
"Maaf ya, aku permisi.."
Freya berlalu, meninggalkan kedua kakak kelas yang tidak dikenalnya itu.
Brian dan Bima pun saling melempar pandangan. Brian langsung membuka lipatan kertas yang diserahkan Freya tadi, lalu membacanya.
"HAHAHAHA APAAN NIH?!" gelak Brian usai membaca.
Bima pun jadi penasaran, ia menyeringai dan langsung meraih kertas di genggaman Brian paksa.
"Salam kenal cewe cantik. Lo tau, diantara sekian banyak penghuni cewek di sekolah ini, cuma lo yang menarik perhatian Gue, Langit Sebastian." Ucap Bima, membaca isi dari surat tersebut.
Bima mulai mengerutkan keningnya, kemudian melanjutkan bacaan sampai tuntas. Di samping itu, sudah ada Brian yang tak henti-henti tertawa. Gelak tawanya yang seperti petir menyambar, menarik perhatian murid lainya yang berada sekoridor.
"Tunggu, Boleh kenalan? nanti jam 3 sore, ada cowok utusan yang bakal ngambil surat ini lagi.
Artinya lo bales ya." Ucap Bima lagi, membaca ulang kalimat yang sudah di bacanya dalam hati.
"Kan? gue aja nggak percaya Langit nulis surat ginian." Celetuk Brian, tersenyum miring.
"Langit minta di bales, tapi nggak ada balesan."
Bima heran, sembari membolak-balikkan surat di tanganya.
"Berarti di tolak!" gelak Brian kemudian.
..
Freya berjalan menghampiri kakak kelasnya, Alvian Saputra. Sembari tersenyum, Freya menepuk pundak belakang Alvin.
"Eh, udah dateng aja~"
Respon Alvin sesudahnya, tersenyum.
"Kak Alvin lagi ngapain?" sembari menyematkan rambutnya kebelakang telinga.
Alvin langsung menarik tangan Freya, duduk di bangku panjang sisi koridor. Tanganya langsung merogoh saku celananya.
"Nih, rumus pedoman." Ucap Alvin, menyodorkan sebuah buku memo kecil.
Freya pun langsung menerima memo tersebut, memperhatikan sekilas sebelum pada akhirnya bertanya.
"Maksud kak Alvin?"
"Simpen, buat kamu." Jawab Alvin. tubuhnya bergeser ke kanan, kemudian langsung berbaring di atas bangku tersebut dengan paha Freya sebagai alas.
"Ehh?!" Freya terkejut, tanganya otomatis terangkat ke atas, masih menggenggam memo pemberian Alvin. Matanya menatap Alvin yang terpejam, dengan kedua tangan yang di lipat di dada.
"5 menit. Aku capek banget Frey.." Keluhnya, masih terpejam.
Freya pun langsung celingak celinguk di sekitar koridor, mengkhawatirkan situasi ini. Ramai murid yang berada di sepanjang koridor ini, Freya khawatir, bagaimana kalau terjadi kesalahpahaman.
"K-kak Alvin.. sepertinya nggak bisa.." Ucap Freya ragu, masih menatap wajah Alvin.
Alvin pun tidak menggubris ucapan Freya. Entah ia benar-benar sudah tertidur, atau sengaja tidak menanggapi ucapan Freya.
"Beneran tidur ya?" Freya bergumam, senyumnya mulai terukir, pandanganya masih berjaga, takut ada yang mengawasi.
..
__ADS_1
"Lang!" Bima berteriak sambil menghimpit kepala Langit dengan ketiaknya. Tanganya langsung mengusap rambut Langit dengan cepat.
"Apaan sih bangs** lepasin nggak?!" Langit risih, tanganya berusaha melepaskan himpitan Bima yang kuat.
"FUAHHH HOSSH.. HOSSHH.. BAJING**!"
Nafas Langit tersenggal, tanganya langsung menarik kerah baju Bima. Dito tak tinggal diam dan langsung memisahkan.
"Nih, lu jelasin sekarang." Ucab Brian, sembari menyerahkan lipatan kertas, surat yang ditujukan untuk Freya itu.
Dengan cepat, tanganya langsung menyambar kertas tersebut, terburu-buru membuka lipatanya.
"Ditolak nih.. HAHAHA" Gelak Brian saat itu juga. Tampak wajah Langit yang kecewa, meremas kertas tersebut sebelum dilemparkanya asal.
Anak-anak WSB yang lain pun cukup dibuat heran. Langit menyeringai, tanganya berkacak pinggang dengan gagah.
"Pesta Alsaka berapa hari lagi?" Tanya Langit.
"2 hari lagi." jawab Rangga kemudian.
Langit mengangguk paham, seraya meraih jaket yang digantungkanya di pintu.
"Yuk cabut, udah mau balik." Pinta Langit.
Para anggota WSB pun menghentikan aktivitasnya, menuruti ucapan sang ketua, Langit Sebastian.
..
