SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Tanpa Sengaja


__ADS_3

Setelah pertemuan mereka saat itu, Langit Sebastian menjadi lebih tertarik untuk mengenal sosok Freya Adara lagi.


Langit menyesal karena tidak sempat memuji kecantikan luar biasa Freya, selama menjadi istrinya.


Tidak dengan Freya saat ini, justru dirinya tidak terlalu menganggap serius pertemuanya dengan Langit.


---


"Kalau diperatikan beneran cantik-cantik ya kelas 10 itu,"


Pungkas Dito sembari menyenggol bahu Langit, memintanya untuk turut memperhatikan barisan anak cewek yang sedang apel penutupan orientasi itu.


"Apaan, nggak minat gue lu aja sono!"


Jawab Langit ketus, pandanganya mengarah ke taman belakang sekolah.


Dito yang menyadari tatapan serius Langit, langsung menatap kearah taman itu juga, namun ia heran karena tidak mendapati apa-apa untuk diperhatikan.


Dito menepuk keras punggung temanya yang duduk tepat di belakangnya, sehingga temanya tersebut menoleh kesal.


"Apa! main gebuk-gebuk aja."


Ucap Bima sewot.


"Ini tanya temen lu kenapa, malah nonton b*kep aja dari tadi."


Pungkas Dito tak kalah sewot.


Anak-anak lain yang berada satu kumpulan denganya juga turut memusatkan pandanganya ke arah Langit yang masih menatap kosong taman belakang sekolah, yang terkadang tersenyum tidak jelas.


"WOII!"


Teriak teman-temanya, sembari memukul-mukul tubuh Langit.


"Bang**t apaan sih hah?!"


Balas Langit dengan nada yang terdengar emosi, setelah beranjak berdiri.


"Kalem gob***, ya lu ngapain mantengin taman kosong gituan?"


Tanya Dito, begitu juga tatapan anak-anak kumpulanya yang masih serius menatapnya.


Langit yang tiba-tiba tersadar bahwa dirinya sudah melamun, segera duduk kembali bersebelahan dengan Dito, lalu dikelilingi teman-temanya yang lain.


Langit menatap mereka serius,


"Itu yang namanya Freya udah balik belom dari sana?"


Tanya Langit penasaran.


"Cewek yang bertiga tadi?"


Balas Dito, merespon ucapan langit.


"Iyalah, siapa lagi emang?"


Jawab langit memutarkan bola matanya malas.


"Belom,"


"Udah."


Langit menoleh kearah Dito dan temanya yang lain, bernama Rangga itu secara bergantian.


"Yang bener yang mana?"


respon Langit berusaha tidak terbawa emosi.


"Gua lah,"


Jawab Dito sewot.


"Nggak, emang bener mereka bertiga udah balik."


Celetuk Bima tiba-tiba.


"Lu ada bukti Freya beneran belom balik dari sana?"


Tanya Langit sedikit lebih memastikan pernyataan Dito, masih tidak percaya ucapan yang lain.


Anak-anak yang lain memalingkan pandanganya darang Langit malas, mereka melanjutkan aktivitas sebelumnya masing-masing.


Langit menatap heran kelakuan teman-temanya itu dan muncul perasaan bersalah. Karena merasa dirugikan oleh jawaban Dito, Langit memukuli tubuh Dito spontan, ditambah sedikit tendangan di pantatnya.


"Bim kan gue dari tadi disini, nah kenapa gue nggak liat?"

__ADS_1


Tanya Langit selepas menghakimi Dito temanya.


"Ya lu aja kencing lama, itu mereka udah pada balik tapi lu berdua masih kencing."


Jawab Bima santai sembari memainkan HP nya.


Langit kembali menatap tajam kearah Dito, hendak menusuk matanya dalam.


"Ini semua gara-gara lu boker kelamaan,"


Ucap langit ketus menatapnya malas sembari mengarahkan telunjuknya mendekati mata Dito.


"Lah emang kenapa lu sampe segitunya nungguin si Freya Freya itu?"


Tanya Rangga penasaran.


Langit menoleh kearah Rangga dengan tersenyum, ia menghampiri Rangga dan duduk berdempetan denganya, membuat Rangga risih.


"Gob*** homo, singkirin nggak tangan lu!"


Bentak Rangga kepada langit yang masih mengusap-usap paha miliknya yang dilapisi celana berwarna abu-abu itu.


"Anterin gue dong ke kelas Freya, kan lu kelas 11."


Pungkas Langit setelah menghentikan tanganya mengusap-usap paha Rangga.


"Kok jadi gua? nggak ah malas, ada Gita."


Jawab Rangga sembari menggeser posisi duduk menjauhi Langit.


Langit bergeser mendekat lagi ke Rangga, tanganya merangkul pundaknya kuat hingga membuat leher Rangga sedikit tercekik.


"Gita siapa?"


Tanya Langit sembari memiringkan sedikit kepalanya bingung.


"Gita.. ya Gita, lu nggak kenal tapi minta dianterin ke Freya?"


Jawab Rangga heran seraya menyingkirkan tangan Langit yang merangkulnya itu.


"Iya dong, hubunganya apaan Gita sama Freya?"


Balas Langit lagi dengan tenang.


"Bro, gua kasih tau nih yang agak gemukan disebelah Freya itu Gita, nah satunya lagi yang mukanya jutek itu Karin. Mereka berdua sama Freya itu legenda kelas 11."


Langit tampak bingung, ia langsung berdiri menghampiri Dito.


