SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Kerjasama


__ADS_3

Hari menjelang siang, jam sudah menunjukkan pukul 10.25 wib. Di kamar, Adam sudah berganti baju dan bersiap-siap pergi ke kantor untuk mengantarkan dokumen ayahnya.


Adam memakai pakaian baju kemeja berlengan panjang polos warna biru muda dan celana kain warna hitam. Ia terlihat gagah seperti orang kantoran. Adam merasa sudah terlihat rapi, Ia pun bergegas keluar kamar.


Ketika Adam menuruni tangga, langkahnya terhenti saat ia melihat Dinda sedang duduk santai dengan ibunya sambil menonton televisi bersama. Mereka terlihat akrab, padahal baru sehari Dinda ada di sini.


Adam bahagia melihat keakraban mereka berdua. Mungkin ini langkah awal menuju keharmonisan antara mertua dan menantu. Karena Adam anak laki-laki semata wayang di keluarganya. Semenjak kehadiran Dinda di rumah ini, ibunya bisa mengobrol dengan leluasa sesama perempuan.


Adam berjalan melewati mereka berdua. Melinda pun menoleh dan menanyakan Adam hendak ke mana. Dinda pun ikut menoleh ke arah Adam.


"Ayah menyuruhku untuk mengantarkan dokumen ini ke kantornya," kata Adam sambil menunjukkan dokumen di tangannya.


"Apa kalian akan pulang cepat? Sebentar lagi waktu makan siang," tanya Melinda.


"Kemungkinan kami makan di luar, Bu," ujar Adam.


"Ya sudah kalau gitu. Heran deh, ayah mu itu kenapa masuk kerja di hari Minggu begini. Seharusnya kan dia libur kerja," oceh Melinda.


Adam mengangkat bahunya, "kalau gitu, Adam berangkat dulu."


Adam berjalan keluar rumah, namun langkahnya terhenti saat Dinda memanggilnya. Adam membalikkan badannya, kemudian Dinda menyalimkan tangan pada Adam.


"hati-hati di jalan mas," kata Dinda tersenyum kepada Adam.


Adam terdiam kaku. Punggung tangannya di cium Dinda dengan lembut untuk pertama kalinya.


"Mas.. Mas.. Mas Adam," Dinda melambaikan tangannya ke wajah Adam.


Adam tersadar dan mengerjapkan matanya, "Ah... I-iya," membalas senyuman Dinda.


Adam pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Dinda yang melambaikan tangan kepadanya. Kemudian ia menunggu taksi menjemputnya di depan rumahnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian taksi pun datang. Adam menaiki taksi, dalam perjalanan Adam memeriksa dokumen ayahnya. Ia melihat dokumen itu berisikan tentang kerjasama dengan perusahaan lain. Dokumen itu belum di tandatangani oleh ayahnya. Kemudian ia tutup kembali dokumen itu.


Selang 1 jam kemudian, Adam sampai di kantor ayahnya. Adam sampai di kantor lebih cepat karena hari Minggu, jalan menjadi lenggang dan tidak ada kemacetan.


Adam pun turun dari taksi di depan kantor ayahnya. Ia melihat ada sekuriti sedang berjaga di depan kantor.


.............


Saat di kantor, Baskoro sudah berada di ruang utama kantor bersama pak Bagas. Ia duduk di sofa berhadapan dengan pak Bagas. Tanpa basa basi pak Bagas langsung menanyakan tentang kerjasama yang di maksud Baskoro.


Baskoro menjelaskan ada perusahaan bernama Britania. Baskoro mewakilkan dari perusahaan tersebut Meminta kerjasama membangun sebuah proyek di salah satu pulau Kalimantan. Dan perusahaan pak Bagas sebagai investornya.


Pak Bagas baru mengetahui ada nama perusahaan itu. Ia tahu ini hanyalah akal-akalan Baskoro agar bisa kerjasama dengannya. Pak Bagas menanyakan kembali, mana dokumen dari perusahaan itu. Untuk membuktikan omongan Baskoro memang benar.


Baskoro mengeluarkan dokumennya dari tasnya. Lalu baskoro memberikan kepada pak Bagas. Kemudian Pak Bagas memeriksa dokumen itu, ia periksa satu-persatu isi laporannya. Ia terkejut isi dokumennya seperti dengan yang asli. Pak Bagas bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana dia mendapatkan semua ini.