Jalan bergerombol, seperti hendak tawuran. Setiap anak yang berada di depan mereka pun langsung menepi, memberi jalan lebar, padahal ukuran lorong tidak terlalu luas.
Langit menghentikan langkahnya, begitupun yang lain. Tanganya diangkat keatas, memberi isyarat untuk menunggu sebentar. Kemudian Langit berjalan sendiri, melangkah mendekati Freya Adara yang terduduk di bangku lorong ini.
Freya tampak tak nyaman dan langsung beranjak berdiri, menghadap Langit.
"Inget kan, siapa gue?" tanya Langit kemudian.
Alvin tak tinggal diam, ia pun ikut beranjak, berdiri di samping Freya yang masih menatap langit kaku.
"Santai, lu siapa?" Ucap Langit, usai mendapat tatapan sinis dari Alvin.
Sementara itu, anak-anak WSB yang lain masih memperhatikan Langit.
"Ingat." Jawab Freya tegas tiba-tiba.
Langit langsung memajukan tubuhnya, menatap Freya lebih dekat, lalu tersenyum.
"Lo buat dia nggak nyaman!" bentak Alvin dengan tegas, tanganya sempat menghadang tubuh Langit, namun berhasil ditepis oleh Langit.
*TENGG! TENGG... TENG!
Sebelum suasana menjadi lebih serius, tiba-tiba bel sekolah berbunyi, pertanda jam pulang sekolah. Langit pun memundurkan tubuhnya kembali, meletakkan tanganya kedalam saku celana.
"Udah bel, nggak denger? pulang sana." Ucap Langit ditujukan pada Alvin.
"Lang.. nggak enak, banyak yang liat." Ucap Dito, begitu menghampiri Langit, tanganya langsung merangkul.
"Kenapa? kita kan biang onar haha!" Langit menoleh, menyunggingkan bibirnya kepada Dito.
Freya menunduk, tak tau harus berbuat apa.
__ADS_1
"Vin!"
Teriak seseorang, menghampiri Alvin dan langsung menyampaikan niatnya.
"Frey, langsung ke kelas, hati-hati pulangnya."
Pungkas Alvin, sempat menatap tajam Langit dan anggota WSB lainya, sebelum akhirnya pergi bersama orang yang menghampirinya itu.
Freya kembali bingung, ia tau kalau Alvin baru saja dipanggil oleh pengurus osis. Saat ini, dirinya berhadapan dengan sang pembuat onar sekolah, yang sudah ia kenal melalui cerita Karin, sahabatnya.
"Aku permisi.. harus ke kelas." pinta Freya, hendak melangkahkan kakinya.
Langit menghadang, tepat di hadapan Freya saat baru melangkah.
"Tunggu." pinta Langit.
"Semuanya duluan, temu di parkiran." Perintah Langit dengan tegas, kepada anak-anak WSB.
Dito berjalan duluan, kemudian disusul yang lain. Brian sempat menepuk pundak Langit dan berkata, "Jangan ngecewain." yang kemudian langsung diikuti gelak tawa Bima.
Kini tinggal Langit, memperhatikan gadis yang menunduk di hadapanya. Langit pun mengangkat dagu Freya perlahan keatas, tersenyum sesudah menatap wajahnya.
"Lo nggak mungkin takut kan sama gue?"
tanya Langit, usai membaca raut wajah Freya.
"Enggak! aku nggak takut sama kak Langit."
Sangkal Freya.
Langit menyeringai. Ia langsung mendekatkan kepalanya, mendekati bibir Freya, seperti akan menciumnya.
"Takut.." ucap Freya Pelan, matanya langsung terpejam.
"haha! terserah." Balas Langit, seraya mengacak-acak rambut Freya.
Freya mengintip sedikit, sebelum akhirnya membuka matanya lebar, menatap Langit kembali dengan berani.
"Apa yang buat takut?" Langit melembut.
Tak mendapat respon dari Freya, Langit langsung pada intinya, ia mengeluarkan kertas yang sudah lecek dari saku seragamnya, memberikan kertas tersebut pada Freya.
"Lo tau nggak? gue susah tidur nulis surat itu."
Sambung Langit.
"Ini surat yang dikasih Karin tadi kan? ternyata dari kakak kelas ini.." Gumam Freya dalam hati.
Freya langsung mengembalikan kertas tersebut pada Langit, ia menggelengkan kepalanya singkat.
"Aku susah menghafal wajah orang baru, jadi aku nggak tau surat ini dari kak Langit." Pungkas Freya.
Langitpun tertawa kecil, ia menempatkan kedua tanganya masuk kedalam saku celana. Menatap jelas sosok Freya.
"Liat sini, perhatiin baik-baik." pinta Langit, dengan suara beratnya.
Freya menuruti, menatap mata Langit langsung, sebelum mengerti apa maksudnya.
"Mulai sekarang, wajah ini yang bakal dominan di hidup lo." Ucap Langit, menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
****