
Berdasar kejadian yang sebenarnya, Freya Adara, tahun 2004 saat hari pertama masuk kelas 11.
"Nggak mau berurusan sama WSB, jadi lupain aja." -Freya Adara
----------------------------------------
"Siapa sih yang nggak kenal Langit, udah legenda kali!"
Pungkas karin, tanganya mengepal geram setelah meletakkan mangkuk bakso di atas meja.
"Jadi itu cowok yang kamu suka?"
Tanya Freya polos, menanggapi pernyataan dari sahabatnya, Karin.
"Mustahil! nggak usah mimpi deh lo.."
Celetuk Gita, sembari menyuap bakso milik karin santai.
Karin yang berdiri dengan melenggakkan tanganya, menoleh kearah Gita, tatapanya lekat tajam.
"Eh enak aja! lepehin nggak bakso gue!"
Ucap Karin, nadanya meninggi. Beberapa murid yang juga berada di kelas turut menoleh kearahnya.
Dengan polosnya, Gita menuruti ucapan Karin, hendak memuntahkan bakso yang sudah ia kunyah itu kedalam mangkuk lagi.
"JOROK!"
Bentak karin, menjadikan suasana kelas gaduh. tanganya langsung menyerobot mangkuk bakso miliknya, menjauhkan dari jangkauan Gita.
Gita dengan wajah tak bersalahnya itu, menelan kembali hasil kunyahanya yang hampir dilepehkan.
"Gita ah, jangan gitu-- Heii pelan-pelan!"
Ucap Freya, tanganya mengusap punggung Gita yang baru saja tersedak makanan.
"Sukurin deh lo."
Pungkas Karin jutek, memicingkan matanya kepada Gita.
Gita tertawa, suara tawanya menggelegar sampai seisi kelas menoleh, entah kebisingan atau penasaran.
"Ih kok kamu malah ketawa! nih minum dulu.."
Celetuk Freya, sembari menyodorkan botol minum kepada Gita.
Tawa Gita mulai menyurut, tanganya menyeka air mata yang keluar begitu saja. Sekilas, ia memandangi wajah sahabatnya Karin, yang sedang menyantap bakso dari meja yang berjauhan. Sembari meminum air pemberian Freya, Gita kembali cekikikan tanpa alasan yang membuat Freya heran.
"Ah pusing gue lama-lama, nih Frey.."
Ucap Gita menyodorkan kembali botol minuman kepada Freya setelah meneguk isinya.
Freya tersenyum singkat, dagunya ditopangkan diatas botol minuman miliknya. Sembari memandangi kedua sahabatnya yang suka bertengkar tidak jelas.
"Lo nggak mau beli makanan lain?"
Tanya Karin disela dirinya menyantap makanan.
"Iya yuk ah, gue laper nih Frey.."
Celetuk Gita sembari memegangi perutnya, menatap Freya melas.
"Mm aku takut deh, gimana bilangnya ya.. kalau mangkuknya pecah."
Ucap Freya, mukanya menjadi cemas.
"Ahh! emosi lagi kan gue!!"
Respon Karin dengan nada keras, tanganya membanting sendok yang semula ia genggam.
"Loh? pecah?? kenapa?"
Tanya Gita penuh penasaran, menatap intens kedua sahabatnya itu.
"WSB lewat segerombolan, yang kulitnya coklat nyenggol Freya. Abis deh tu bakso sama mangkoknya tumpah pecah, PYARRR!"
Jelas Karin dengan emosi. Ia beranjak dari kursi sembari membawa mangkuk bakso bekas santapanya mendekat ke Gita dan Freya.
"Udah ah.."
Ucap Freya, menenangkan kedua sahabatnya yang tiba-tiba menjadi gaduh.
"Beneran deh ya! mentang-mentang kakak kelas jadi seenaknya terus!"
Seru Gita yang tiba-tiba beranjak dari kursi.
"Eh mau kemana lo?!"
Teriak Karin yang mendapati Gita hendak keluar kelas.
Freya mengerutkan keningnya heran, lalu ikut beranjak menyusul Gita yang pergi tiba-tiba.
"Kamu mau ngapain?"
Ucap Freya setelah menyusul Gita, tanganya menggenggam lengan Gita, menghentikan langkahnya.
"Nggak-nggak lupa gue.."
Balas Gita, sembari merangkul pundak sahabatnya, Freya. Lalu duduk kembali di hadapan Karin.
"Sumpah deh lo.."
__ADS_1
Celetuk Karin, memutarkan bola matanya malas.