Pak Bagas tidak ingin terkecoh, bisa saja dokumen itu palsu. Mungkin ini hanya karangan Baskoro saja agar ia mau berkerjasama.


Selama ini, pak Bagas meremehkan baskoro. Pak Bagas tidak menyangka ternyata Baskoro cerdik dalam melakukan hal ini.


"ini kesempatan kita jika proyek ini berhasil akan dapat keuntungan yang lebih banyak." sambungnya untuk meyakinkan pak Bagas.


Pak Bagas berpikir sejenak. Ia pun bertanya, "berapa dana yang akan di perlukan untuk mengerjakan proyek ini?"


Baskoro berpikir sambil memegang dagu.


"Ini kesempatanku untuk menaruh harga tinggi. Untuk sementara, aku akan meminta uang 1 miliar. Jika kurang, aku akan beralasan proyek ini kekurangan dana," pikirnya dengan tersenyum miring.


"1 miliar.." ucap Baskoro.


Pak Bagas terkejut mendengarnya, ini sudah di luar nalarnya. Uang yang begitu banyak di keluarkan untuk mengerjakan proyek ini. Sebenarnya dana pak Bagas masih banyak, tapi ia gunakan untuk keperluan perusahaan dan lainnya. Ia tak mau asal mengeluarkan dana yang tak begitu penting. Seperti proyek ini, padahal dokumennya palsu.

__ADS_1


Ia pun menawarkan untuk meminta waktu berpikir hingga malam. Jika sudah setuju, maka ia akan mengabarkan kepada Baskoro.


Baskoro yang sudah semangat, kini berubah menjadi lesu, "baiklah, aku akan menunggu kabar darimu."


Baskoro hanya bisa bersabar demi uang. Ia pun bangkit, lalu pergi keluar dari kantor pak Bagas.


Saat Baskoro sudah di luar ruang utama pak Bagas. Ia pun berpapasan dengan Adam yang hendak masuk ke ruangan kerja utama pak Bagas. Ia menoleh ke arah Adam.


"Anak itu mirip sekali dengan Bagas. Apa jangan-jangan dia adalah anak Bagas? Kalau dugaan ku benar, ini kesempatan ku juga untuk mendekatkan anakku dengannya," pikir Baskoro dengan tersenyum miring. Ia pun berjalan kembali kemudian masuk ke dalam lift.


Adam tersenyum saat Baskoro melihatnya.


.............


Ketika Adam sudah masuk ruangan ayahnya. Ayahnya sedang menelepon seseorang untuk membuntuti Baskoro.


"Ikuti orang yang baru saja keluar dari kantor ini, laporkan dan cari bukti-bukti semua tentangnya kepadaku. Aku tidak mau kekurangan informasi sedikit pun," Pak Bagas pun menutup teleponnya.


Adam sudah berdiri di depan meja kerja pak Bagas. Memberikan dokumen yang tertinggal. Adam melihat ayahnya sedang pusing memikirkan tentang kerjasama tadi.


Adam menanyakan apa ayahnya sudah setuju kerjasama dengan Baskoro. Ayahnya mengatakan belum dan meminta waktu sampai malam ini.


Adam menanyakan berapa uang yang di pintanya. Ayahnya mengatakan perlu uang 1 miliar untuk proyeknya. Adam terkejut, terlalu banyak uang yang akan di keluarkan. Tidak semudah itu memberikan uang itu dengan cuma-cuma kepada Baskoro.


Adam membantu ayahnya memikirkan caranya agar tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu.


Tidak lama kemudian, Adam menemukan solusinya. Adam mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Dengan cara ini, ayahnya bisa mendapatkan informasi tentang Baskoro lebih cepat. Ayahnya pun setuju dengan Adam mungkin ini ide yang bagus.


Adam tidak suka jika keluarganya di ganggu bahkan di permainkan oleh Baskoro. Maka ia pun akan membalasnya dengan caranya sendiri.


Adam menanyakan lagi dokumen yang di bawanya tadi kepada ayahnya. Ia penasaran apakah ayahnya akan menandatanganinya. Jika benar, maka saham perusahaan akan mengalami penurunan ke depannya.

__ADS_1


Adam ingin memberitahukan kepada ayahnya masalah ini. Ia tahu bahwa terlalu ikut campur masalah perusahaan ayahnya. Jika tidak di beritahu, masalahnya akan menjadi rumit.


...****************...


__ADS_2