SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Rencana Merubah Keadaan


__ADS_3

"Lang, jangan lupa nanti malem kita janji temu sama anak alsaka."


Ucap Brian kepada Langit, yang saat itu sedang berada di parkiran, hendak pulang.


"Hah? janji temu??"


Tanya Langit tidak paham, sembari memakai helm ketika sudah berada di atas motor.


"Jangan bilang lu lupa, kita udah rencanain ini dari sebelum liburan."


Celetuk Dito yang berdiri disamping Brian. Anggota WSB yang lain pun ikut menatap Langit.


"Emang apa?"


Jawab Langit polos, sembari memasangkan kunci di motornya.


"Bang**t sebenernya lu liburan kemana sih Lang?"


Sahut Rangga sedikit emosi.


Bima yang semula berjongkok pun menjadi geram, ia bangkit lalu mendekati Langit.


"Palanya digebuk dulu euy, baru bisa waras!"


Seru Bima, dengan tanganya yang dikepalkan mengarah ke Langit, bersiap untuk dilancarkan.


Langit mengerutkan keningnya, tanganya langsung menepis kepalan tangan Bima yang mengarah dekat di wajahnya.


"Sial, gue baru inget. Minggir Bim.."


Ucap Langit santai sembari meluruskan standar motornya, lalu segera menghidupkan mesin.


"Langsungan Lang?"


Tanya Dito yang segera menghampiri Langit.


"Iya balik dulu, nanti malem kan?"


Perjelas Langit.


Anak-anak WSB yang semula duduk pun jadi turut berdiri, ketika Langit hendak melajukan motornya.


"Ati-ati Lang, jam 7 simpangan merpati!"


Pungkas Brian sedikit berteriak, saat Langit sudah melaju kencang keluar dari parkiran sekolah.


Brian dan Bima pun langsung menyusul Rangga yang menuju mobilnya, setelah kepergian Langit. Anggota WSB yang lain pun turut bubar, sebagian dari mereka juga langsung menaiki motornya.


----


Langit Sebastian POV.


Karena jalanan yang sepi, gue nggak terlalu memperdulikan keselamatan, ngebut sejadi-jadinya. Masih terbesit sosok Freya, perempuan yang bikin gue rindu bukan main.


Perlahan, gue sadar semua sikap buruk pas SMA. Dikelilingi William Sunda Bukota sama jadi incaran guru. Wajah-wajah mereka terutama, para dedengkot WSB. Susah buat ngenalin wajah mereka lagi pas udah tau gimana wajah tuanya, haha!


*Criiittt!!


"Sialan, Untung sempet nge-rem!"


Pungkasku kesal setelah melakukan rem mendadak, saat ada kucing yang melintas tiba-tiba.


Terlintas di benakku, untuk mengingat jalan ini. Aku segera menepikan motorku, memutuskan untuk berteduh sejenak di bawah pohon yang cukup besar. Jalan ini menjadi kenanganku bersama Freya, saat itu tahun 2010. Kalau tidak salah, acara reuni sekolah.


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri di bawah lamunanku. Hembusan angin yang cukup kencang menyadarkanku, meminta kembali fokus.


Intinya, gue nyesel sejadi-jadinya Frey.. Gue berharap bisa kasih kenangan manis buat lo, di kesempatan kali ini.


Batinku, sembari menghidupkan kembali mesin motor. Bergegas untuk pulang ke rumah, mengingat ada hal penting yang harus dilakukan.


----


Tampak senyum yang mengembang disetiap jalanan yang sudah dilaluinya, seolah teringat akan sesuatu hal manis. Sampai pada akhirnya, langit sampai di depan rumah, disambut oleh Pak Oyip yang dengan sergap langsung membukakan pintu gerbang untuk Langit masuk.


"Baru pulang den.."


Sapa Pak Oyip, sembari menutup kembali pintu gerbang.


"Iya nih, Sam udah pulang dari tadi ya?"


Tanya Langit, seraya mengacak-acak rambutnya sendiri setelah melepaskan helm yang dikenakan, lalu bergerak turun dari motor.


"Iya den.. langsung pergi lagi,"


Kata Pak Oyip, setelah menghampiri Langit sembari menerima kunci motor yang diberikan.


"Loh kemana?"


Tanya Langit lagi, yang sedang melepaskan kedua sepatunya asal.


"Kurang tau den.. nggak bilang den Samuelnya"

__ADS_1


Jelas Pak Oyip, langsung sigap menata sepatu Langit yang dilepas asal.