"Yaudah baksonya dihabisin, terus temenin aku buat ganti mangkuknya yang pecah."
Pungkas Freya yang sudah kembali duduk.
"Udah nggak nafsu makan."
Sahut Karin, sembari menyibakkan rambutnya kebelakang.
"Yaudah, gue aja yang ngabisin."
Celetuk Gita, tanganya langsung mendekatkan mangkuk bakso di hadapanya. Lalu menyantapnya dengan lahap.
Karin tersenyum miring mendapati Gita yang makan seperti itu. Setelah menatap Gita sampai membuatnya kesal karena cipratan kuah dan suara kunyahanya yang menganggu, Karin menatap sahabatnya Freya, yang sedang termenung dengan raut wajah yang cemas.
"Frey!"
Seru Karin membuyarkan tatapan kosong Freya.
"Eh- hah? duhh Karin.."
Jawab Freya sedikit terbata dan terkejut setelah menerima tepukan keras dari Karin di pundaknya.
"Lo mikirin apa?"
Tanya Karin perhatian, sembari mengesampingkan poni Freya dibelakang telinga.
Gita yang asyik menyantap bakso pun ikut menoleh, menatap Freya.
"Ini nih, aku bingung gantinya berapa ya.. mana uang jajan cuma 3 ribu."
Jawab Freya dengan cemas.
"Aduh! lo nggak usah mikirin itu. Udah ayok ke kantin sekarang!"
Balas Karin sewot, lalu beranjak dari kursi mendekati Freya untuk mengajaknya ke kantin.
Gita yang melihat kedua sahabatnya yang sudah beranjak itu, langsung buru-buru menghabiskan kuah bakso. Lalu segera menyusul dari belakang, dengan mangkuk kosong ditanganya.
"Gila lo.. kuahnya nggak nyisa!"
Ucap Karin setelah menoleh kebelakang melihat Gita yang senyum-senyum polos.
"Udah ah.. jangan ribut terus,"
Pungkas Freya, memeluk pinggang Karin dari samping sembari terus berjalan menuju kantin.
....
Baru setengah jalan menuruni tangga, Langit dan kumpulanya sudah berada di tangga bawah. Freya dan kedua sahabatnyapun menyadari keberadaan mereka.
Pinta Freya tiba-tiba, menghentikan langkahnya diikuti kedua sahabatnya itu.
"Apaan sih, kok lo jadi penakut gini!"
Balas Karin jadi sewot, lalu langsung mengalihkan pandanganya menatap Gita yang berdiri polos dibelakangnya.
"Git, jalan duluan.. gue jaga Freya di belakang."
Perintah Karin, sembari bergeser kebelakang.
Gita mengangguk singkat, langsung menuruti permintaan Karin. Dengan berani dan santai, Gita berjalan duluan, meneruskan langkahnya menuruni tangga.
"Jalan Frey..!"
Seru Karin, dengan sedikit dorongan kepada Freya, memintanya untuk mengikuti Gita.
Akhirnya Freya berjalan kembali, mengekor di belakang Gita. Begitu juga Karin, menjaga Freya yang tampak ragu dari belakang.
"Permisi dong!"
Celetuk Gita hendak membelah kumpulan Langit yang duduk menghalangi jalan keluar tangga itu.
Langit dan para anggota WSB pun menoleh langsung ke arah Gita, lalu menatap sosok kedua teman dibelakangnya juga.
"Awas Bim katanya.. mau lewat mereka."
Pungkas Brian dengan sedikit tertawa.
Langit mendapati tatapan Dito yang melongo mengarah ke sosok cewek yang berada di tengah.
*PLAK!
Dito menoleh kesal, sembari memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Langit.
"Naon sih Lang?!"
Ucapnya sewot, melotot tajam kearah Langit yang duduk menyender di tembok.
Langit hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya, senyum jahil tanpa rasa bersalah menghias bibirnya.
Freya, Gita dan Karin yang baru saja menyaksikan tingkah konyol Langit dan temanya pun kembali fokus, meminta untuk diberikan jalan.
"Masih nggak ngasih jalan? bang misi."
Pungkas Karin dengan santai. Freya langsung menoleh kearah Karin, yang menyadari nada sewotnya keluar.
"Karin..."
Ucap Freya pelan, matanya memberi isyarat untuk tenang.
__ADS_1
Langitpun tersenyum miring, ia langsung bangkit berdiri, naik satu tangga mendekati sosok cewek yang berada di tengah, Freya.
Dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana, Langit mengeluarkan kata-kata yang membuat anggota WSB cukup terkejut.
"Hm, maaf yang tadi."
Ucap Langit, berbisik keras mendekat diwajah Freya.
Freya tanpa sadar langsung mundur, menjauhi Langit. Begitu juga Karin, yang langsung melindungi Freya.
"Loh, kok ngehindar?"
Ucap Langit lagi, dengan sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Freya yang bersembunyi dibalik Karin.
Gita pun tidak tinggal diam, tanganya langsung menarik lengan Freya. Menariknya untuk melewati paksa anak-anak WSB. Karin pun mengekor dibelakang Gita, dengan melangkahi kaki-kaki anak WSB yang menghalangi.
"Wiiih, Cantik...."
Goda salah satu anak WSB setelah Freya dan kedua sahabatnya berlalu.
Langit tersenyum sinis, setelah diabaikan begitu saja.
"Lu ngapain Lang minta maaf?"
Tanya Dito, menendang kecil kaki Langit yang masih berdiri diam.
"Itu cewek yang mangkoknya pecah gara-gara siapa tadi?"
Tanya Langit, menatap anggota WSB yang masih duduk santai.
"Lu kan Dit?"
Celetuk Rangga, sembari meyenggol Dito.
"Wildan!!"
Balas Dito sewot, tanganya langsung menjambak rambut Rangga kuat.
"Ah bang**t! sakit Dit!!"
Erang Rangga, sembari melepaskan tangan Dito yang menarik rambutnya.
"Wildan mana?"
Tanya Langit, tanpa menghiraukan Dito dan Rangga.
"Di kelas paling, kelas 10 kan masih sibuk.."
Jawab Bima santai, seraya beranjak bangun.
"Panggil."
Perintah Langit dingin, lalu langsung pergi melangkahi teman-temanya itu.
"Mau kemana Lang?!"
Teriak Dito setelah berhenti sejenak dari perkelahian kecilnya dengan Rangga.
Langit tidak membalas pertanyaan Dito, tanganya melambai kebelakang sembari terus berjalan.
Anggota WSB yang lainpun turut berdiri, hendak menyusul Langit yang pergi seenaknya.
"Panggil Wildan, suruh ke camp."
Perintah Bima kepada Anggota WSB ber strip 1 di seragamnya.
"Terus kita ngapain?"
Celetuk Brian.
"Ke camp. yang kelas 10 bisa balik ke kelas."
Jawab Bima sembari berlalu, dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
Sesuai perintah, anggota WSB pun membubarkan diri dari acara nongkrongnya dibawah tangga. Rangga dan Dito yang semula ribut pun mengekor Bima dan anggota WSB lainya, mereka berdua saling merangkul, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
...
Dilain sisi, Freya meminta maaf kepada Pak Joko, penjual bakso di kantin sekolah, yang mangkuknya pecah. Untung saja Pak Joko memahami kelakuan WSB, Sang pembuat onar.
Setelah celotehan panjang Karin, Pak Joko tidak meminta uang ganti rugi atas mangkuknya yang pecah. Senyum lebar mulai menghiasi wajah manis Freya. Pak Joko juga berbaik hati, menawari Freya untuk makan bakso gratis, tentu saja membuat Freya heran. Bukanya diminta untuk ganti rugi, justru ditawari bakso gratis.
Karena Freya tidak enak hati, ia tidak menerima tawaran Pak Joko. Gita yang cemberut, ekspresinya tidak senang ketika Freya menolak mentah-mentah rejeki.
Dilain itu, Karin mengatakan pada Freya, bahwa dirinya tidak lagi menyukai Langit Sebastian, ada satu orang yang kini ia sukai.
"Siapa?"
Tanya Freya penasaran, sembari menunggu Gita yang sedang jajan.
"Kali ini...... GANTENG! CAKEP BANGETT!"
Seru Karin dengan semangat, tanganya mengusap wajahnya sendiri gemas.
Freya tertawa melihat tingkah Karin yang mudah sekali pindah hati.
****
Flashback [END]
Begitulah kejadian yang sebenarnya, Bukan Langit yang bersikap ramah dan mengajak Freya berkenalan. Namun, Freya dan Langit justru memiliki kesan pertama yang buruk. Sama sekali tidak berkesan, Freya memutuskan untuk menjauhi Langit kalau bisa. Ia juga senang, mengetahui sahabatnya Karin, sudah tidak menyukai sosok Langit Sebastian itu, Sang pemimpin WSB.
__ADS_1