selagi aku masih berbaik hati kepadamu. Telepon aku balik, kalau kamu berubah pikiran," pak Bagas langsung memutuskan telepon tanpa menunggu jawaban dari Baskoro.
"Argh....!!" Baskoro mengusap-usap kepalanya dengan kasar. "si*lan... Ke mana lagi aku mencari uang? Uang ini mana cukup," teriak Baskoro kebingungan.
Clara yang sedang belajar di kamar, akhirnya berjalan keluar kamar. Belajarnya terganggu, mendengar suara berisik dari bapaknya.
"Bapak, bisa diam tidak! Aku ini sedang belajar, besok ada ujian," kata Clara meminta bapaknya agar diam. Clara tidak ingin belajarnya terganggu karena besok ujian kelulusan SMA.
"Ujian?" tanya Baskoro dengan heran menoleh ke arah Clara.
"Iya pak, ujian nasional," jawab Clara dengan malas.
"Pak, sebentar lagi 'kan aku lulus SMA. Setelah lulus, aku mau lanjut kuliah, bapak mau kan biayai buat aku kuliah?" tanya Clara dengan melas dan bermanja ke Baskoro.
Baskoro hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Clara. Baskoro akhirnya terpikirkan memiliki rencana baru, kemudian tertawa jahat saat melihat anaknya itu.
"Apa sih, ada yang lucu!! Bapak mau kan biayai kuliah ku nanti?" tanya Clara lagi.
__ADS_1
"iya.. Iya.. Bapak akan biayai kuliah kamu. Tapi.. ada syaratnya, kau turuti apa perintah bapakmu ini jika ingin melanjutkan kuliah," kata Baskoro tersenyum menyeringai lalu menepuk-nepuk pundak Clara.
"Baik pak, aku akan menuruti perintah mu," jawab Clara ketakutan menunduk kepalanya, ia bergidik ngeri melihat bapaknya tersenyum begitu.
"Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar kamu bisa masuk kuliah. Masuklah ke kamar, lanjutkan belajar sana," Baskoro menyuruh Clara untuk belajar kembali.
...........
Suara jam weker alarm berbunyi nyaring, waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Membuat Adam yang setengah sadar terbangun, tangan kirinya meraba-raba di samping meja untuk menghentikan bunyi alarm.
Setelah itu, Adam ingin kembali tidur. Ketika hendak memejamkan matanya, Adam tersenyum menoleh ke arah dinda tidur dengan nyenyak sekali. Adam memiringkan tubuhnya menghadap dinda. Wajah mereka saling berhadapan dan berdekatan hanya sejengkal.
Adam mengamati wajah Dinda yang menurutnya begitu cantik dan manis jika tersenyum, memiliki kulit putih bersih, dan memiliki bibir tipis berbentuk bulan sabit nan merah muda.
Adam berpikir, mengapa ia mengabaikan perempuan yang begitu baik bagi dirinya. Adam hanya bisa menyesali perbuatannya dahulu. Kini, Adam akan memperbaiki dirinya menjadi lebih baik. Melakukan apapun untuk membahagiakan istrinya dengan setulus hatinya.
Saat tangan Adam terangkat hendak mengelus wajah Dinda. Tiba-tiba Dinda bergerak, Adam pun langsung segera berpura-pura tidur kembali.
Dinda membuka matanya dengan pelan, wajahnya berhadapan dengan Adam. Ia tatap wajah Adam dengan seksama. Wajah Adam begitu sempurna, memiliki rahang tegas, beralis tebal, warna bibir merah terang. Membuat Dinda terkagum, ia tak percaya memiliki suami seperti Adam.
Adam mendengar Dinda berbicara begitupun langsung tersenyum. Ia pun langsung membuka matanya.
"Benarkah aku sangat tampan? Sudah puas melihat wajahku?" Ucap Adam tersenyum manis kepada Dinda.
Wajah Dinda langsung berubah merah merona, dan jantungnya berdegup kencang jadi tidak karuan. Ia menjadi salah tingkah, ia membalikkan wajahnya dan langsung bangkit dari tidurnya. Dinda pun bersiap-siap mengambil bajunya di lemari untuk mandi subuh.
Adam terkekeh-kekeh, ia sangat puas membuat Dinda menjadi salah tingkah. Kemudian Adam duduk di ranjangnya, menunggu giliran untuk mandi.
...........
Matahari sudah menampakkan diri dari arah timur, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Adam dan Dinda tengah bersiap-siap menyiapkan buku kuliah masing-masing.
Adam berpakaian kemeja polos warna biru muda adalah warna kesukaannya, celana chino warna hitam dan sepatu kets. Sedangkan Dinda berpakaian muslim, atasan tunik dan rok panjang, berkerudung warna cream membuat wajahnya menjadi lebih bercahaya.
__ADS_1
Setelah semua sudah siap, mereka pun keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.
Saat di ruang makan, mereka makan bersama. Seperti biasa setelah makan, mereka berbincang sebentar sebelum memulai melakukan aktivitas masing-masing.
Pak Bagas pun bertanya kepada Dinda, "Apa kau mau melanjutkan kuliahmu?"
Dinda menganggukkan kepala dengan pelan.
"Baiklah, kalau kau mau melanjutkan kuliah. Soal biaya kuliah biar ayah yang akan mengurusnya nanti. Belajarlah dengan giat," pak Bagas menasihati Dinda menganggap seperti anaknya sendiri.
"terimakasih ayah," ucap Dinda.
Pak Bagas menganggukkan kepala.
Setelah itu, mereka berangkat ke tempat kerja dan kuliah. Adam dan Dinda naik taksi bersama. Sebenarnya Adam menawarkan kepada Dinda untuk berangkat naik mobil, tapi Dinda tidak mau.
Dalam perjalanan di dalam taksi, beberapa menit tidak ada obrolan di antara mereka. Tapi Adam memulai pembicaraan.
"Apa hari ini kau akan pulang cepat?"
Dinda menoleh ke arah Adam, "tidak tahu mas, nanti aku kabarin kalau pulang cepat."
"Kau bawa ponsel kan? Sini aku pinjam ponsel mu."
Dinda pun mengeluarkan ponselnya dari tasnya dan memberikan kepada Adam.
Adam mencoba menelepon lewat ponsel Dinda.
Ddrrrtt.. Ddrrrtt..
Ponsel Adam bergetar di celananya dan berikan kembali ponsel Dinda, "Simpan nomorku itu, hubungi aku jika kamu sudah pulang. Mungkin hari ini, aku akan pulang cepat karena pelajaran ku tidak terlalu banyak."
"Iya mas," ucap Dinda.
__ADS_1
...****************...