"Anterin gue ke legenda itu."


Pinta Langit dengan paksa menarik tangan Dito hingga tubuhnya ikut berdiri.


Dito dengan terpaksa menuruti permintaan Langit. Mereka berjalan meninggalkan kumpulanya yang masih asyik nongkrong itu.


"Lu mau ngapain Lang, gua males ah kalo urusan sama Karin--"


Celetuk Dito yang tidak bisa diam mengoceh sepanjang jalan menuju kelas Freya.


Langit tidak menggubris setiap ucapan yang dilontarkan Dito. Dirinya terfokus lurus kedepan, menaiki tangga hingga sampai ke depan kelas Freya.


"Ini kelasnya?"


Tanya Langit menoleh kearah Dito yang membelakanginya itu.


"Hah, iya ini."


Jawab Dito menoleh sekilas kearah Langit, dengan tanganya yang dimasukan kedalam saku celana.


"Sialan, kalau ditanya orang tua lihat kesini,"


*DUUGG!!


(Suara tendangan Langit di pantat Dito dengan keras)


"Arghhh!! aduh.. sakit Lang!"


Ucapnya sewot menghadap kearah Langit sembari memegangi pantatnya.


Langit tidak memperdulikan Dito lagi, matanya memperhatikan kedalam kelas, mencari sosok Freya itu.


"Mana, nggak ada!"


Ucap Langit kepada Dito. Pandanganya beralih ke arah koridor kelas yang terdapat banyak murid kelas 11, memperhatikan mereka yang sedang mengobrol santai.


"Itu, itu Lang!"

__ADS_1


Celetuk Dito tiba-tiba, tanganya menarik tubuh Langit sejajar denganya, menghadap lurus keberadaan Freya yang sedang berdiri memandangi Lapangan dari atas itu.


Langit menepis tangan Dito dari tubuhnya, lalu bergegas menghampiri Freya, cewek yang dicarinya itu.


"Kamp**t malah ninggal!"


Teriak Dito segera menyusul Langit.


Sampai pada akhirnya, Langit menatap Freya dari samping. Membuat Freya sedikit terkejut dengan keberadaan cowok disampingnya itu.


"Ada apa..?"


Tanya Freya dengan polos, sesudah menatap Langit dan Dito.


"Kenalan yuk,"


Pungkas Langit sembari mengulurkan tanganya kearah Freya.


Freya tampak ragu akan menjabat tangan sosok laki-laki yang kini dihadapanya atau tidak, matanya tak berhenti memandangi Langit dan Dito secara bergantian.


Murid-murid cewek yang juga berada didekat Freya pun menjadi heboh, berbisik setelah menyaksikan tingkah kedua kakak kelas mereka ini.


"I-iya boleh.."


Jawab Freya tertunduk, sembari menyalami tangan Langit.


"Gue Langit Sebastian, lihat sini dong.."


Pungkas Langit memperkenalkan diri, tanganya masih menggenggam tangan Freya yang terasa kaku.


"Freya.."


Balas Freya sembari mengangkat sedikit wajahnya, menatap Langit lebih berani.


"Lang tangan, gantian sama gua."


Celetuk Dito tiba-tiba menunjuk ke tangan Langit dan Freya yang masih bersalaman.


Freya menyadari dengan segera, tanganya langsung melepaskan genggaman tangan Langit.


"Maaf,"


Ucap Freya kepada Langit dan Dito.


Langit menatap kesal Dito, tatapanya tajam memberi isyarat akan menghabisi Dito setelah ini.


"Maaf buat?"


Tanya Langit tersenyum kepada Freya.


"Maaf, aku harus masuk ke kelas, permisi."


Jawab Freya setelah menundukkan kepalanya kepada Langit dan Dito, lalu segera masuk ke dalam kelas.


Langit menggaruk belakang kepalanya heran, menatap kepergian Freya yang tampak menggemaskan itu.


"Kelas 11 ipa 4, oke."


Ucap Langit pada diri sendiri setelah membaca papan tulisan yang terletak di depan pintu kelas Freya.


Langit segera berjalan tanpa mengingat Dito yang sedari tadi menatapnya heran. Dengan jaket kulit yang masih dikenakanya serta tangan yang dimasukan kedalam saku celana, membuat murid-murid sekitar yang dilewatinya melirik tertarik.


"WOII!"


Teriak Dito menyusul kembali Langit yang sudah meninggalkanya tanpa bilang apapun itu.


---


"Kalian kenal sama Langit Sebastian kelas 3?"


Tanya Freya kepada kedua sahabatnya itu yang sedang memoleskan kutek dikukunya masing-masing.


"Siapa?"


Respon Gita ikut penasaran, menoleh kearah Freya sekilas. Begitu juga dengan Karin, yang cuma menggelengkan kepalanya singkat.


"Ih..."


Dengus Freya sedikit kecewa, memalingkan wajahnya setelah menatap kedua sahabatnya itu yang masih asyik dengan kukunya.


Freya memikirkan sosok Langit Sebastian itu, ia menghela nafas panjang lalu bersandar ditembok, membiarkan kedua sahabatnya yang tengah menghias kuku.


--Disisi lain,


Dari dalam kelas yang sama dengan Freya, Sosok laki-laki menatap kearah Freya serius. Setelah mendengar nama Langit Sebastian dari obrolan mereka. Sosok laki-laki itu adalah, Samuel Gefaran yang merupakan adik dari Langit.

__ADS_1


---0---


__ADS_2