Langit langsung masuk kedalam rumah, langkahnya tertuju ke kamar. Pandanganya sempat mencari-cari keberadaan Bi Inah sebelum akhirnya masuk kedalam kamar.


Setelah mengunci pintu kamarnya, langit tersenyum lebar memperhatikan setiap sudut ruang dari kamarnya itu.


"Kamar ini, masa muda gue banget haha!"


Ucap langit pada diri sendiri, sembari melemparkan jaketnya sembarang tempat.



"Sial, sejak kapan gue betah di kandang kecoak gini.."


Pungkas Langit setelah menyaksikan seberapa berantakan kamarnya.


Saat pertama kali kembali di masa ini, tepatnya tadi pagi, Langit sama sekali tidak mendatangi kamarnya. Targetnya hanya untuk menemui Freya.


Karena sadar, daya ingatnya tidak terlalu bagus, Langit memutuskan untuk mengulas lebih jauh tentang dirinya lagi di masa muda, saat SMA.


Langkahnya mendekati setiap sudut ruang, memperhatikan poster dan foto di dinding kamarnya serta mengulas buku-buku yang berserakan di kamarnya.


...


Cukup lama Langit menghabiskan waktu di dalam kamar. Terkadang ia tertawa dan juga berteriak, membuat Bi Inah beberapa kali penasaran dengan hal yang dilakukanya. Jawaban Langit selalu sama saat ditanya Bi Inah, "keluar Bibi......."


Dari mulai teman-teman di masa SMA, mantan pacar, hobi dan kebiasaan dirinya, Langit mendapatkan kembali semua ingatan itu. Dengan jelas, berkat semua petunjuk sederhana yang ada di kamarnya.


Apa dulu gue terlalu breng**k ya? terus kenapa Freya nggak terlalu terkenang di masa SMA gue?


Sebelum makin banyak deretan pertanyaan yang terpikirkan di benak Langit, ia segera memutuskan untuk bersiap diri, hendak menepati janji temu sesuai dengan ucapan Brian.


Saat baru keluar dari kamar, Langit terkejut melihat sosok Ibu nya yang sudah berada di ruang tengah, dengan genggaman telfon di telinganya.


"Ma?"


Sapa Langit, sedikit tersenyum.


Ibunya yang menyadari keberadaan Langit, segera menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan untuk tidak berbicara dulu.


Langit mengerutkan keningnya heran, sembari berlalu meninggalkan sosok Ibu nya yang tengah asyik mengobrol di telfon itu.


"Aku bukan anak kecil kali ma, yang disuruh diem pas lagi telfon.."


Ucap Langit, nadanya mengeras dengan sengaja, agar seseorang yang sedang berbicara dengan Ibu nya ditelfon dapat mendengar.


Langit menoleh kearah jam dinding, mendapati sudah pukul 6 sore. Waktu yang berlalu cukup cepat, bahkan ketika dirinya cuma berada di dalam kamar seperti tadi.


Ucap Bi Inah ketika melewati Langit, sembari membawa segelas jus yang diperuntukkan untuk Ibu Langit.


Langit merespon Bi Inah dengan sebuah cengiran singkat. Saat itu juga, Ibu nya datang menghampiri, ikut duduk disampingnya sembari mengusap punggung anaknya itu.


"Gimana sekolahnya bang?"


Tanya Ibu Langit lembut, menatap dalam penuh kasih sayang.


Langit menoleh kesamping, tersenyum kepada Ibunya yang bersikap manis saat ini.


"Ma, kok bisa cantik gini?"


Goda Langit, dengan senyumnya yang berubah menjadi tawa jahil.


Ibu nya tertawa kecil, sambil menyematkan rambutnya dibelakang telinga.


"Kamu butuh duit ya bang?"


Pungkas Ibu Langit santai, berujung dengan tawaan.


Langit memicingkan matanya, kemudian tersenyum kembali menatap sosok Ibu dihadapanya itu.


"Langit pamit keluar dulu ya ma,"


Ucap Langit seraya mencium kening Ibu nya itu.


"Mau kemana? Abang tau kan mama jarang di rumah, kok abang malah pergi.."


Balas Ibunya, sembari menahan tangan Langit, menghentikan langkah Langit yang hendak beranjak keluar rumah.


*greeggeegek ...


"Nah itu pasti Papa atau nggak si Sam"


Pungkas Langit tersenyum, setelah mendengar suara gerbang yang di buka.


Dengan lembut Langit melepaskan tangan Ibunya yang menahanya, lalu bergegas jalan keluar pintu. Mendapati Samuel yang baru saja turun dari mobil.


"Darimana lu?"


Tanya Langit, seraya memakai kedua sepatunya.


"Kantor papa."

__ADS_1


Jawab Sam datar, langsung berlalu melewati Langit tanpa menoleh kearahnya.


"Bocah tengil sial*n!"


Celoteh Langit kesal, setelah menerima perlakuan dingin dari adeknya itu.


"Mau pergi den?"


Tanya Pak Oyip, yang ternyata sudah berada di hadapan Langit.


Langit mendongakkan kepalanya keatas, sembari mengikat tali sepatu.


"Kunci motor pak"


Ucap Langit, setelah beranjak berdiri.


"Oo iya sebentar den.. sebentar.."


Jawab Pak Oyip, langsung berlari kecil ke pos jaga dekat gerbang. Tak lama ia kembali dengan kunci motor digenggamanya.


"Ini den,"


Kata Pak Oyip, seraya memberikan kunci motor tersebut ke Langit.


Langit tersenyum singkat, sembari menerima kunci tersebut. Langkahnya langsung mendekat ke motor yang terparkir dihalaman rumah.


"Gerbang pak,"


Pinta Langit setelah menaiki motornya, tanpa mengenakan helm.


Pak Oyip langsung berlari dan membukakan gerbang untuk Langit. Disusul dengan deru motor yang dihidupkan,


*Tin!


Langit langsung melajukan motornya, keluar dari pekarangan rumah setelah mengklakson Pak Oyip. Jalanan nampak sepi pada saat malam hari, berbeda dengan keadaan 15 tahun mendatang yang sudah di alami Langit.


"Hiii dingin banget sial, mana gue nggak pake jaket.."


Langit mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sesekali dirinya menatap bangunan,rumah,taman yang di laluinya. Sampai pada akhirnya, tatapanya merendah, menyaksikan sekumpulan remaja laki-laki yang sedang berkumpul ramai.


WSB?


Sebuah pertanyaan ragu muncul dibenaknya. Langit hendak mendekati, yang diyakini itu adalah kawan-kawanya. Benar saja, sosok wajah yang dikenali Langit muncul berdiri, setelah tertutup punggung badan yang lain. Itu Dito, sudah pasti disana tempat janjian mereka.


Sulit untuk mengingat kembali momen-momen di masa lampaunya, saat SMA. Telfon genggam pun jarang yang punya, jadi sangat sulit untuk berkomunikasi. Insting adalah senjata yang digunakan Langit untuk bertahan di kehidupan keduanya ini.


Sekumpulan remaja laki-laki itu menyadari kedatangan Langit, dari suara motornya. Tak lama, Langit segera memarkirkan motornya, lalu menghampiri kawan-kawanya itu untuk bersalaman.


----


Selang beberapa waktu, Langit dan anggota WSB yang lumayan lengkap kehadiranya, di datangi oleh 3 orang laki-laki yang seusia.


"Bertiga?"


Ucap Brian, setelah beranjak berdiri.


Para anak-anak WSB yang lain pun turut berdiri, menyalami kehadiran 3 orang tersebut. Langit yang masih merokok, menatap santai dari atas motor.


Setelah perbincangan yang cukup akrab untuk pertemuan Alsaka dengan WSB, ke tiga orang tersebut pamit. Selembar amplop sudah berada di tangan Brian.


"Undangan?"


Tanya Bima yang ikut penasaran, langkahnya langsung mendekati Brian.


"Buka aja,"


Pungkas Langit, sembari menginjak puntung rokok bekasnya.


Tanpa menunggu lagi, Brian langsung mengeluarkan isi dari amplop coklat tersebut. Sebuah kartu undangan didalamnya, dan tertulis nama William Sunda Bukota dihalaman depan.


"Bener Lang, undangan.."


Pungkas Brian, sembari menyodorkan undangan tersebut untuk Langit.


Langit pun langsung membaca isi dari undangan tersebut, senyum miring ter ukir selepas membaca.


"Diundang ini kita,"


Ucap Langit, langsung menyerahkan kembali undangan tersebut ke Brian.


Ternyata maksud janji temu alsaka adalah untuk mengundang WSB turut hadir, dalam acara pesta malam. Terlintas di benak Langit, dirinya ingat menghadiri sebuah acara di malam hari, anggota WSB pun turut hadir.


Sebuah rencana terpikirkan oleh Langit, hendak mengubah jalan peristiwa di masa lampaunya itu.


"Terima Lang?"


Tanya Rangga, setelah ikut membaca isi undangan tersebut.


Langit pun tersenyum singkat, sembari menyalakan rokok yang sudah tersemat diantara bibirnya.


**

__ADS_1


__ADS_2